BPS: Target Ekspor US$200 Miliar Sulit Dicapai

Neraca Perdagangan Kembali Surplus

Selasa, 02/10/2012

NERACA

Jakarta - Walaupun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia hingga bulan Agustus 2012 telah terbebas dari defisit, bila dibanding bulan-bulan sebelumnya. Namun, harapan Pemerintah menyamai target nilai ekspor sama seperti tahun lalu, yaitu US$203 miliar sepertinya tidak akan berjalan mulus. Karena kegiatan ekspor Indonesia ke beberapa negara tujuan kembali melambat, ditengah penurunan permintaan.

"Sepertinya akan sulit untuk ekspor mencapai $200 miliar per tahun ini," kata Direktur Statistik Distribusi BPS Satwiko Darmesto di Kantor BPS, Senin (1/10). Dia justru memperkirakan nilai ekspor akhir tahun ini akan mencapai sekitar $180 miliar, dengan asumsi setiap bulannya nilai ekspor berada di rata-rata US$14 miliar - US$15 miliar.

Neraca perdagangan pada Agustus 2012 surplus US$248,5 juta, secara kumulatif pada Januari-Agustus 2012 tercatat surplus US$496,7 juta. Berdasarkan data BPS, ekspor Agustus 2012 tercatat sebesar US$14,12 miliar, turun bila dibandingkan Agustus 2011. Sementara bila dibanding Juli 2012, ekspor migas turun 2,3% dan non migas turun 14,49%.

Satwiko menambahkan, bahwa kegiatan usaha yang sangat berkorelasi dengan impor masih ada kecenderungan meningkat dan terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa Indonesia akan mulai mendaftarkan tren surplus perdagangan. "Dari Agustus 2011 turun juga karena Agustus tahun itu secara total US$18,86 miliar. Diduga bahwa krisis Eropa masih pengaruh. Penurunan ekspor diduga karena penurunan permintaan," katanya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Kepala BPS Suryamin bahwa, dampak krisis Eropa masih menekan kinerja ekspor Indonesia pada semester II/2012. Secara kumulatif, ekspor pada Januari-Agustus 2012 juga turun 5,58% menjadi US$127,17 miliar. Dari total ekspor tersebut, lanjut dia, ekspor yang mengalami penurunan terbanyak adalah sektor non migas, yaitu turun 14,5% dibandingkan bulan Juli menjadi US$11,26 miliar. Sementara untuk sektor migas hanya mengalami penurunan tipis yaitu 2,3% menjadi US$ 2,85 miliar.

Tujuan Ekspor

Beberapa negara tujuan ekspor yang terbesar untuk sektor non migas antara lain adalah China sebesar US$ 13,37 miliar, Jepang US$ 12,57 miliar dan Amerika Serikat US$ 9,9 miliar. "Ke tiga negara tersebut mengambil porsi 35,41% dari total ekspor," kata Suryamin. Sementara impor pada Agustus 2012 tercatat sebesar US$13,87 miliar atau turun 8,02% dibanding Agustus 2011.

Sedangkan dibanding Juli 2012, impor Agustus turun 15,21%. Impor pada sektor migas pada Agustus 2012 tercatat US$3,31 miliar atau naik 19,97% dari Juli 2012, dan non migas tercatat US$10,56 miliar atau naik 22,35% dari Juli 2012. Perkembangan impor untuk Januari-Agustus 2012 tercatat US$126,67 miliar atau naik 10,28% dibanding tahun lalu. Impor non migas Januari-Agustus sebesar US$99,16 miliar atau naik 12,66%.

Suryamin menuturkan penurunan impor pada Agustus dipengaruhi dua hal, yakni pola yang menurun pada paruh kedua setiap tahun. "Tapi, ini juga perpaduan antara pola dengan kebijakan pemerintah melalui pembatasan-pembatasan yang mendorong konsumsi produk dalam negeri," ujarnya.