Bantuan CSR Bencana

Easy Come, Easy Go

Sabtu, 06/10/2012
NERACA BNPB mengimbau kalangan usaha agar CSR diwujudkan dalam bentuk bantuan yang dapat dirasakan efeknya tidak hanya pada saat tanggap bencana. Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi bencana yang sangat tinggi. Dalam kurun waktu satu bulan awal tahun 2012 ini, bencana alam yang terjadi di Indonesia mencapai lebih 50 kejadian bencana. Bencana yang terjadi adalah tanah longsor, banjir, banjir bandang, kebakaran, gempa bumi, kecelakaan transportasi, gelombang pasang dan puting beliung. Berdasarkan data dari BNPB, tren bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Bencana alam dapat mengakibatkan dampak yang merusak pada bidang ekonomi, sosial dan lingkungan. Kerusakan infrastruktur dapat mengganggu aktivitas sosial, dampak dalam bidang sosial mencakup kematian, luka-luka, sakit, hilangnya tempat tinggal dan kekacauan komunitas, sementara kerusakan lingkungan dapat mencakup hancurnya hutan yang melindungi daratan. Salah satu bencana alam yang paling menimbulkan dampak paling besar, misalnya gempa bumi, selama 5 abad terakhir, telah menyebabkan lebih dari 5 juta orang tewas, 20 kali lebih banyak daripada korban gunung meletus. Dalam hitungan detik dan menit, jumlah besar luka-luka yang sebagian besar tidak menyebabkan kematian, membutuhkan pertolongan medis segera dari fasilitas kesehatan yang seringkali tidak siap, rusak, runtuh karena gempa. Manusia dianggap tidak berdaya menghadapi bencana alam, bahkan sejak awal peradabannya. Ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen darurat menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan, struktural dan korban jiwa. Kerugian yang dihasilkan bergantung pada kemampuan manusia untuk mencegah dan menghindari bencana serta daya tahannya. Selain menimbulkan penderitaan masyarakat, bencana yang terjadi dapat memengaruhi bisnis baik langsung maupun tidak, contohnya ketika infrastruktur pabrik dan jaringan rusak akibat bencana, maka proses bisnis dipastikan akan terhambat. Mencermati penanganan bencana alam yang banyak terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir dapat diamati gejala menarik, yakni semakin besarnya peran serta perusahaan dalam tanggap darurat terhadap para korban bencana. Saat ini begitu banyak perusahaan yang melakukan kegiatan sosial dengan label “peduli” pasca-bencana di beberapa daerah. Sejumlah institusi melakukan berbagai aktivitas sosial yang memberikan atau menyalurkan bantuan. Selama ini, dunia usaha sudah banyak yang memiliki kesadaran tinggi dengan menganggarkan dana-dana CSR, di mana sebagian dana tersebut disalurkan saat terjadinya bencana alam. Begitu tersiar kabar terjadinya bencana, berbondong-bondong perusahaan mengupayakan penggalangan bantuan finansial maupun nonfinansial dan disalurkan dengan mekanisme yang lebih cepat dan efektif dibandingkan dengan penyaluran bantuan lewat lembaga pemerintah. Namun, terkadang bantuan yang diberikan hanya bersifat sementara atau sesaat setelah terjadinya bencana. Secara umum pelaksanaan CSR di Indonesia masih sangat konvensional, berjangka pendek, dan didasari motivasi untuk menolong anggota masyarakat yang dalam kesulitan, dengan kata lain menyelesaikan masalah sesaat. CSR harus dipandang sebagai investasi. Lewat CSR, perusahaan seyogianya mampu menjadi pemberi kail, bukan ikan. Ia membantu masyarakat menjaga kesinambungan hidupnya. Sebaliknya, perusahaan pun akan mendapat manfaat yang berkesinambungan dari program CSR-nya. Oleh sebab itu, Badan Nasonal Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau kalangan usaha melakukan Corporate Social Responsibility (CSR) yang diwujudkan dalam bentuk bantuan yang dapat dirasakan efeknya tidak hanya pada saat tanggap bencana. Berdasarkan kasus terjadinya erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta, Kepala Pusat Data Informasi dan Kehumasan BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, pascakejadian tersebut banyak perusahaan yang langsung memberikan bantuan. Namun, untuk selanjutnya bantuan sudah tidak ada, padahal para pengungsi masih membutuhkan bantuan. Menurut dia, masih banyak bantuan yang dapat diberikan dalam bentuk lain dan bersifat berkelanjutan, seperti memberikan bantuan berupa pembangunan hunian sementara yang dapat ditinggali hingga tiga tahun dengan alokasi biaya setiap rumah yang tidak lebih dari Rp 8 Juta. Memberikan bantuan perbaikan dan pembangunan sarana fisik lainnya termasuk pendirian tempat ibadah, pendirian taman bermain dan perpustakaan. Saran yang diutarakan Sutopo dinilai baik oleh Plt Ketua Umum Hipmi Bayu Priawan Djokosoetono. Menurut Bayu, saran tersebut dinilainya sangat baik, besarnya dana CSR yang dianggarkan oleh perusahaan harus bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin. Berangkat dari masih banyaknya korban bencana alam yang belum tersentuh atau tidak tepatnya pelayanan bantuan yang terjadi akibat kurang efektifnya fungsi distribusi dan fungsi alokasi, serta lambannya respon dalam suatu kebijakan, maka tak salah kiranya bagi pelaku usaha maupun pihak terkait lainnya untuk menentukan sebuah sistem yang baikagar tercipta suatu stabilitas.Sehingga, bentuk responsifitas ini dapat diwujudkan dalam bentuk pemberian pelayanan bagi korban bencana alam secara cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan yang efeknya dapat dirasakan oleh korban bencana.