Impor Bahan Baku Plastik Capai US$ 6 Miliar

Kamis, 04/10/2012

NERACA

Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan kapasitas produksi industri hulu bahan baku plastik. Pasalnya sampai saat ini kebutuhan bahan baku plastik terus meningkat tajam yang diantara lain untuk pembuatan kaca film dan botol air mineral. Secara total kebutuhan bahan baku plastik yang diimpor mencapai Rp US$ 6 miliar per tahun.

“Tantangan yang dihadapi oleh industri kimia yang termasuk didalamnya industri plastik dan karet adalah semakin ketatnya persaingan ekspor terutama di pasar Eropa yang mengalami krisis sejak beberapa tahun terakhir,” kata Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto mengatakan saat di hubungi Neraca, Rabu (3/10).

Lebih jauh lagi Panggah memaparkan, hal ini tampak pada ekspor produk industri termasuk industri kimia pada semester I tahun 2012 yang mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan, namun diharapkan bahwa upaya restrukturisasi perekonomian Eropa tidak berlangsung lama agar dapat segera membuka peluang ekspor dari berbagai komoditi industri kimia.

Karena itu, menurut dia, industri nasionai dituntut untuk terus meningkatkan daya saing melalui berbagai upaya efisiensi. Untuk itulah, maka kebijakan pernbangunan industri kimia difokuskan pada,Penguatan struktur industri kimia mulai dari sektor petrokimia hulu melalui pernbangunan nafta cracker maupun refinery yang diintegrasikan dengan hilirnya.

Selanjutnya, ujar Panggah, promosi investasi melalui fasilitas pembebasan pajak penghasilan (tax holiday), keringanan pajak (tax allowance), keringanan bea masuk terhadap barang modal, dan fasilitas bea masuk ditanggung pemerintah.

Salah satu upaya untuk menjawab permasalahan ini adalah melalui pengembangan industri kimia nasionai yang mampu memberikan nilai tambah yang optimal di samping untuk memenuhi kebutuhan domestik yang terus meningkat dan selama ini dipenuhi dari impor.

Sejak awal tahun 2000, Industri kimia di Indonesia telah berkembang seiring dengan berrumbuhnya perekonomian nasionai, dan kini menjadi salah satu pilar pernbangunan industri manufaktur di samping industri otomotif, industri olahan berbasis sumber daya alam.

Pergeseran secara bertahap dari keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif mulai tampak pada upaya-upaya pemanfaatan nilai tambah dari potensi sumber kekayaan berupa minyak dan gas, serta berbagai potensi hasil pertanian guna menghasilkan nilai tambah yang optimal.

Berbagai produk industri kimia seperti ban, keramik, tekstil, kemasan plastik dan cat telah berhasil menembus pasar internasional dan memberikan kontribusi terhadap perolehan devisa negara. Industri-industri andalan tersebut diharapkan terus melakukan pengembangan dalam penguasaan pasar maupun kemampuan teknologi yang semakin efisien.

Pusat Manufaktur

Sementara itu, Direktur Sales dan Marketing PT Pamerindo Indonesia, Astied Julias mengungkapkan, untuk menggenjot industri bahan baku plastik dan karet, akan mengadakan pameran plastik dan karet Indonesia akan kembali hadir pada 10 – 13 Oktober 2012 untuk menyajikan peluang bagi pabrik-pabrik pengolahan dari seluruh Indonesia dan negara-negara di Asean untuk mendapatkan hal-hal terbaik dalam teknologi, inovasi, mesin canggih dan solusi pengolahan.

“Indonesia telah bangkit sebagai pusat manufaktur global dan industri plastik dan karetnya berubah dengan pesatnya untuk melayani diversifikasi berbasis industri yang kian bertambah. Walaupun banyak tantangan ekonomi global, ekonomi Indonesia diprediksi akan bertumbuh 6,4% hingga akhir tahun ini dengan Foreign Direct Investment (FDI) diharapkan mencapai US$206,8 triliun,” kata, Astied.

FDI, menurut Astied, menggambarkan Indonesia sebagai pasar yang menjanjikan dan menarik untuk industri pengolahan plastik dan karet.“Pameran plastik dan karet Indonesia 2012 akan menyediakan akses ke teknologi dan solusi yang sangat dinantikan dengan memfasilitasi peningkatan efisiensi industri manufaktur,” ujarnya.

Pada pameran plastik dan karet Indonesia tahun lalu, lanjut Astied, telah meningkatkan pertumbuhan industri plastic dan karet karena 595 perusahaan dari 39 negara ikut berpartisipasi. “Dengan lebih dari 11.800 pengunjung dan pembeli berpotensi tinggi di kawasan yang mengunjungi pameran tersebut, pameran plastik dan karet Indonesia telah menjadi pusat kegiatan regional. Tahun ini, pameran plastik dan karet mampu menarik perusahaan asal Austria, Jerman dan Itali,” paparnya.

Astied menambahkan, 130 produsen asal China, Taiwan dan Korea Selatan menjadi perusahaan yang terus berpartisipasi dan menonjolkan kualitas produknya. “Produsen asal China, Taiwan serta Korea Selatan diikuti oleh industri manufaktur dan distributor andalan seperti Bilplast, Cendrawasih, Dwi Jaya Mandiri Cemerlang, Fira Engineering, First Machinery, Herman Industries, Jayatama Teknik, Karyataruna Perkasa, LS Mtron, Plasticolors Eka Perkasa, Purytek Tunggal Prima, Ria Sarana Perkasa Engineering, Yoewono Jaya Mandiri dan Web Control,” pungkasnya.