Awam Investasi, Penterasi Produk Reksa Dana Masih Minim - Nasabah Ritel MAMI Cuma 10%

NERACA

Jakarta- Penetrarasi industri reksa dana terhadap pasar di Indonesia, dinilai masih keci. Pasalnya, baru 161 ribu investor dari jumlah populasi sekitar 254 jiwa. Hal ini disebabkan masih minimnya pemahaman masyarakat Indonesia soal produk investasi pasar modal seperti reksa dana.

Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Legowo Kusumonegoro mengatakan, penetrasi produk-produk reksa dana yang bila dibandingkan dengan jumlah populasi seluruh masyarakat di Indonesia masih sangat kecil, “Begitu banyak orang Indonesia yang belum mengenal reksa dana dan tidak memanfaatkan instrumen pasar modal dalam menumbuhkan kekayaan mereka,”katanya di Jakarta, Selasa (2/10).

Selain itu, dia juga mengungkapkan, kontribusi nasabah ritel perseroan terhadap total dana kelolaan reksa dana masih kecil. Padahal, saat ini dari total 38 ribu nasabah, perseroan tercatat memiliki 20 ribu nasabah ritel. “Tetapi portofolio nasabah ritel cuma 10% dari total dana kelolaan,” ungkapnya.

Untuk mengenjot lebih banyak lagi nasabah, Legowo menuturkan pihaknya akan meningkatkan beberapa struktur, mulai dari teknologi, governance dan SDM yang berkualitas. MAMI sendiri, lanjutnya, telah meningkatkan layanan yang ditawarkan divisi retail distributionnya, dengan memiliki 60 relationship manager yang memiliki sertifikat.

Tingkatkan Layanan

Selain itu, agar produk dan layanan investasi MAMI semakin mudah diakses oleh lebih dari 20 ribu investor MAMI, perseroan telah mengaktifkan point of sales and service di Jakarta, Surabaya, Bandung dan semarang.

Kata Legowo, melalui para relationship manager tersebut, MAMI memperkenalkan layanan-layanan investasi, seperti edukasi reksa dana, informasi pasar dan panduan perencanaan keuangan bagi nasabah.“Hal ini mengingat masih banyak masyarakat yang belum mengenal reksa dana,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga akan terlibat dalam pekan reksa dana nasional yang akan diadakan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pertengahan bulan. Diharapkan dari ivent tersebut lebih banyak lagi masyarakat yang masuk dan memanfaatkan reksa dana sebagai produk investasi di pasar modal.

Asal tahu saja, data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menyebutkan, dana kelolaan reksa dana turun Rp3,96 triliun menjadi Rp169,99 triliun pada Agustus 2012 dari posisi Juli 2012 sebesar Rp173,95 triliun.

Meski dana kelolaan turun, jumlah unit naik menjadi 106,70 miliar unit pada Agustus 2012 dari Juli 2012 sebesar 105,81 miliar. Adapun dana kelolaan tersebut terdiri dari reksa dana terproteksi sebesar Rp41,10 triliun, reksa dana syariah terproteksi sebesar Rp134,18 miliar, reksa dana syariah saham sebesar Rp1,96 triliun, reksa dana syariah campuran sebesar Rp1,49 triliun, reksa dana syariah pendapatan tetap sebesar Rp712,81 miliar.

Sedangkan reksa dana saham mencapai Rp59,56 triliun, reksa dana pasar uang sebesar Rp12,95 triliun, reksa dana campuran sebesar Rp20,96 triliun, reksa dana indeks sebesar Rp299,48 miliar, reksa dana pendapatan tetap sebesar Rp30,48 triliun, reksa dana ETF- saham sebesar Rp68,36 miliar, dan reksa dana ETF-pendapatan tetap sebesar Rp1,09 triliun.

Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Abipryadi Riyanto pernah bilang, pertumbuhan reksa dana nasional tahun ini akan tumbuh 10%-15%.“Industri reksa dana nasional akan tumbuh 10-15%, selama kondisi Eropa terus membaik,”ungkapnya

Abiprayadi Riyanto mengungkapkan pihaknya optimis pertumbuhan industri reksa dana pada 2012 ini asalkan kondisi Eropa tidak mengalami gejolak yang signifikan. Diakui kondisi saat ini sensitif terhadap isu-isu global seperti kondisi di Eropa, makanya jika Eropa terus membaik, industri reksa dana bisa meningkat 10-15%. (bani)

Related posts