Pemerintah Jaga Neraca Perdagangan Tetap Surplus

Rabu, 03/10/2012

NERACA

Jakarta - Setelah selama beberapa bulan terakhir neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit dan mengindikasikan penurunan kinerja ekspor. Menyikapi hal tersebut Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perdagangan akan menyikapi secara realistis agar neraca perdagangan pada akhir tahun ini dalam kondisi surplus.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, masih cukup optimis nilai ekspor tahun 2012 dapat menyamai nilainya seperti tahun lalu, yaitu US$203 miliar. “Kami lebih konsentrasi pada gap management antara nilai ekspor dengan impor, kita harus realistis, yang jadi kita target pertama jangan sampai defisit. Kami masih cukup optimis angka yang sama dengan tahun lalu bisa tercapai, kita sudah masuk hilirisasi, dan faktor ekspor karena harga itu betul-betul akibat kondisi perekonomian global,” terangnya di kantor Kementerian Perdagangan, Selasa (2/10).

Menurut Bayu, pertumbuhan ekspor selama bulan Juni, Juli dan Agustus yang turut berkontribusi dari sisi volume, diakui dia, dari sisi harga mengalami penurunan. Tetapi turunnya harga tersebut hanya dialami oleh komoditas bahan baku yang masih menjadi produk ekspor unggulan, sehingga meski kondisi ekspor secara nilai masih ada tekanan, namun telah mencerminkan terjadinya divesifikasi produk melalui industri hilirisasi dengan memberikan nilai tambah.

“Jadi masalah bukan daya saing ekspor kita tapi pasar global kita, volume ekspor menjadi target kedepannya Kita semua mengakui perubahan itu masih pada tahap yang awal, tapi ini memberi indikasi lagi bahwa daya saing kita lebih berkembang, kalau tekanan harga mereda dan pemulihan ekonomi dunia membaik, maka daya ekspor kita punya kemampuan yang lebih besar,” jelasnya.

Belum Aman

Kondisi perekonomian global memang masih menjadi salah satu penyebab terhadap kinerja perdagangan. Bayu menilai, neraca pada bulan Agustus yang mengalami surplus belum menjadikan posisi neraca perdagangan aman. “Saya kira ini suatu gambaran dari situasi dan dinamika pasar internasional, bahwa risiko akibat dari keadaan ekonomi global itu masih ada. Masih bisa kita rasakan, dan ini ditunjukkan antara lain terlihat volume dan nilai, menunjukkan dinamika permintaan global,” ujarnya.

Dia juga mencermati, terjadinya peningkatan impor terjadi karena bersifat siklus musiman, seperti pada peningkatan impor yang terjadi pada 2-3 bulan sebelum hari raya Idul Fitri, polanya berulang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. “Lebaran itu lebih menggambarkan fenomena impor di Indonesia, tekanannya ada di sana. 2-3 bulan sebelum lebaran impor naik, pola seperti itu,” jelasnya.

Adapun untuk mengendalikan besaran impor tersebut, Bayu mengatakan, diperlukannya kebijakan yang lebih sejalan dengan perkembangan ekonomi Indonesia, karena pasar negara ini sangat besar dan menarik bagi negara asing untuk masuk. Oleh karena itu, peraturan-peraturan yang lebih baik dan tegas, serta lebih transparan sangat diperlukan untuk mengatur perdagangan baik dari ekspor maupun impor.

“Jadi kalau misalnya mengerem impor itu salah satu opsi, kita berharap kalau pun mengendalikan impor itu lebih kepada produk-produk yang sudah bisa kita hasilkan di dalam negeri, utamanya produk konsumsi, kalau barang konsumsi sudah bisa diproduksi di dalam negeri, kenapa harus membuka impor begitu besar,” tandas Bayu.