Penjualan Semen Mortar Terkerek Lonjakan Properti

Kamis, 04/10/2012

NERACA

Jakarta—Pasar properti di Indonesia yang tumbuh pesat ikut mendongkrak penjualan semen perekat keramik. Apalagi pembangunan perumahan, apartemen, kondotel dan office tower terus tumbuh. Mortar sebenarnya adalah campuran semen, air, dan pasir, namun ada yang berpendapat bahwa mortar adalah bahan bangunan berbahan dasar semen yang digunakan sebagai “perekat” untuk membuat struktur bangunan.

“Ekonomi kita sedang bagus-bagusnya, karena itu pembangunan properti naik. Hampir semua properti menggunakan semen perekat keramik, tak terkecuali Perekat Keramik Standar MU-420,” kata Presiden Direktur PT Cipta Mortar Utama, David AL kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Namun David mengaku tidak ada investasi baru dalam produk terbarunya itu karena perusahaan mengoptimalkan kapasitas pabrik yang telah ada. “Ketika dunia memandang bahwa ekonomi Indonesia sedang menanjak, maka sudah saatnya kita meningkatkan kualitas produk,” tegasnya.

Saat ditanyakan berapa besa target penjualan semen MU-420, David belum bisa memberikan target tersebut. Masalahnya, pasar properti terus bergerak naik. Bahkan kapasitas semen di Indonesia yang sudah mencapai 50 juta ton pertahun dirasakan masih kurang. “Kapasitas itu dari 5 pemain semen besar di Indonesia. Pada 2013 diperkirakan mencapai 60 juta ton pertahun,” ujarnya.

Dengan pembangunan infrastustruktur yang makin tumbuh, lanjut David, maka peluang pasar semen perekat keramik ini terbuka lebar. “Apalagi kapasitas produksinya baru mencapai 850.000 ton per tahun,” ucapnya.

Sementara itu, Produk Manager Mortar Utama, Joni mengatakan saat ini sebanyak 99,3% masyarakat Indonesia masih menggunakan semen konvensional dalam memasang jenis keramik standar. Melihat peluang pasar di kategori ini masih sangat besar, PT Cipta Mortar Utama meluncurkan inovasi terbarunya, perekat keramik standar MU-420. “Kami optimis penjualan produk ini dalam kurun waktu lima tahun ke depan akan dapat menembus angka 200 ribu ton,” ungkapnya.

Menurut Joni, selama ini pemilik rumah cenderung menggunakan perekat dengan campuran pasir dan semen biasa. Ini merupakan pilihan yang kurang tepat. Tak heran jika hal yang paling sering dialami sebagian besar pemilik rumah, terjadinya lepas atau terangkatnya keramik (popping). “Kami ingin mengedukasi masyarakat kenyamanan dan kesehatan dalam rumah hal penting baru bagi keluarga. Karenanya, penggunaan perekat keramik standar yang lebih efisien dan ramah lingkungan penting untuk diperhatikan,” tandasnya.

Lebih jauh kata Joni, akibat minimnya informasi, pemilik rumah cenderung menggunakan perekat dengan semen biasa. Padahal itu merupakan pilihan yang kurang tepat. “Perekat dengan semen biasa tidak dirancang khusus untuk karakteristik keramik,” ucapnya.

Diakui Joni, untuk mengejar target penjualan, maka berbagai pendekatan telah dilakukan, yaitu dengan tetap fokus pada pasar material bangunan, ekspansi yang agresif pada jaringan distribusi, melakukan kampanye promosi yang agresif, sert strategi harga yang menarik. “Maka sejalan dengan sasaran ini, perekat keramik MU-420 di pasar Indonesia dan untuk sementara ini akan dipasarkan di kota-kota utama Pulau Jawa dan Bali, serta propinsi Sumatera Utara, Riau dan Kepulauan Riau,” paparnya.