Industri Susu Segar Dukung Konsep Pangan Fungsional - Konsumsi Susu Indonesia Di Bawah Vietnam dan Filipina

NERACA

Jakarta - Produk susu segar di Indonesia yang diproses menggunakan teknologi ultra high temperatur (UHT) diakui mendukung pengembangan bahan pangan fungsional. susu segar yang berbentuk cair memenuhi syarat sebagai pangan fungsional karena berbahan alami dan bukan berbentuk bubuk yang berarti telah mengalami perubahan bentuk dari susu sapi sebagai bahan baku.

“Dari sisi protein, susu segar UHT memiliki kualitas protein yang lebih baik dibanding susu olahan lainnya seperti susu bubuk,” kataGuru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Made Astawan dalampertemuan ilmiah Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) di Jakarta, Kamis.

Indikatornya, imbuh Made, susu jenis ini terbukti mempunyai prosentase kerusakan lisin paling rendah yaitu 0 hingga maksimal 2%. Sementara, susu formula sebesar 5-10% dan susu bubuk instan jauh lebih tinggi, mencapai 15-70%. Lisin sendiri merupakan asam amino esensial.

Secara teknis, industri susu UHT menerapkan proses pemanasan dengan suhu tinggi namun dalam waktu singkat. Sedangkan, konsep pangan fungsional dipahami sebagai pangan yang memberi manfaat melebihi nilai gizinya misalnya menopang pencegahan penyakit, kebugaran dan menghambat penuaan.

Made juga mengingatkan, proses pemanasan yang digunakan masing-masing jenis susu memiliki dampak berbeda pada protein susu. Kerusakan pada susu bubuk dapat mencapai 20%, susu pasteurisasi 25%, susu sterilisasi 10% sedangkan susu segar UHT hanya kehilangan protein maksimal 1%.

"Sehingga teknologi yang dipakai industri susu UHT tidak sekedar mengenyangkan namun mampu mempertahankan nilai gizi yang selanjutnya memberi manfaat lebih bagai konsumen,” ujar Made.

Ia juga menegaskan, produk susu kental manis instan sebenarnya bukan untuk diminum melainkan untuk aplikasi pangan seperti topping atau sebagai bahan tambahan makanan lainnya seperti martabak dan kue.

Tingkat konsumsi susu di Indonesia sendiri terbilang masih rendah. Menurut riset perusahaan kemasan Tetra-pack, masyarakat kita hanya tercatat mengonsumsi susu sebanyak 11,84 liter per kapita per tahun yang masih dibawah Filipina dengan 12,35 liter per kapita dan Vietnam dengan 14,05 liter. Bahkan masih jauh jika dibanding dengan negara tetangga terdekat lainnya, Malaysia dan Singapura yang masing-masing 50,26 liter dan 47,35 liter per kapita.

Sementara untuk susu segar di Tanah Air, meski menggunakan teknologi UHT yang menjaga nilai nutrisi, susu ini masih paling sedikit dikonsumsi dibanding susu bubuk dan kental manis. Dari total 1,3 milyar kiloliter (KL), susu bubuk mendominasi sebanyak 780 juta KL atau 60%, susu kental manis 455 juta KL atau 35% dan susu segar hanya 65 juta KL atau hanya 5%.

Related posts