Rupiah Belum Merespon Inflasi

Selasa, 02/10/2012

NERACA

Jakarta--Mata uang rupiah belum member respon positif terkait pengumuman inflasi. "Rupiah berbalik arah negatif meski inflasi pada September 2012 tercatat rendah sebesar 0,01 %, kondisi itu belum memberi sentimen kuat terhadap nilai tukar domestik terhadap dolar AS, hal itu dikarenakan pengaruh dari krisis Eropa yang masih cukup kuat," kata Analis Trust Securities Reza Priyambada di Jakarta, Senin.

Pada awal pekan sore berbalik arah ke area negatif atau melemah sebesar 20 poin dipicu masih adanya kekhawatiran pelaku pasar keuangan terhadap krisis Eropa. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Senin sore bergerak melemah sebesar 20 poin menjadi Rp9.570 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.550 per dolar AS.

Reza menambahkan, pergerakan rupiah cenderung mengikuti nilai tukar euro, keraguan pelaku pasar mengenai apakah pengetatan anggaran Spanyol akan membuka jalan untuk mencari dana bantuan (bailout) internasional.

Dikatakan Reza, investor pasar keuangan akan terus menunggu setiap kemungkinan akan terciptanya perbaikan pada kuartal berikutnya.

Sementara itu, Analis Samuel Sekuritas, Sally Agustina mengatakan pelaku pasar diprediksi akan melakukan antisipasi terhadap data inflasi September 2012 yang akan dikeluarkan pada Senin ini. Inflasi September 2012 diprediksi hanya mencapai 0,26 % MoM atau sekitar 4,6 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. "Untuk 'support' indeks akan berada pada level 4.225," katanya.

Menurut Sally, IHSG sendiri akan cukup rawan aksi ambil untung (profit taking) seiring sentimen negatif dari bursa regional dan setelah "rally" sekitar 2 % dalam dua hari perdagangan terakhir. Pada pembukaan perdagangan sesi I, Senin, IHSG melemah 20,36 poin (0,48 %) menjadi 4.242,19, sedangkan indeks saham unggulan LQ45 terkoreksi 4,75 poin (0,65 %) menjadi 727,01.

Untuk kondisi bursa global, bursa Amerika Serikat sepanjang kuartal III-2012 telah membukukan pengembalian sekitar 5-6 % dengan memfaktorkan berbagai stimulus yang diluncurkan oleh bank sentral dari Eropa, AS, China hingga Jepang untuk mengompensasi buruknya data perekonomian global.

Meski demikian, kata Sally, menutup kuartal III bursa AS pada akhir pekan lalu melemah sekitar 0,4 % dengan memfaktorkan rilis data "purchasing manager index" dan kepercayaan konsumen yang lebih rendah dari ekspektasi.

Sementara pada perdagangan Senin ini, mayoritas bursa Asia dibuka relatif melemah memfaktorkan rilis data indeks manufaktur China pada September 2012 yang turun serta survei sentimen manufaktur Jepang yang lebih rendah dari kuartal sebelumnya.

Pengamat pasar uang dari Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menambahkan, ketidakyakinan investor terhadap solusi krisis telah membuat imbal hasil Spanyol terus meningkat, dan menekan mata uang euro sehingga berdampak pada rupiah. "Melemahnya data-data manufaktur di China itu justru menimbulkan spekulasi yang semakin kuat terhadap kemungkinan stimulus pemerintah," ujarnya. **cahyo