Menjawab Kebutuhan Pasar Lewat Konsep Hijau - PT Pardika Wisthi Sarana

NERACA

Jakarta - Kebutuhan ruang terbuka hijau merupakan hal yang dicari masyarakat untuk menyeimbangkan gaya hidup di perkotaan nan padat. Kini tidak hanya sekedar rumah saja sebagai kebutuhan primer masyarakat, tetapi adalah rumah yang memiliki ruang terbuka hijau dan bersahabat dengan alam atau saat ini lebih dikenal konsep green property.

Hal ini sangat beralasan, karena ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta belum mencapai 30% sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang. Dimana 30% area terdiri atas ruang terbuka hijau publik sebesar 20% dan sisanya 10% ruang terbuka hijau untuk privat.

Saat ini indeks RTH Jakarta hanya 6 meter persegi per orang. Ini masih jauh dibanding indeks RTH dunia seluas 11-134 meter persegi per orang. Saat ini kota-kota Asia lain, seperti Shanghai, Singapura, dan Kuala Lumpur, telah mencapai indeks RTH lebih dari 15 meter persegi per orang. Oleh karena itu, kehadiran green property sudah bukan lagi sekedar bicara soal trend belaka tetapi menjadi kebutuhan pengembang dan masyarakat di tengah isu pemanasan global.

Ramah Lingkungan

Hal yang sama juga dilakukan PT Pardika Wisthi Sarana, anak usaha Daniland Group dengan apartemen Woodlandpark Residence yang terletak di Kalibata, Jakarta Selatan. Woodlandpark Residence merupakan konsep hunian ramah lingkungan (green concept) Woodlandpark Residence terlihat dari besarnya ruang terbuka hijau (RTH) yang disediakan.

Kata Presiden Komisaris Daniland Group Emil Arifin, Woodlandpark Residence tidak hanya berjualan hunian dengan green livingnya, tetapi nyata dan bukan janji. Pasalnya, dari total lahan apartemen seluas 3,15 hektar, sebanyak 80% atau 2,3 hektar dijadikan RTH. “Selain menyediakan RTH yang luas, kami juga melakukan environment protection,”katanya.

Menurutnya, konsep ramah lingkungan sudah menjadi komitmen perseroan mewujudkan hunian yang nyaman di tengah kota dan bukan sekedar sikap lantah mengikuti pasar yang sedang tren saat ini.

Selain itu, dia juga menjelaskan, konsep green tersebut tidak hanya sekedar membuka ruang terbuka hijau atau memberi nuansa hijau pada proyek properti, tetapi juga bagaimana melakukan hemat energi dalam penggunaan listrik, AC, melakukan daur ulang sampah dan air kotor hingga penggunaan energi terbarukan. Karena jangka panjang green property akan menghemat dalam bidang maintenance. “Untuk menghemat energi, kami juga menggunakan energi terbarukan (renewable energy). Listrik di apartemen akan menggunakan gas, dan panas yang dihasilkan akan digunaan untuk mengaktifkan AC. Sementara, listrik dari PLN hanya akan digunakan sebagai cadangan,” papar Emil.

Kemudian mengenai penggunaan air, lanjutnya, pengembang menggunakan water efficiency dengan mengolah air dari Sungai Ciliwung di dekat lokasi apartemen menjadi air bersih. Di sisi indoor, pengembang juga memerhatikan kesinambungan lingkungan dengan penggunaan cat non toxic, rendah VOC (Volatile Organic Compound) dan berbahan dasar air (water base). “Di samping itu, kami mengutamakan material lokal dan ramah lingkungan untuk mengurangi jejak emisi karbon,” ujarnya.

Peluang Dan Komitmen

Emil Arifin juga mengatakan, proyek apartemen Woodlandpark Residence merupakan pertama bagi perseroan dengan mengambil banyak pelajaran penting dari pengembang-pengembang apartemen terdahulu, “Kami mendesain proyek ini atas apa yang dibutuhkan masyarakat. Kami harap unit-unit yang kami tawarkan ini benar-benar dibeli orang-orang yang membutuhkan hunian sehat dan hijau di bilangan Jakarta," tuturnya.

Woodlandpark Residence dapat menjadi solusi bagi pelanggan yang selama ini harus mengalami kepadatan lalu lintas di Jakarta mengingat lokasinya yang strategis dan mudah diakses dari pusat bisnis, terutama wilayah Kuningan, Sudirman, dan Thamrin, serta didukung dengan berbagai sarana transportasi publik seperti feeder bus way dan stasiun kereta api.

Sementara Presiden Direktur PT Pardika Wisthi Sarana Achmad Setiadi mengatakan, Woodlandpark Residence menjadi apartemen dengan ruang terbuka hijau yang paling besar di Jakarta. Dia juga mengungkapkan, penyediaan ruang terbuka hijau yang luas merupakan keseriusan perseroan untuk melestarikan lingkungan hidup di sekitar Woodlandpark Residence, “Kami memilih lanskap natural sebagai salah satu komponen utama Woodlandpark Residence. Ruang terbuka hijau yang akan kami miliki terdiri atas makhluk hidup yang sebelumnya sudah ada di area tersebut. Oleh karena itu, kami akan mempersiapkan habitat terbaik bagi satwa burung yang mungkin terganggu saat proses pembangunan seluruh tower,”tandasnya.

Proyek apartemen Woodlandpark Residence memiliki lima tower. Empat tower dijual strata title (Tower Cendana, Matoa, Trembesi, dan Mahoni), sementara satu tower untuk serviced apartment. Dari 1200 unit yang tersedia, kata Achmad Setiadi, 40 unit dijadikan sebagai unit SOHO (small office home office), 15 unit untuk ritel area, sementara sisanya strata title.

Di samping itu, Woodlandpark Residence juga memiliki unit penthouse seluas 150 m2 dan tujuh unit townhouse. Harga yang ditawarkan untuk unit-unit di proyek ini berkisar Rp260 juta – Rp2,3 miliar. Investasi yang dikucurkan untuk konstruksi Woodlandpark Residence sebesar Rp500 miliar. (bani)

Related posts