Fasilitasi Investor Jepang, BNI Buka Japan Desk

NERACA

Balikpapan - PT Bank Negara Indonesia Tbk membuka Japan Desk untuk memfasilitasi para investor Jepang yang ingin berinvestasi di wilayah Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur. Direktur Utama BNI, Gatot M Suwondo mengatakan, pihaknya menjadi penghubung antara investor Jepang yang ingin menanamkan modalnya di Indoensia.

“Tren ke depan menunjukkan bahwa negara-negara pemilik sumberdaya alam, seperti Indonesia akan semakin menyimpan material penghasil energi. Ekspor sumber energi akan semakin jarang, sehingga negara seperti Jepang yang miskin energi harus mencari negara yang sumber energinya berlimpah. Nah, semua kebutuhan itu ada di Kalimantan,” ujar Gatot di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (2/10).

BNI memandang Kalimantan merupakan kawasan yang sangat kaya sumber energi. Kawasan ini sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai wilayah tujuan pengalihan atau relokasi industri dari negara-negara yang didera masalah serius, terutama oleh bencana alam, seperti yang dialami Jepang.

“Kalimantan berada di tengah-tengah Indonesia sehingga memiliki akses yang sangat baik ke wilayah lain di dalam negeri bahkan hingga ke pasar Asia. Pasar Asia yang dapat diraih dari Kalimantan Timur (Kaltim), misalnya, adalah Malaysia, Filipina, dan Thailand, bahkan bisa mencapai Australia,” paparnya.

Khusus Kaltim, Gatot beranggapan bahwa daerah ini layak menjadi kawasan relokasi industri besar baik dari domestik maupun asing, termasuk Jepang, karena memiliki berbagai keunggulan. Pertama, Kaltim memiliki sumber daya minyak, gas, dan batu bara yang sangat besar, sehingga berpotensi untuk menjadi lumbung energi listrik nasional.

Kekuatan itu merupakan syarat utama pengembangan industrial estate. Kedua, Kaltim berada di luar jalur gempa bumi dan tsunami, sehingga relatif aman dari bencana alam. “Kalau mau, Jepang sangat terbuka untuk merelokasi industrinya. Asalkan kita siap dengan infrastrukturnya. Untuk itu, Kalimantan perlu pembangunan infrastruktur pendukung seperti pelabuhan, jalan, air bersih dan pembangkit listrik yang mencukupi,” tegas Gatot.

Tak hanya itu saja. Yang terpenting, kata dia, juga dibutuhkan pengembangan sumberdaya manusia (SDM), dan kebijakan atau regulasi yang mendukung iklim investasi antara lain soal tata ruang wilayah. Gatot menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kaltim masih selalu berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional, dikarenakan perekonomian provinsi tersebut masih bergantung pada komoditas tambang dan migas yang tidak berkelanjutan serta cenderung terus menurun.

Sebagai informasi, dalam lima tahun terakhir, kredit yang dikucurkan BNI pada pelaku usaha di Kaltim tumbuh rata-rata 14%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana yang mencapai 13%. Yang tercatat adalah senilai Rp3 triliun untuk Kaltim selama semester I 2012. Kredit juga diarahkan untuk Kalimantan Selatan (Kalsel) senilai Rp2,43 triliun, Kalimantan Tengah (Kalteng) Rp811 miliar, dan Kalimantan Barat (Kalbar) Rp1,44 triliun.

Related posts