Hadapi Iklim Ekstrem Perlu Dana Hingga US$100 M

Hadapi Iklim Ekstrem Perlu Dana Hingga US$100 M

Jakarta--- Mengatasi cuaca ekstrim tak bisa dihadapi sendirian. Oleh karena itu negara-negara yang tergabung dalam G20 mengumpulkan dana guna mengantisipasi perubahahan cuaca tersebut. Dalam jangka pendek ini baru terkumpul US$30 miliar. Padahal targetnya sampai 2020 harus mencapai US$100 miliar. "Sekarang sudah US$ 30 miliar dan menuju US$ 100 miliar di 2020," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo kepada wartawan di Jakarta,24/4.

Menurut Agus, rencana pengumpulan dana tersebut merupakan sebuah upaya patungan dalam jangka panjang guna mengantisipasi berbagai masalah perubahan iklim ekstrem.

"Semua negara-negara berpartisipasi untuk mengatasi climate change berkomitmen supaya 2020 itu ada penghimpunan dana sampai US$ 100 miliar untuk mengatasi dan menjawab isu-isu climate change," tambahnya.

Lebih jauh kata mantan Dirut Bank Mandiri ini, pertemuan G20 juga membicarakan soal pengelolaan arus masuk. Sehingga bisa dimanfaatkan ke sektor rill dan bisa bermnafaat.

"Kita juga membicarakan bagaimana negara-negara berkembang itu menerima capital inflow itu, mengelola capital inflow tersebut supaya bisa diarahkan dan dialihkan ke real sektor dan bagaimana real sektor itu bisa berkembang lebih pesat dibandingkan di portfolio itu kita bicarakan dengan luas di sana," ujarnya.

Kemudian, lanjut Agus Marto, negara-negara G20, juga membahas mengenai nilai tukar, terutama dampak dari penguatan Yuan terhadap negara anggota. "Iya sangat dibicarakan, jadi nanti bulan-bulan ke depan ini, upaya-upaya menurunkan global imbalances itu semakin terarah," imbuhnya.

Sebelumnya terkiat menghadapi cuaca ektrem, Menko Perekonomian Hatta Radjasa sudah menegaskan pemerintah terus memberikan perhatian terhadap harga pangan dunia yang terus meningkat. Pemerintah pun mempersiapkan dua kebijakan untuk mengantisipasi kekurangan pangan. "Kita harus tingkatkan pangan dengan membuat dua Inpres (Instruksi Presiden) baru," katanya.

Pertama, Hatta menjelaskan, Inpres yang akan memberikan fleksibilitas kepada menteri pertanian untuk merespons perubahan iklim ekstrim. "Baik fleksibilitas musim tanam atau intervensi hama. Walau, cuaca menyebabkan musim tanam berbuah gangguan pada petani," ucap Hatta.

Kedua, Inpres yang akan memberikan fleksibilitas kepada Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menyuplai dan membeli beras petani. "Fleksibilitas tidak hanya pada kualitas tertentu, tapi Bulog bisa menyediakan beras petani dalam kualitas apa pun," tutur Hatta.

Menteri pertanian kemudian juga diminta untuk memberikan penyuluhan di daerah-daerah terkait pupuk benih. "Karena kita menyadari dan warning dari dunia sudah menunjukkan iklim ekstrim akan mempengaruhi produktivitas pangan dunia," kata Hatta.

"World Bank dan IMF (Dana Moneter Internasional) memberikan koreksi pertumbuhan karena faktor iklim ekstrim. Jadi, kita meresponsnya dengan sangat serius," ujar dia.**cahyo

Related posts