Penuhi Target, BEI Bidik BPD Untuk IPO

Terkecil dalam Lima Tahun

Selasa, 02/10/2012

NERACA

Jakarta– Kecewa minimnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menawarkan saham perdananya atau initial public offering (IPO) di pasar modal tahun, memaksa PT Bursa Efek Indonesia (BEI) harus mencari gantinya. Tak ayal, BEI kini tengah membidik industri perbankan daerah sebagai untuk IPO.

Direktur Penilaian BEI Hoesen menghimbau, Bank Pembangunan Daerah bisa melakukan IPO tahun depan. Hal ini sejalan dengan himbauan Bank Indonesia (BI) yang menginginkan BPD dapat menjadi regional champion di negeri sendiri, “Kita menghimbau bank bisa banyak yang IPO,” katanya di Jakarta, Senin (1/10)

Hoesen menilai, tahun ini bank yang melakukan IPO masih sangat minim, terakhir hanya BPD Jatim dan itu pun dilakukan beberapa bulan lalu. Namun, semua tergantung niatan dan kesiapan BPD itu sendiri.

Selain BPD, lanjutnya, BEI juga mengincar perusahaan-perusahaan yang menjadi debitur bank marak IPO tahun ini. Pasalnya, banyak debitur-debitur bank besar terbentur dengan ketentuan Debt to Equity Ratio (DER), sehingga mau tak mau harus mengambil jalur pasar modal, sebagai langkah meningkatkan modal selain lewat bank. “Kita juga bicara dengan debitur-debitur bank yang besar dan memiliki kredit besar oleh bank. Sebab, ada batasan DER dan mau tak mau debitur mengambil jalur pasar modal lewat IPO,” paparnya.

Dia sendiri optimis, tahun ini target perusahaan yang IPO bisa mencapai 25 perusahaan, meski bila dilihat dari sizenya tidak sebesar tahun lalu. “Kita masih optimis tahun ini bisa 25 perusahaan bisa masuk bursa,” ungkapnya.

Asal tahu saja, pada 2008 nilai IPO yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sebesar Rp 24,39 triliun dari 19 emiten baru, pada 2009 sebesar Rp 3,85 triliun dari 13 emien baru, pada 2010 sebesar Rp 29,68 triliun dari 23 emiten baru dan pada 2011 sebesar Rp 19,59 triliun dari 25 emiten baru.

Sebelumnya, BEI berencana akan melakukan pengetatan dan kajian lebih detil terhadap perusahaan yang berencana masuk ke pasar modal atau IPO agar likuid ke depannya. Direktur Perdagangan dan Keanggotaan BEI Samsul Hidayat pernah bilang, kajian lebih detail terhadap perusahaan yang masuk ke pasar modal dimaksudkan agar memiliki kualitas dan likuiditas yang baik, “Kami memastikan bahwa emiten-emiten baru yang masuk ke bursa harus memiliki kualitas dengan melakukan penelahaan secara lebih komprehensif, dengan begitu likuiditas pasar akan meningkat,"tandasnya.

Dia menambahkan, dengan likuiditas meningkat maka akan terbentuk harga saham yang wajar di pasar. Pihak Bursa juga akan meningkatkan jumlah emiten agar kapitalisasi juga bertambah. Maka dengan demikian, semakin banyak jumlah emiten akan memperbesar kapitalisasi pasar saham.

Sepanjang 2012, jumlah emiten yang telah mencatatkan saham perdana di BEI mencapai 15 emiten, dengan total nilai mencapai Rp6,59 triliun. Selain menambah jumlah emiten, lanjut dia, pembangunan infrastruktur pasar modal juga terus dilakukan seperti meningkatkan kapasitas mesin perdagangan transaksi bursa, meningkatkan rasa aman investor dalam berinvestasi melalui program pemisahan rekening dana nasabah (RDN) dan pembuatan fasilitas Acuan Kepemilikan Sekuritas (AKSes), serta melakukan sosialisasi demi menambah kepercayaan investor dalam berinvestasi. (bani)