Apindo Protes Kenaikan TDL 15% Mulai 2013

Golongan Rumah Tangga Lebih Banyak Pakai Listrik

Sabtu, 06/10/2012

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memberikan reaksi keras terhadap rencana pemerintah untuk menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 15% mulai 2013 karena menjadi beban berat yang harus ditanggung oleh kalangan industri.

NERACA

"Bagaimana kita bisa bersaing dengan negara lain jika apa-apa dinaikkan, industri hanya menggunakan 33-35% listrik, sedangkan selebihnya rumah tangga yang menggunakan," kata Ketua Apindo Sofjan Wanandi Jakarta, Selasa (11/09).

Pemerintah bersama DPR pada Senin (17/9) menaikkan TDL sebesar 15% mulai Januari 2013. Kenaikan ini menyebabkan tarif tenaga listrik akan menjadi Rp814 per kWh dari Rp 729 per kWh.

Sofjan mengatakan kalangan industri hanya menggunakan listrik sebesar 33-35% dan selebihnya adalah rumah tangga. Sofjan menyesalkan sikap pemerintah yang terus menerus menjadikan industri sebagai penanggung beban negara."Industri itu berperan untuk semua.

Yang seharusnya disubsidi itu industri jangan harga dinaikkan semua, tahun depan (2013) listrik naik 15%, ada gas juga naik 35%, belum lagi tarif tol naik, jika begitu kapan kita bisa bersaing dengan negara lain," imbuhnya.

Apindo sebagai otoritas penampung aspirasi pengusaha dan kalangan industri melakukan berbagai macam cara agar kenaikan ini bisa diminimalisasi oleh pemerintah. Pihak Apindo sendiri nyatanya akan bertemu dengan PLN dan Parlemen alias wakil rakyat untuk mengadukan permasalahan ini.

"Sekarang kita rapat dengan asosiasi yang ada, kita juga akan berbicara dengan parlemen. 15% terlalu tinggi. 35% gas naik tahun depan. Kita harus melihat kompetisi kita pada barang-barang impor" katanya.

Sofjan tetap tidak setuju dengan cara pemerintah dan memberikan alternatif yang harus dilakukan pemerintah agar tidak memberatkan kalangan industri di Indonesia.

"Sedikitnya 40 juta rumah tangga yang menggunakan listrik harus naik lah sedikit bisa dinaikkan Rp. 5000. Jadi jangan industri yang menyubsidi rumah tangga. Padahal prioritas utama rumah tangga itu adalah pulsa HP, listrik diprioritaskan keempat setelah makanan, dan rokok, jadi tidak masalah dengan kenaikan Rp.5.000, setelah itu pemerintah jangan ragu menaikkan harga minyak Rp 500 saja. Itu sudah membantu kami," tuturnya.

Tidak Kena Kenaikan

Menteri ESDM, Jero Wacik mengakui sebanyak 39,18 juta pelanggan listrik tidak terkena kenaikan tarif dasar listrik yang direncanakan sebesar 15 persen pada 2013. Jumlah tersebut, katanya, berasal dari dua golongan rumah tangga yakni 450 VA sebanyak 22,17 juta pelanggan dan 900 VA sebesar 17,01 juta pelanggan. Mereka tetap mendapat subsidi tarif listrik.

Menurut dia, pelanggan rumah tangga 450 VA dan 900 VA itu akan menerima subsidi sebesar Rp37,08 triliun atau 47,2 persen dari kebutuhan subsidi listrik tahun 2013 sebesar Rp78,63 triliun.

Jero mengatakan, pemerintah merencanakan kenaikan tarif listrik sebesar 15 persen dengan kebutuhan subsidi tahun berjalan sebesar Rp78,63 triliun. "Apabila tidak ada kenaikan maka kebutuhan subsidinya mencapai Rp93,52 triliun atau terdapat penghematan Rp14,89 triliun terhadap subsidi tahun berjalan," katanya.

Namun, katanya, kalau ditambah subsidi 2011 hasil audit BPK senilai Rp7,31 triliun, carry over subsidi 2013 ke 2014 Rp5 triliun, maka kebutuhan subsidi listrik menjadi Rp80,94 triliun.

Pemerintah menegaskan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) tetap akan dibebankan kepada pelaku industri, kata Menteri ESDM, Jero Wacik saat ditemui di Gedung DPR Jakarta Senin (17/9). Pemerintah mengajukan kenaikan TDL sebesar 15% kepada DPR mulai Januari 2013.

"Untuk golongan pelanggan listrik yang rentan, kita sudah sampaikan tidak naik. Tapi bagi kelompok industri tetap naik lah," kata Wacik.

Dengan adanya kenaikan TDL tersebut, menurut dia, pemerintah mengakui akan ada biaya tambahan yang dikeluarkan industri. Namun jumlahnya masih tergolong sedikit. Kenaikan TDL akan dilakukan secara bertahap per triwulan atau bahkan setiap bulan agar tidak terlalu berdampak. "Kami tahu, biayanya akan bertambah sedikit, tapi kita juga izinkan mereka naikkan sedikit harga produknya," ujar Wacik.

Kelompok pelanggan kecil tersebut adalah golongan pelanggan di bawah 900 volt amphere (VA). Sementara untuk golongan di atas 900 volt tersebut dikenakan tarif baru. Rencananya pemerintah melakukan rencana tersebut sebesar 4,3% per triwulan, atau bila dirasa berat menjadi 1,5% per bulan

Hapus Subsidi

Ketua Umum Kadin Indonesia, Suryo Bambang Sulisto menginginkan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dihapuskan segera.

"Kadin mendukung pengurangan subsidi BBM, atau bahkan dihilangkan saja jika membebani," katanya, Senin (1/10).

Menurutnya, permasalahan subsidi bbm yang semakin bertambah akan menjadi pembahasan di rapimnas (Rapat Pimpinan Nasional). "Besok rapat ada pembahasan mengenai subsidi BBM juga," ucapnya.

Suryo mengatakan, persoalan BBM harus segera diselesaikan dengan kebijakan untuk menghilangkan subsidi. "Kami sangat prihatin subsidi semakin membengkak, dan mungkin ada kebijakan tidak populer untuk solusi," ujarnya.

Pada 2013, pemerintah telah mengantongi restu Komisi VII DPR untuk menaikkan tarif tenaga listrik (TTL) sebesar 15% dalam setahun, yang dilakukan secara triwulanan. Langkah kenaikan tersebut dilakukan sebagai bentuk penghematan anggaran subsidi.

(agus/dbs)