Mendorong Kemandirian Usaha Wanita Indonesia

Ketua Umum DPP Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi): Nita Yudi

Sabtu, 06/10/2012

NERACA

Zeal is a volcano, the peak of which the grass of indecisiveness does not grow. (Semangat adalah sebuah gunung berapi, yang di puncaknya tidak akan tumbuh rumput keraguan), sebuah ungkapan yang terefleksikan pada sosok wanitakelahiran Jakarta, 22 Juni 1964 silam. Dialah Nita Yudi, Ketua Umum DPP Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi), yang tanpa keraguan mendorong lahirnya 1 juta wanita pengusaha Indonesia hingga tahun 2014.

Ditemui di kediamanannya di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan, perempuan dengan nama lengkap Dyah Anita Prihapsari menuturkan bagaimana kiat agar wanita dapat sukses tanpa meninggalkan tanggung jawabnya.

Ada tiga hal yang dia lakukan sejak dirinya memimpin Iwapi pada 2010, jelas Nita akrab ia disapa, mengurai langkah kepemimpinannya. Pertama, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).

“Kita harus dapat meningkatkan potensi SDM untuk dapat berkompetisi menghadapi persaingan global,” ujarnya.

Kedua, kita harus memiliki kemampuan dalam memperluas networking dalam hal pemasaran, dan ketiga mendorong kemudahan akses bagi para anggota Iwapi dalam memperoleh permodalan, pelatihan, dan pemasaran dalam mengembangkan usahanya.

“Tiga point itu menjadi dasar kita dalam mendorong terwujudnya harapan kami pada lahirnya 1 juta wanita pengusaha pada 2014,” ungkap ketua dengan 20.000 anggota yang tersebar di 32 propinsi.

Tantangan menciptakan dan melahirkan pengusaha memang tidak mudah. Dia memandang hambatan kultural masih menjadi kendala. “Wanita Indonesia terkadang kurang percaya diri,” ujarnya, meskipun ia tidak menampik persamaan gender dengan munculnya sejumlah wanita yang berkiprah di pelbagai bidang yang diakuinya sangat membanggakan.

“Seorang perempuan kadang memiliki kelemahan, khususnya dalam manajemen keuangan,” ujarnya. Ia mencontohkan, bila seorang perempuan yang memiliki usaha lalu mendapat keuntungan dan tiba-tiba ada persoalan muncul, semisal anaknya sakit. Dia akan menggunakan uang hasil keuntungan tersebut untuk membiayai anaknya yang sakit. Dan ketika pada akhir bulan, dia justru mendapati seakan-akan usahanya tidak menguntungkan.

“Padahal sudah menguntungkan hanya dipakai untuk membiayai pengobatan anaknya,” ujar Nita, ini karena faktor manajemen keuangan. “Kadang-kadang perempuan sulit memisahkan uang dari usaha dan uang untuk kebutuhan rumah tangga,” imbuh pemilik dan pengelola Universitas Persada Indonesia-YAI (UPI-YAI) ini.

Namun dia sangat optimistis dengan kemajuan yang dapat dilakukan para perempuan Indonesia. Menurutnya, dari 52 juta jumlah Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM) di Indonesia, sekitar 60% didominasi dari kalangan perempuan. “Ini artinya yang menggerakkan perekonomian sebenarnya adalah perempuan,” ujar ibu dua orang putri, Dita dan Dini dari suami tercinta Yudi.

Karena itu ia mengharapkan kepada pemerintah untuk membuat kebijakan yang akan mendorong terwujudnya cita-cita bangsa, dengan memberi perhatian dan peluang yang lebih besar pada tumbuh kembangnya kemajuan para wanita pengusaha di Indonesia. “Kemampuan kami sudah teruji, ketika krisis moneter tahun 1998,” tegas pengurus Kadin Jakarta ini.

Saat para suami yang terkena PHK akibat krisis moneter, kata Nita, para Ibu mampu menciptakan usaha dan mampu menggerakkan lokomotif perekonomian bangsa dalam bertahan.

“Dunia usaha mikro dan kecil sangat berharap agar pemerintah dapat menggelontorkan kebijakan pemberian kredit usaha kecil yang tak lebih dari satu digit,” ujar Nita. Dengan kebijakan tersebut, maka dunia usaha kecil akan lebih bergairah dan tumbuh dari tahun ke tahun.

Kepada semua wanita pengusaha, dia pun mengimbau untuk bergabung dengan Iwapi yang tersebar di sejumlah provinsi. “Mari kita melangkah bersama, dalam satu irama dalam mengambil peran membangun bangsa yang tercinta ini, menuju masyarakat yang sejahtera,” ujarnya dengan komitmen bak volcano tanpa keraguan.