Basmi Maling Minyak

Selasa, 02/10/2012

Oleh: Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Di tengah riuh-gemuruh gerakan penghematan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi belakangan ini, aksi para maling minyak yang ternyata dilakukan oleh sejumlah oknum secara berjamaah jelas-jelas menampar muka pemerintah. Ironisnya, pencurian berikut penyelundupan BBM ini tak hanya merugikan negara ratusan miliar, tapi juga dilakukan secara merata dari hulu hingga hilir industri migas.

Lebih parah lagi, penyelundupan dan pencurian BBM subsidi khususnya solar tersebut dibekingi oknum aparat keamanan perpangkat jenderal. Alih-alih mengarahkan moncong senapannya menjaga minyak milik bangsa sendiri, aparat TNI-Polri tak lagi punya urat malu menodongkan senjatanya mencuri BBM. Bahkan, kendati dari tahun ke tahun penegak hukum telah menciduk sindikat maling minyak ini, toh jumlah para penyelundup seperti mati satu tumbuh seribu.

Dari tahun ke tahun pula, modus pencurian BBM terus berkembang. Sampai-sampai para maling itu melubangi pipa minyak milik PT Pertagas (Pertamina Gas) yang digunakan untuk mendistribusikan minyak mentah dari lapangan minyak ke kilang domestik dan ekspor. Modus yang dilakukan penyelundup adalah dengan menyelewengkan tujuan kapal pembawa minyak mentah, bukan sesuai tujuan awal alias praktik ekspor ilegal.

Berdasarkan hasil tangkapan yang dilakukan pihak Bea Cukai, penyelundupan di wilayah Laut Natuna adalah yang paling sering dibanding wilayah laut lainnya. Selama sebulan terakhir ini, Bea Cukai berhasil menggagalkan 4 tanker pembawa minyak mentah di wilayah tersebut, yang mencakup Kepulauan Riau. Sementara untuk tujuan negara yang paling sering dibidik penyelundup minyak mentah adalah Singapura dan Malaysia.

Dalam catatan Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), BBM subsidi khususnya di Sumatera dan Kalimantan banyak dicuri dan diselundupkan ke industri, nelayan, pertambangan, serta perkebunan. Berdasarkan data lembaga tersebut, penyalahgunaan BBM subsidi dari Januari-Desember 2011 terjadi sekitar 305 kasus dengan jumlah barang bukti sebanyak 1,1 juta liter. Jumlah ini meningkat tinggi pada Januari-Juli 2012 sebanyak 396 kasus dengan jumlah barang bukti BBM 1,03 juta liter.

Tidak sekedar mencuri minyak “matang”, para maling ini juga menilap minyak mentah untuk mengoplos solar. Pencurian minyak mentah curian untuk dijadikan solar ini terjadi karena warna yang hampir mirip sehingga secara kasat mata sulit dibedakan. Solar oplosan tersebut lalu dijual ke industri dengan harga super murah Rp 3.500 per liter, sementara Pertamina menjual Rp 4.500 per liter.

Nah, akibat pencurian minyak mentah sepanjang Januari-September 2012, Pertamina telah kehilangan sekitar 232.000 barel minyak mentah. Kehilangan pengiriman minyak 232.000 barel atau sebesar 17% jika dikalkulasi bisa mencapai angka Rp 198,3 miliar lebih. Karena itulah, pihak berwajib harus segera meningkatkan kerjasama dengan BP Migas, BPH Migas, dan Pertamina untuk menyumbat kebocoran-kebocoran itu. Karena jika tidak dilakukan, lifting minyak Indonesia yang tak pernah bisa mencapai 1 juta barel per hari itu bakal semakin merosot.