Drama BUMI belum Berakhir, Ari Hudaya Siap "Fight"

Rabu, 03/10/2012

PT Bumi Recources Tbk (BUMI) menjadi salah satu emiten yang fenomenal di lantai bursa. Berbagai spekulasi muncul dari para analis ataupun pihak luar yang berkepentingan maupun tidak, terlebih terkait adanya tuduhan penyelewengan dana dari Bumi Plc. Akan tetapi sayangnya, sampai dengan paparan publik insidentil yang diselenggarakan di Hotel Four Seasons, Jakarta (2/10), pihak manajemen pun tidak menjelaskan secara jelas terkait munculnya masalah tersebut.

Sebagai tokoh yang pernah menduduki kursi direksi di Bumi Plc dan saat ini menjabat sebagai presiden direktur BUMI, Ari Saptari Hudaya tidak menjawab secara lugas ketika ditanya soal langkah Bumi Plc yang akan melakukan audit investigasi terhadap BUMI. Apakah audit itu merupakan upaya pengambilalihan saham milik grup Bakrie atau ada upaya dari pemegang saham untuk menghancurkan sahamnya?

Justru dalam menghadapi permasalahan ini, Ari meminta kepada semua pihak, khususnya media untuk bersikap dewasa dan menilai sendiri terhadap apa yang terjadi. Bahkan mengenai rumor tersebut pun dirinya menganggap hanya sebatas emosional yang dibuat di ruang pemberitaan.

“Kalau pemegang saham menghancurkan perusahaannya sendiri apakah itu pemegang saham? Apakah itu pembahasan yang baik? Hei, kita sudah besar, jangan emosional. Silahkan judge. Saya meminta media untuk logic, “Whatever you write will affect my stakeholders,” tandasnya.

Ari menegaskan, jika aksi audit investigasi ini menjadi strategi salah satu pihak untuk mengambil BUMI, dia memastikan dirinya siap untuk melakukan apa pun untuk melindungi BUMI. Hal itu dilakukan karena dia mengaku terlibat secara emosional dalam pembangunan dan pengembangan BUMI, meskipun dirinya bukan sebagai pemegang saham. “Kalau ada kepentingan, saya akan cari, saya uber,” katanya.

Dia bahkan bersuara lantang terhadap rencana audit investigasi induk usahanya, Bumi Plc, perusahaan investasi kerja sama Bakrie, Samin Tan dan Nathaniel Rothschild. “Surat (itu) dilayangkan tanpa didiskusikan dengan manajemen. Apa ini mendidik atau tidak mendidik? Nilai sendiri!” katanya keras.

Bangun BUMI Kembali

Dalam kesempatan tersebut, Ari menegaskan bahwa mundurnya dia dari jabatan direktur di Bumi Plc lebih karena dirinya ingin membangun kembali BUMI Recources. “Di sana (Bumi Plc) sudah cukup dengan orang-orang berbobot. Kalau saya di Indonesia, saya akan lebih konsentrasi untuk membangun BUMI seperti dulu lagi,” ujarnya.

Ari menjelaskan pentingnya menjaga pertumbuhan produksi dan penjualan batubara. Bahkan, selain menjadi pemain batubara terbesar, BUMI berambisi mengolah mineral dan menyuplainya ke negara-negara yang membutuhkan. Dia mengklaim perusahaannya sebagai perusahaan nasional yang memiliki manajemen kuat sehingga dia menganggap rumor tersebut sebagai tantangan dalam upaya pengembangan usaha BUMI.

Terkait tudingan tentang adanya penyelewengan dana yang dilayangkan pihak Bumi Plc. yang mengkhawatirkan para investor, khususnya para investor minoritas, pihaknya meyakinkan investor bahwa sebagai emiten besar, sudah beberapa kali BUMI diterpa rumor, tetapi tidak pernah terbukti.

Dalam paparan publik insidentil tersebut, Direktur dan Sekretaris Korporasi BUMI Dileep Srivastava mengungkapkan bahwa pihaknya telah memberi penjelasannya ke bursa terkait empat poin yang sebelumnya diminta oleh pihak legulator.

Terkait total utang per 30 Juni 2012, emiten ini mencatat nilai total pinjaman ke sejumlah perbankan asing dan obligasi senilai US$ 3,78 miliar. Utang tersebut akan jatuh tempo mulai Juli 2012 hingga November 2016. Adapun pinjaman ke anak usaha, tercatat hingga 30 Juni sebanyak US$ 323,4 juta, dengan periode jatuh tempo mulai Desember 2012 hingga April 2016.

Sementara mengenai pelepasan anak usaha PT Mitratama Perkasa serta penjelasan penurunan peringkat utang, pihak BUMI mengatakan bahwa telah terjadi technical service agreement (TSA) antara KPC dan Bhira pada 18 April 2008. Selanjutnya, pada 1 Juni 2012 ada penandatanganan agreement for sales & purchase of share antara BUMI dan PT Sumber Energi Andalan Tbk. Dan pada tahun ini, TSA tersebut pun berakhir.

Pada 16 Agustus lalu, BUMI telah melakukan penandatanganan akta jual-beli saham. Seminggu kemudian atau pada 24 Agustus 2012, perusahaan melakukan keterbukaan informasi mengenai penjualan PT Mitratama.

Terkait penurunan peringkat utang dari awalnya B+ menjadi BB-, BUMI menyikapi hal tersebut dengan menjalankan beberapa strategi, seperti menggenjot produksi batu bara hingga 100 juta ton pada 2014 yang diyakini bisa meningkatkan EBITDA perusahaan.

Dileep mengungkapkan bahwa perusahaannya juga akan melakukan penurunan utang (deleveraging) hingga mencapai tingkat EBITDA sekitar 1 kali selama dua tahun ke depan. Saat itu, diperkirakan rasio utang terhadap EBITDA Bumi mendekati enam kali. (lia)