Rehabilitasi Daerah Bencana

NERACA

Prinsip keberlanjutan program CSR hendaknya mengedepankan pertumbuhan, khususnya bagi masyarakat korban bencana dalam mengelola lingkungannya. Bukan semata-mata meningkatkan keuntungan perusahaan dan mendongkrak citra.

Setelah aksi emergency atau tanggap darurat yang dilakukan perusahaan dalam program CSR-nya, aksi selanjutnya yang seharusnya dilakukan adalah rehabilitasi, seperti memperbaiki sarana air bersih di titik bencana, layanan kesehatan, perbaikan sekolah dan rumah ibadah serta beasiswa kepada para korban bencana.

Seperti yang dilakukan oleh PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII). Dalam menyelesaikan program rehabilitasi Gunung Merapi, BII melalui program tanggung jawab sosial perusahaan membangun dan merevitalisasi infrastruktur air bersih di tujuh dusun di Muntilan.

Perbaikan sarana air bersih ini didukung dengan program pelestarian lingkungan dengan menanam 10.000 pohon di kawasan lereng Gunung Merapi untuk mengoptimalkan fungsi akar pohon dalam menangkap air.

Selain itu, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, di bawah koordinasi Tim Van Lith Peduli, BII juga menyerahkan bantuan peralatan pendukung produksi pertanian untuk mengolah hasil pertanian warga. Terdiri dari traktor, mesin penggilling jagung, mesin perontok padi, mesin pencacah rumput, dan pompa air yang dapat dimanfaatkan oleh ketujuh dusun.

"Program rehabilitasi sejalan dengan misi perusahaan, Humanizing Financial Service, untuk selalu berada di hati masyarakat, khususnya di bidang lingkungan dan kemasyarakatan," kata Presiden Direktur BII Dato Khairussaleh Ramli.

BII juga berupaya mewujudkan kemitraan dengan masyarakat untuk mendukung pendidikan, hidup sehat dan pemberdayaan masyarakat melalui program CSR BII Berbagi.

Khairussaleh Ramli secara simbolis melakukan serah terima penyelesaian program kepada Penanggung Jawab Utama Van Lith Peduli, Bruder Theodorus selaku mitra BII dalam pelaksanaan program di Pos Pemantauan Merapi Babadan, Magelang Senin 1 Oktober 2012.

Related posts