Kemakmuran Indonesia Tergantung pada Pemanfaatan Iptek

NERACA

Jakarta - Duta Besar Australia untuk Indonesia Greg Moriarty mengatakan bahwa kemakmuran Indonesia di masa depan sebagian akan tergantung pada akses dan pemanfaatan ilmu pengetahuan oleh para pemimpinnya.

Dalam siaran persnya, Greg menyebut, ilmu pengetahuan sangat penting untuk inovasi dan pemecahan masalah yang akan menghasilkan solusi yang lebih baik untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh kalangan bisnis, komunitas dan rakyat Indonesia.

“Pentingnya riset demi kelangsungan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Indonesia tidak bisa disangkal lagi," kata Moriarty dalam pidatonya dalam konferensi bertajuk ‘Tracing Indonesia’s New Path: Revitalising Knowledge to Reduce Poverty’, Selasa (2/10).

Dalam konferensi itu, para pakar dan pemikir terkemuka internasional mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dan riset memainkan peran penting dalam pembangunan negara-negara berpenghasilan menengah.

Konferensi yang juga mengidentifikasi tantangan dan peluang untuk menggali sektor ilmu pengetahuan Indonesia itu merupakan komitmen Pemerintah Australia untuk memperkuat sektor ilmu pengetahuan domestik.

Bersama dengan Pemerintah Indonesia, lembaga pembangunan Australia AusAID telah mengembangkan inisiatif baru untuk menghasilkan riset lokal yang lebih berkualitas untuk memperoleh solusi jangka panjang yang akan memberi keuntungan bagi kaum miskin.

Inisiatif berjangka lima tahun senilai US$ 100 juta itu akan menyediakan pinjaman lunak dan bantuan teknis bagi lembaga-lembaga riset, menghubungkan riset dan periset dengan pembuat keputusan dan memperbaiki sistem dan regulasi untuk mendukung kebijakan pembuatan keputusan berbasis riset.

Lebih dari 150 partisipan menghadiri konferensi itu, mewakili lembaga swadaya masyarakat, Pemerintah Indonesia dan lembaga-lembaga riset dalam negeri.

Berdasarkan hasil kajian Bank Dunia, Indonesia adalah negara dengan kategori kelas menengah ke atas dengan pendapatan nasional bruto 2011 senilai US$ 4.530. Menurut Bank Dunia, Indonesia menduduki peringkat 119 dalam kajian tersebut.

Dalam survei yang diadakan pada 2011, Bank Indonesia mengatakan bahwa booming ekonomi Indonesia telah mengubah rumah tangga kelas menengah menjadi lebih kaya, dengan naiknya kekayaan bersih, aset,pendapatan dan kemampuan untuk membayar pinjaman.

Survei itu juga menemukan bahwa kelas menengah di Indonesia mencakup 60,9 persen dari total populasi, sementara kelas pendapatan rendah dengan pendapatan bersih di bawah Rp 20,4 juta per tahun mencapai 22,1 persen dan sisanya 17 persen adalah mereka yang dikategorikan memiliki pendapatan tinggi lebih dari Rp 65,6 juta per tahun.

BERITA TERKAIT

CISFED: Demokrasi Aksesoris Ancaman Bagi Indonesia

CISFED: Demokrasi Aksesoris Ancaman Bagi Indonesia NERACA Jakarta - Secara umum praktik demokrasi yang berjalan saat ini sekadar demokrasi aksesoris…

Indonesia Dinilai Tak Alami Bubble Sektor Properti

      NERACA   Jakarta - CEO dan pendiri perusahaan pengembang Crown Group, Iwan Sunito, mengatakan, Indonesia tidak mengalami…

Indonesia-Australia Jajaki Tarif BM Nol Persen - Perdagangan Bilateral

NERACA Jakarta – Indonesia dan Australia tengah menjajaki kerja sama bilateral untuk pemberlakuan tarif bea masuk nol persen (0%) terhadap…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Infrastruktur jadi Senjata Pemerintah Atasi Middle Income Trap

      NERACA   Jakarta – Indonesia digadang-gadang akan keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah atau middle income trap.…

Pariwisata Digadang-gadang Bakal jadi Penyumbang Terbesar Devisa

    NERACA   Jakarta - Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan sektor pariwisata Indonesia diproyeksikan menjadi penghasil devisa terbesar pada…

LTC Glodok Sediakan Layanan SIM dan STNK Keliling

  NERACA   Jakarta – Pusat perbelanjaan Lindeteves Trade Center Glodok (LTC Glodok) bekerjasama dengan Polda Metro Jaya mengadakan pelayanan…