TINJAUAN EKONOMI P3DN

Rabu, 03/10/2012

Selama ini kita mendapatkan pemahaman bahwa pelaksanaan progam P3DN lebih difokuskan kepada aspek optimalisasi penggunaan produk dan jasa yang dihasilkan oleh produsen di dalam negeri. Dan secara lebih spesifik diarahkan untuk menangkap peluang bisnis APBN melalui pengadaan barang dan jasa pemerintah sebagaimana diatur dalam Perpres No 54 tahun 2010 dan direvisi dalam Perpres No 70 tahun 2012. Belanja pemerintah dalam pembentukan PDB nasional tahun 2011 kontribusinya hanya sekitar 9%. Bandingkan dengan sumbangan belanja konsumsi rumah tangga yang nilainya mencapai 55% dari PDB, dan belanja investasi dalam pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sekitar 30% lebih dari total PDB nasional.

Kalau dilihat dari tinjauan ekonomi, seharus yang menjadi obyek dan target pasar progam P3DN adalah di tiga sektor belanja tsersebut, yakni belanja investasi yang pada tahun 2011 nilainya sekitar Rp 2.228 triliun, belanja konsumsi rumah tangga nilainya sekitar Rp 4.000 triliun dan belanja pemerintah sekitar Rp 680 triliun. Dari besaran angka-angka tersebut saja yang total menjadi sekitar Rp 6.900 triliun adalah sasaran atau target captive market bagi pelaksanaan progam P3DN.

Kalau targetnya hanya belanja pemerintah saja maka sudah pasti tidak terlalu signifikan hasilnya untuk mengurangi nilai impor barang dan jasa.Yang selama ini menyebabkan volume dan nilai impor kita membengkak terjadi di sektor belanja modal untuk investasi yang mencapai sekitar 20% dari total nilai impor, belanja bahan baku/penolong untuk proses produksi yang nilai impornya sekitar 70% dan impor barang konsumsi yang nilainya sekitar 9% dari total impor.

Dari kepentingan ekonomi nasional kalau tujuannya untuk mengurangi pertumbuhan impor, maka yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah adalah memperbesar investasi di sektor industri penghasil barang modal dan industri penghasil bahan baku/ bahan penolong. Problem utama bagi negara yang hidup bergantung dari impor dalam jumlah yang amat besar dan sementara itu nilai ekspornya hanya sekitar 25% dari PDB nasional, maka kita akan selalu "dihantui" oleh hadirnya problem defisit transaksi berjalan seperti yang terjadi pada beberapa bulan yang lewat Juni, Juli, Agustus 2012.

Jadi seharusnya sasaran stregis dari pelaksanaan progam P3DN yang paling utama adalah menangkap peluang nilai belanja konsumsi rumah tangga, belanja nilai investasi PMTB, dan baru pengeluaran belanja pemerintah. Berdasarkan tinjauan ekonomi, maka progam P3DN semestinya dirancang untuk menangkap peluang bisnis PDB seperti yang beberapa kali disampaikan oleh presiden SBY dalam berbagai kesempatan yang memang nilainya sangat besar.

Bukan hanya sekedar berebut dalam bisnis APBN yang nilainya tidak lebih dari 10% dari PDB nasional. Menangkap peluang bisnis PDB di dalam negeri akan lebih berpotensi besar mendukung keberhasilan daya tahan ekonomi domestik, memperkuat struktur industri nasional dan makin berkurangnya ketergantungan impor bahan baku/penolong dan barang modal. Disisi yang lain jika kita berhasil memobilisasi potensi belanja konsumsi rumah tangga yang nilainya sekitar Rp 4.000 triliun untuk sebesar-besarnya dibelanjakan di dalam negeri akan berdampak positif bagi perkembangan investasi di sektor riil.

Gagal menangkap peluang ini, maka negara lain yang akan memanfaatkan potensi besarnya belanja konsumsi orang Indonesia.Negara-negara tersebut, antara lain Singapura, Malaysia, Thailand, di Asean, Hongkong, China, Korsel dan Jepang di Asia Timur. Mereka sangat agresif untuk menangkap peluang tersebut.

Proses ini sudah berlangsung lama dan jika hal ini tidak diimbangi oleh kebijakan dan program yang efektif untuk mensukseskan progam P3DN. Indonesia kini memilki 134 juta golongan kelas menengah. PDB per kapita penduduk Indonesia sudah mencapai US$ 3.000. Ini sebuah potensi buying power dan siapapun ingin memanfaatkannya.Saat ini, Indonesia memang masih berada pada posisi ke 16 dari sekian banyak negeri dengan GDB terbesar di dunia.

Pada tahun 2030 McKensey membuat perkiraan bahwa Indonesia pada tahun 2030 akan menjadi negara besar yang sekitar 71% penduduk perkotaannya akan menyumbang sekitar 86% GDB. Dibutuhkan sekitar 113 juta tenaga kerja terlatih. Indonesia juga diproyeksikan memiliki US$ 1,8 triliun peluang pasar di jasa consumer, pertanian, perikanan, sumber daya alam dan pendidikan.

Angka-angka proyeksi seperti itu yang harus terus menerus dicermati, dan harus menjadi target/sasaran program P3DN. Jangan sampai negara lain sibuk mencermati perkembangan ekonomi Indonesia saat ini dan di masa mendatang, kita sendiri, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat tidak mempersiapkan diri dengan baik peluang itu pasti akan diambil oleh negara lain.

Indonesia bisa masuk kelompok BRIICS jika kita mampu melaksanakan progam P3DN dengan sangat berhasil. P3DN yang dijalankan dengan berhasil, akan berdampak bagi penguatan daya saing ekonomi nasional karena seluruh sumber daya produktif nasional termanfaatkan secara optimal. Harga satuan produksi akan lebih kompetitif dan pada akhirnya keberhasilan pelaksanaan progam P3DN akan berdampak pula bagi upaya peningkatan ekspor non migas yang berbasis nilai tambah.

Hasil akhirnya adalah Indonesia akan mampu menghasilkan surplus ekonomi yang besar. Ekspornya akan selalu lebih besar dari nilai impornya. Capital inflownya jauh lebih besar dari capital outflownya dan pada akhirnya posisi transaksi berjalannya akan semakin kuat. Jadi dari tinjauan ekonomi misi besar dari pelaksanaan progam P3DN adalah menciptakan surplus ekonomi, bukan harus mengatakan go to hell impor. Karena sampai kapanpun impor tetap akan diperlukan karena pasti baik karena alasan ekonomis maupun non ekonomis tidak semua produk dan jasa bisa dihasilkan di dalam negeri.