Pendidikan Yang Keliru Jadi Pemicu Tawuran

Kurikulum Perlu Diubah

Sabtu, 06/10/2012

NERACA

Pemerhati pendidikan menilai, perilaku brutal para pelajar terjadi lantaranada yang salah dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Dunia pendidikan di Indonesia kini sedang memasuki masa-masa yang sangat pelik. Hingga saat ini publik masih dikejutkan oleh peristiwa tindak kekerasan yang menyebabkan dua pelajar meninggal akibat tawuran. Alawy, siswa kelas X SMA Negeri 6, menjadi korban tawuran lantaran sekolah tempatnya mengenyam pendidikan bermusuhan dengan SMA 70 Bulungan, Jakarta Selatan pada Senin 24 September lalu.

Tak lama berselang, seorang pelajar SMA Yayasan Karya 66 Kampung Melayu Jakarta Timur, Deni Januar juga meninggal akibat sabetan senjata tajam pelajar lainnya yang terlibat dalam tawuran dengan SMK Kartika Zeni di Manggarai, Tebet, Rabu 26 September.

Hilangnya nyawa pelajar dan luka serius yang mereka derita menunjukkan tawuran pelajar tidak bisa lagi dianggap remeh. Peristiwa tersebut tidak bisa lagi hanya dikatakan sebagai kenakalan remaja, tetapi lebih kepada tindak kriminalitas.

Tawuran pelajar sudah berubah menjadi ajang balas dendam berbentuk kriminal. Para pelaku tawuran bahkan sudah sejak awal menyiapkan senjata dalam bentuk apa saja yang memang akan digunakan untuk menyakiti pihak lawan. Tentu saja senjata tersebut bukan sekadar assesoris. Senjata-senjata mematikan ini terbukti digunakan untuk menghabisi nyawa orang lain. Tidak mengherankan puluhan nyawa pelajar pada tahun ini melayang sia-sia.

Berdasarkan data Komnas Anak, jumlah tawuran pelajar tahun ini meningkat. Hingga bulan Juni lalu, tercatat sudah terjadi 139 kasus tawuran di wilayah Jakarta, 12 kasus menyebabkan kematian. Sementara pada 2011, ada 339 kasus tawuran yang menyebabkan 82 anak meninggal dunia.

Maraknya tawuran antarpelajar hingga menimbulkan korban jiwa, mengundang keprihatinan mendalam dari sejumlah tokoh di Tanah Air. Kemerosotan karakter para peserta didik yang berujung pada anarkisme ini cukup membuat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA. terhenyak.

Jati diri para pelajar sebagai insan terpelajar tidak lagi ditunjukkan dari prestasi yang gemilang dan memukau untuk memuaskan dan menerangi manusia-manusia di sekelilingnya, jati diri para peserta didik ini "menghitam" karena melanggengkan kekerasan.

Lalu, mengapa tawuran begitu akrabnya dengan para pelajar? Banyak pemerhati pendidikan menilai, kekerasan yang tak kunjung henti ini terjadi lantaranada yang salah dalam sistem pendidikan di Indonesia. Sehingga, sistem pendidikan yang keliru dapat memicu tawuran.

Beberapa di antaranya adalah beban kurikulum sekolah yang berat. Diakui atau tidak, kegiatan belajar saat ini menjadi beban yang dirasakan cukup memberatkan bagi siswa. Kurikulum pendidikan yang berat, seperti jadwal pelajaran yang terlalu padat, jam sekolah terlalu panjang dan terlalu pagi membuat siswa hanya memiliki waktu sedikit untuk refreshing atau bahkan tidak sama sekali. Akibatnya para pelajar mengalami kejenuhan, stres, yang lama kelamaan menjadi depresi. Rasa depresi siswa inilah yang diyakini mengakibatkan terjadinya tindak kekerasan oleh siswa.

Selain itu, kurikulum pendidikan lebih menekankan kepada aspek intelektualitas ketimbang kecerdasan emosional.Itu terlihat dari kebijakan pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional yang menetapkan bahwa standar kelulusan didasarkan pada hasil Ujian Akhir Nasional (UAN).

Padahal esensi dari menimba ilmu tidaklah berhenti pada sebatas pencapaian nilai. Dalam proporsi yang sesungguhnya nilai bukanlah tujuan kegiatan belajar itu sendiri. Seorang bahkan baru telah dikatakan belajar jika ada perubahan yang relatif permanen dalam perilakunya.

Akibatnya, pendidikan dinilai gagal membangun karakter. Kucuran anggaran pendidikan yang sangat besar disertai berbagai program terobosan sepertinya belum mampu memecahkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana mencetak peserta didik yang berkarakter.

Perlu dicermati,mata pelajaran yang terkait langsung dengan pembentukan karakter, yaitu pendidikan Agama, PPKn, dan Kewiraan sudah ada dalam struktur kurikulum. Namun faktanya,materi pendidikan karakter dengan formulasi yang disampaikan dirasa kurang tepat.

Pemerintah dan tenaga pendidik terjebak dalam menyampaikan materi mengenai pendidikan karakter yang hanya sebatas teori, lantas melupakan subtansi sebenarnya untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.Jika pemahamannya melenceng, pada akhirnya, mata pelajaran yang terkait langsung dengan pembentukan karaktertersebut hanya dianggap sebagai mata pelajaran yang diujikan, sehingga siswa menargetkan untuk mendapatkan nilai tinggi.

Seharusnya integrasi pendidikan karakter dalam mata-mata pelajaran yang dimaksud lebih pada fasilitasi internalisasi nilai-nilai di dalam tingkah laku sehari-hari melalui proses pembelajaran dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Pengenalan nilai-nilai sebagai pengetahuan melalui bahan-bahan ajar tetap diperkenankan, tetapi bukan merupakan penekanan. Yang ditekankan atau diutamakan adalah penginternalisasian nilai-nilai melalui kegiatan-kegiatan di dalam proses pembelajaran.

Melihat dampak yang diakibatkan oleh kerancuan kurikulum yang diterapkan di Indonesia saat ini, para pemerhati pendidikan mendesak pemerintah untuk mengubah kurikulum yang ada. Jika pemerintah tidak mengubah sistem pendidikan, dikhawatirkan, tindak kekerasan antar pelajar akan berkembang luas hingga ke daerah.