Trend Deflasi Bisa Terjadi di Oktober

Selasa, 02/10/2012

NERACA

Jakarta-- Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan tren deflasi bisa terjadi pada Oktober ini karena harga bahan makanan masih terkendali. "Kita berharap deflasi karena peluangnya besar dan kondisi Eropa masih seperti itu," kata Direktur Statistik Harga BPS, Sasmito Hadi Wibowo di Jakarta, Senin.

Lebih jauh Sasmito menjelaskan pada Oktober dapat terjadi deflasi karena pada September 2012 terjadi laju inflasi rendah hingga 0,01 %. Situasi itu juga didukung angka inflasi pada Oktober tahun lalu yang mengalami deflasi sebesar 0,12 %. "Kalau tahun lalu deflasi saya kira bisa, dan saat ini mulai memasuki masa puncak panen," tambahnya

Dikatakan Sasmito, kemungkinan terjadi deflasi, karena faktor penyumbang inflasi pada September yaitu harga emas perhiasan mulai mengalami penurunan. "Nanti ada kejenuhan juga untuk menyimpan emas. Kalau bulan ini stagnan dan faktor dari luar semakin turun, peluang deflasinya besar," ujarnya

BPS mencatat pada September 2012 terjadi inflasi 0,01 %, yang berarti laju inflasi tahun kalender Januari-September tercatat sebesar 3,49 %. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada September antara lain emas perhiasan, upah pembantu rumah tangga, rokok kretek filter, tarif sewa rumah dan jeruk.

Komoditas lain yang mengalami kenaikan harga adalah uang sekolah SD dan SLTA, uang kuliah akademi, beras, buncis, kacang panjang dan wortel. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga adalah daging ayam ras, tarif angkutan kota, cabai merah, tarif angkutan udara, ikan segar dan telur ayam ras.

Komoditas lain yang mengalami penurunan harga adalah cabai rawit, bawang merah, kangkung, petai, bawang putih, kelapa, gula pasir dan tarif kereta api. Pemerintah dalam APBN-Perubahan 2012 memberikan asumsi inflasi 6,8 % dengan mempertimbangkan terjadi kenaikan harga BBM bersubsidi tahun ini.

Sementara menurut Kepala BPS Suryamin, secara tahunan alias year on year inflasi September 2012 mencapai 4,31%, sementara inflasi tahun berjalan alias year to date (Januari-September 2012) mencapai 3,49%. "Inflasi pada September 0,02% ini yang terkeil dalam 5 tahun terakhir. Jadi harga-harga di September terkendali," tuturnya

Dikatakan Suryamin, dari 66 kota di Indonesia, ada 21 kota yang mengalami inflasi, dan 45 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang 0,74%, lalu Padang 0,54%. Sementara inflasi terenda terjadi di Dumai sebesar 0,01%. Lalu deflasi tertinggi di Singkawang 2,18% dan Palu sebesar 2%. "Setelah lebaran, bahan-bahan pokok kembali ke harga normal," imbuhnya

Dikatakan Suryamin, pada September terjadi deflasi pada bahan makanan dan transportasi masing-masing 0,92% dan 0,8%. Laju inflasi tinggi karena Agustus memasuki bulan puasa, lebaran, dan tahun ajaran baru. Selama puasa dan lebaran memang tercatat harga beberapa bahan makanan naik.

Namun Suryamin tidak menjelaskan apa yang menjadi pendorong utama inflasi di Agustus 2012. "Bahan makanan masi ada yang deflasi dan inflasi tidak terlalu tinggi. Bawang merah dan cabai mengalami deflasi," pungkasnya. **novi