Industri Kreatif Masih Miskin SDM Kompeten

Kamis, 04/10/2012

NERACA

Jakarta – Pemerintah mengakui, industri kreatif di dalam negeri sangat minim sebab tidak didukung oleh sumber daya manusianya. Demikian pula dengan industri animasi sebagai bagian dari industri kreatif bisa mengalami pertumbuhan yang cukup bagus apabila memiliki SDM yang cukup dan kompeten.

"Untuk animasi kita bagus, tetapi SDM-nya yang kurang. Itu yang kita kurang dan lemah," tutur Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu saat ditemui pada acara Pasar Indonesia Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (3/10).

Dia menilai, orang yang bergerak di industri kreatif terutama animasi tidak memerlukan pendidikan umum. Mereka membutuhkan wadah untuk berkreasi serta pengakuan dari pihak manapun. "Intinya menciptakan space di mana mereka bisa berkreasi. TV tolong dong beri program animasi dalam negeri," ungkapnya.

Mari beranggapan, industri kreatif tiap tahunnya bertumbuh. Industri kreatif seperti animasi, film, fotografi, musik adalah orang yang menciptakan konten. untuk itu, Kemenparekraf akan melakukan proses maturing atau mengakui keberadaan industri kreatif tersebut.

Mari menyebut, ada beberapa perusahaan Indonesia yang bergerak dalam industri animasi dan telah bekerja sama dengan perusahaan Korea. Animasi Korea membutuhkan waktu 10 tahun untuk berkembang. "Animasi ini yang paling mahal adalah idenya. Industri animasi ini memang masih kecil di dalam negeri," ungkapnya.

Dia juga mengakui, kontribusi industri kreatif terhadap perekonomian ditargetkan 7,5% pada tahun ini. Kontribusi terbesar industri kreatif adalah fashion sebesar 40,9%, sedangkan griya 40%. "Penciptaan lapangan kerja untuk fashion 4,5 juta dan griya 2,7 juta," paparnya.

Lebih jauh Mari mengharapkan perbankan, khususnya Bank Mandiri dapat menggaet industri kreatif serta mengembangkan wadah untuk terciptanya industri tersebut. Ia meyakini, mitra binaan akan menjadi nasabah potensial bagi suatu bank karena terciptanya community share value.

Dukungan Perbankan

Sementara itu, Menteri Negara Koperasi dan UKM Syarief Hasan menambahkan, perbankan seharusnya memberikan akses yang mudah untuk industri kreatif. Industri kreatif biasanya tidak mempersoalkan masalah suku bunga. "Untuk itu, perbankan khususnya Bank Mandiri dapat memberikan akses yang mudah bagi industri kreatif," harapnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan Industri animasi yang masuk ke dalam Industri kreatif saat ini sudah sangat berkembang pesat, dan menyumbangkan 7% ke Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Bahkan, saat ini industri animasi mulai dilirik dan dipesan pasar luar negeri.

“Pesanan mengalir karena kemampuan para animator nasional bisa diandalkan. Untuk animasi, sejumlah studio kita sudah mulai menerima pesanan dari Amerika Serikat, Jepang, dan sejumlah negara Eropa,” ungkap Hidayat.

Hidayat memaparkan industri film animasi di Hollywood AS mengakui kemampuan animator Indonesia. Lantaran itu, pengguna produk animasi di Tanah Air harusnya lebih berpihak pada karya-karya anak bangsa. Sehingga industri kreatif, khususnya animasi film, lebih berkembang dan dikenal luas di dalam negeri. “Dari aspek kemampuan sumber daya manusia, para animator Indonesia lebih unggul dibanding Malaysia,” katanya.

Di tempat yang sama, CEO Infinite Studios PT Kinema Systrans Multimedia, Mike Wiluan mengharapkan bantuan dari pemerintah di bidang edukasi, training sumberdaya manusia dan edukasi. Dia juga berharap adanya memberikan insentif fiskal sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan industri tersebut.Pasalnya insentif tax holiday yang diterbitkan dinilai belum mampu menjangkau industri animasi dan industri kreatif lainnya.

