Investasi Bukan Hanya Milik Orang Kaya

NERACA

Investasi bukan untuk orang-orang kaya saja, melainkan orang yang berpenghasilan rendah pun mulai meminati investasi di pasar modal Indonesia. Bisa kita lihat antusiasme masyarakat menengah yang terjun di dunia pasar modal Indonesia.

Menurut Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto, pertumbuhan investor di Indonesia memang belakangan ini cukup meningkat. "Ini bukan hanya membantu pertumbuhan ekonomi di Indonesia melainkan menjadi tolok ukur kemajuan industri pasar modal," katanya.

Orang-orang kaya ternyata berperan juga dalam pertumbuhan, karena mereka banyak membelanjakan uangnya di sektor otomotif, properti dan lainnya, sehingga penjualan otomotif dan properti meningkat dan bisa menjadi faktor penentu pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, lanjutnya, peningkatan angka pertumbuhan ekonomi justru memperlihatkan ketidakmerataan, karena ekonomi yang tumbuh hanya berpihak pada orang-orang kaya saja.

"Sebetulnya kalau kita belajar teori pembangunan semua negara akan mengalami hal yang sama, jadi begitu pertumbuhan ekonomi meningkat, yang tumbuh itu sebetulnya ya orang-orang kaya itu, sementara orang yang miskin tetap tumbuh tapi tidak secepat orang kaya," ujarnya.

Peningkatan angka pertumbuhan terkadang menciptakan gap antara si kaya dan si miskin. Hal ini adalah dampak tahap pertama dari pertumbuhan ekonomi tinggi. Dampak tahap pertama dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah ketidakmerataan, tapi nanti secara perlahan akan terjadi pemerataan, ini terjadi di semua negara.

"Itu lama-lama kalau pertumbuhannya makin cepat dan angkanya makin tinggi nanti gap-nya itu akan mengecil, tapi perlu waktu," jelasnya.

Menurutnya, ketika perekonomian Indonesia tumbuh tinggi, terjadi fenomena bahwa orang miskin tetap ketinggalan perekonomiannya. “Tapi jika perekonomian Indonesia bisa mencapai angka di atas 7%, kemungkinan gap antara orang kaya dan orang miskin akan menjadi kecil,” jelasnya.

Pemerataan perekonomian memang menjadi permasalahan yang harus di atasi, seperti perekonomian di daerah yang masih minim terhadap lapangan pekerjaan berbeda dengan di perkotaan.

Diperlukan Perbaikan

Dengan aktivitas penanaman modal yang memang terus meningkat. Namun pemerintah menyadari masih banyak hal yang memerlukan perbaikan. Sehingga peran pemerintah semakin penting untuk memastikan bahwa momentum positif tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.

Lanjut mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini, menyusul penyusunan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EI, diharapkan UU Pembebasan Lahan dan regulasi terkait lainnya akan dapat menyelesaikan hambatan pada pembangunan infrastruktur.

“Di samping itu, kami juga memberikan fasilitas insentif pajak dalam bentuk tax holiday, tax allowances dan pembebasan bea masuk kepada beberapa sektor usaha. Serta, melanjutkan agenda reformasi birokrasi untuk meningkatkan kenyamanan berinvestasi di Indonesia,“ jelasnya.

BERITA TERKAIT

BTN Berangkatkan 1520 Orang Pemudik - Mudik Bareng BUMN

Tren mudik gratis kini mulai banyak dilakukan perusahaan swasta, maupun BUMN dan salah satunya PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk…

Toyota Akan Gelontorkan Investasi Baru Untuk Mobil Listrik

Toyota melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) siap menggelontorkan untuk pengembangan mobil listrik di dalam negeri, yang ditargetkan pemerintah…

Kenaikan Harga: Agar Janji tidak Hanya Tinggal Janji

Oleh: Pril Huseno Para ibu rumah tangga agaknya bisa sedikit tenang. Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukito menjamin, sampai dengan lebaran…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…