TDL Naik 15%, Daya Beli Anjlok

NERACA

Rencana pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL) mulai Januari 2013 sebesar 15%, dikhawatirkan akan membuat daya beli masyarakat dan daya saing produk Indonesia akan anjlok. Dengan kenaikan tersebut, pengeluaran baik dari masyarakat maupun industri akan menjadi lebih besar.

Pengamat ekonomi dan bisnis Handito Hadi Joewono, mengatakan, ekonomi dunia tengah melesu akibat krisis keuangan yang mendera negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa dan juga Jepang.

Kondisi ekonomi global yang kurang menguntungkan dan ditambah kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap dunia usaha, dipastikan daya beli masyarakat kurang dan daya saing produk Indonesia rendah sehingga berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Itu akan membuat daya beli dan daya saing kita berkurang. Ini yang harus saya ingatkan. Peta ekonomi dunia sedang lesu. Ini jangan sampai menjadi faktor pemicu daya beli dan daya saing berkurang,” kata Handito, Senin (24/9) di Jakarta.

Kenaikan yang dilakukan oleh pemerintah, akan diterapkan secara bertahap dan tidak memberatkan masyarakat. Pemerintah beralasan kenaikan TDL yaitu untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan pasokan listrik khususnya untuk daerah, pembangunan infrastruktur, mengantisipasi kenaikan kurs rupiah terhadap dollar Amerika. Dari rencana itu, pemerintah membutuhkan dana tambahan yang sebelumnya Rp 60 triliun menjadi Rp 93 trilun.

Pemerintah menjamin pelanggan rumah tangga yang memiliki daya sebesar 450 volt ampere dan 900 volt ampere tidak akan terkena kenaikan TDL. Namun menurut Handito, justru masyarakat menengah ke atas yang menjadi penopang ekonomi Indonesia dengan daya beli yang tinggi.

“Justru dari masyarakat menengah ekonomi Indonesia terjaga. Seharusnya mereka jangan diganggu dengan hal seperti ini (kenaikan),” tegasnya. (agus/dbs)

Related posts