Hal itu disebabkan persyaratan untuk memperoleh insentif itu dinilai terlalu memberatkan dan rumit, terutama persyaratan investasi sebesar Rp1 triliun. “Investasi industri kreatif, contohnya animasi, tidak begitu besar. Yang paling dibutuhkan adalah kreativitas. Oleh karena itu, investasi sebesar itu tidak akan bisa dipenuhi pelaku industri,” katanya.

Oleh karena itu, menurut Mike, pihaknya meminta pemerintah memberikan kelonggaran kepada pelaku industri yang ingin memperoleh insentif. Dia menegaskan saat ini industri kreatif belum menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Padahal, Indonesia memiliki sejumlah potensi untuk menjadikan industri kreatif sebagai pendongkrak ekonomi bangsa, mulai dari sumber daya manusia dan keberadaan perguruan tinggi.

Menurut dia, industri kreatif terdiri dari berbagai bidang, seperti animasi, film, game, dan industri kreatif lainnya. Kondisi tersebut sangat berbeda bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Dia mencontohkan Malaysia memberikan insentif tax holiday 5-10 tahun, kemudahan pengadaan peralatan, dan subsidi biaya produksi.

Pasalnya, kata dia, tidak mungkin apabila Kinema sendiri yang mendorong pertumbuhan industri animasi. Saat ini, kata dia, ada 50-100 studio serupa di Indonesia. Dia mengklaim Kinema mempunyai studio terbesar di Asia Tenggara.

“Industri kami teknologi tinggi. Indonesia punya kemampuan sangat luar biasa. Berbagai film animasi yang kita tonton saat ini dikerjakan di Batam, seperti Garfield. Industri kreatif butuh dukungan untuk menciptakan kreatifitas pelaku. Ini tantangan yang harus kita hadapi bagaimana kembangkan SDM untuk lebih maju lagi,” jelasnya.

Namun, tegasnya, saat ini masih sulit untuk mengangkat lokal konten untuk diangkat ke kancah internasional karena sejumlah faktor terutama pendanaan. Dia menuturkan, pihaknya akan berupaya untuk melakukan pendekatan dengan lembaga penyiaran Indonesia agar bisa menemukan sebuah solusi. “Kita harapkan bisa bantu bangun karakter nasional,” ucapnya.

Dia menyebutkan, biaya produksi untuk satu episode selama 30 menit di Kanada US$300.000, Korea Selatan US$150.000, China US$85.000, sedangkan di Indonesia antara US$65.000-US$85.000. Kunjungan kerja Menperin tidak sampai disitu saja,setelah mengunjungi Infinite Studios PT Kinema Systrans Multimedia,Menperin mengunjungi PT Citra Tubindo Engineering yang bergerak di sektor pembuat kilang minyak lepas pantai.

Menurut Dirut PT Citra Tubindo Engineering, Chris Wiluan mengungkapkan Industri penunjang non migas diharapkan terus merangsek pasar yang bisa digarap. Setelah menyelesaikan order Total Indonesia senilai US$ 62,3 juta, Conoco Philiph US$ 24,7 juta dan Chevron US$ 16,2 juta kini CTBN akan menyelesaikan garapan proyek dari Exxon Mobil, Cepu berupa kontak pengeboran rig senilai US$ 100 juta lebih. “Kami akan menyelesaikan proyek rig Exxon Mobil di Cepu ini pada 2012 ini,” ungkapnya.

Lebih jauh Chris mengungkapkan banyak order yang masuk ke Citra Tubindo karena kemampuan yang dimiliki perseroan saat ini sangat memadai. “Dalam hal kapasitas terpasang, Citra Tubindo tidak diragukan lagi. Perseroan bisa melakukan lebih dari yang ada,” urainya.

Krisis Amerika dan Eropa ternyata tidak berdampak pada kinerja perseroan. Pasalnya, ekspor selama ini tidak ada yang dilakukan dengan negara-negar di AS dan Eropa. “Pasar ekspsor kami di Asia dan saat ini masuk ke negara-negara Arab,” imbuhnya.