Bergerak Tidak Wajar, BEI Suspensi Saham IATA

NERACA

Jakarta -Lantaran mengalami pergerakan saham di luar kewajaran, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi (penghentian perdagangan saham sementara) PT Indonesia Air Transport Tbk (IATA) yang diberlakukan secara efektif pada 1 Oktober 2012.

Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Irvan Susandy dan Kepala Divisi Perdagangan Saham, BEI Eko Siswanto mengatakan, suspensi terhadap saham IATA perlu dilakukan BEI dalam rangka cooling down. “Mengingat, telah terjadi peningkatan harga kumulatif secara signifikan, yaitu sebesar Rp70 atau 134,62% dari harga penutupan Rp52 pada 13 September 2012 menjadi Rp122 pada 28 September 2012,”katanya dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (1/10).

Disebutkan, penghentian sementara perdagangan saham IATA tersebut dilakukan di pasar reguler dan pasar tunai. Hal tersebut juga dilakukan pihak otoritas bursa untuk memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang berdasarkan informasi yang ada dalam setiap pengambilan keputusan investasinya di saham IATA.

Sebelumnya, otoritas Bursa telah memasukkan saham IATA ke dalam kategori saham yang bergerak di luar kebiasaan (UMA/unusual market activity). Hal tersebut dilakukan bursa dengan mencermati pergerakan saham PT Indonesia Air Transport Tbk yang sempat mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada pekan kemarin, yaitu mencapai 67,30%.

Sementara Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan, BEI, Uriep Budhi Prasetyo juga telah mengimbau, meskipun tidak ada keterkaitan masuknya IATA dalam kategori UMA dengan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal, pihaknya meminta investor agar mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum berinvestasi di saham tersebut.

Kinerja Semester I-2012

Untuk catatan, dalam laporan keuangan perseroan di semester pertama 2012, IATA mengalami rugi bersih sebesar Rp32,66 miliar. Nilai kerugian IATA tersebut lebih tinggi daripada periode yang sama di tahun sebelumnya, yaitu Rp 18,3 miliar.

Kerugian yang dialami IATA tidak terlepas dari besarnya beban usaha yang harus ditanggung perseroan. Di semester pertama saja, beban usaha IATA sebesar Rp 150,59 miliar, ditambah kerugian akibat selisih kurs senilai Rp 6,21 miliar. Akibatnya, beban IATA membengkak dari Rp 715,91 juta menjadi Rp 18,31 miliar. Selain itu, pada periode yang sama tercatat pendapatan IATA hanya sebesar Rp 133,02 miliar. (lia)

BERITA TERKAIT

Jaga Kualitas Produksi Tambang - BRMS Kirim Dore Bullion dari Poboya Ke Jakarta

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan bisnis di sektor pertambangan, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) terus mengoptimalkan nilai tambah dalam…

Pasca Marubeli Miliki Saham - SILO Kembangkan Potensi Bisnis Kesehatan

NERACA Jakarta – Mengoptimalkan bisnis layanan kesehatan yang dinilai memiliki prospek positif, PT Siloam Internasional Tbk (SILO) terus perluas kerjasama…

Sentimen Virus Corona Bikin IHSG Merana

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (25/2) sore ditutup melemah dipicu meluasnya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Mudahkan Pengembang Cari Modal - DPD REI DKI Targetkan Lima Anggotanya IPO

NERACA Jakarta –Dorong pertumbuhan emiten di pasar modal, Real Estate Indonesia (REI) DKI Jakarta mengajak anggotanya yang merupakan perusahaan pengembang…

Ketatnya Kompetisi Pasar Mobil - Pendapatan Astra Internasional Terkoreksi Tipis 1%

NERACA Jakarta – Tahun 2019 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi bisnis PT Astra Internasional Tbk (ASII). Pasalnya, sentimen melorotnya…

IHSG Merana Karena Corona - BEI Cermati Pasar Hingga Protokol Krisis

NERACA Jakarta – Tren penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) sejak Senin awal pekan kemarin sebagai respon sentimen negatif virus…