Hilirisasi Kelapa Sawit Butuh Investasi US$ 800 Juta

Senin, 01/10/2012

NERACA

Jakarta – Sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan investasi sebesar US$ 800 juta untuk program hilirisasi industri kelapa sawit dan memproduksi oleokimia. Pemerintah memprediksi hingga 2015 program hilirisasi kelapa sawit untuk produksi oleokimia membutuhkan investasi US$800 juta sehingga kapasitas produksi bisa mencapai 2 juta ton per tahun.

“Sebagai negara produsen minyak sawit mentah terbesar di dunia, Indonesia harus meningkatkan pemanfaatan Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan baku di dalam negeri. Perlu percepatan program hilirisasi produk CPO untuk diolah menjadi bahan yang bernilai tambah tinggi,” kata Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian, Aryan Wargadalam, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Lebih jauh lagi Aryan memaparkan,pemanfaatan CPO sebagai bahan baku,sampai saat ini masih terbilang rendah, baru mencapai 30 jenis produk turunan. Untuk industri pangan di antaranya minyak goreng, margarin, shortening dan CBS, sedangkan industri non pangan di antaranya fatty acids, fatty alcohol, glycerin serta alkohol.

“Pemanfaatan CPO sebagai bahan baku industri akan memberi efek ganda seperti penguatan struktur industri, peningkatan nilai tambah, perluasan lapangan kerja dan peningkatan penerimaan pajak bagi pemerintah. Untuk pengembangan industri oleokimia, investasi yang dibutuhkan mencapai US$800 juta hingga 2015,” paparnya.

Industri oleokimia di Indonesia, lanjut Aryan, baru memproduksi oleokimia dasar yaitu fatty acids, fatty alcohol, glycerin dan biodiesel. “Kapasitas produksi yang dimiliki saat ini untuk fatty acids sebesar 983.000 ton per tahun, fatty alcohol sebesar 500.000 ton per tahun, glycerin sebesar 142.000 ton per tahun dan biodiesel sebesar 3,4 juta ton per tahun,” ujarnya.

Aryan menambahkan, pihaknya berharap pelaku usaha di sektor CPO dapat menambah investasinya. “Diharapkan produsen bisa meningkatkan nilai tambah produk CPO untuk meningkatkan pertumbuhan industri,” tandasnya.

Sebelumnya Menteri Perindustrian, MS Hidayat memproyeksikan produksi minyak sawit mentah alias Crude Palm Oil (CPO) pada tahun 2020 akan mencapai 40 juta ton. "CPO kita 23 juta, 2020 menjadi 40 juta pengolahan lebih ditekankan pada hilirisasi dan itu program yang direncanakan," ungkap Hidayat.

Mantan Ketua Kadin ini memaparkan, ini merupakan salah satu program pemerintah untuk memperkuat hilirisasi. Tak hanya itu, untuk menambah nilai jual dan kualitas produk, pemerintah pun akan melancarkan program pemberian merek. "Perlu juga program branding ini untuk mengangkat kualitas produk," tambahnya.

Lebih jauh lagi Hidayat mengungkapkan, hilirisasi ini dilakukan karena salah satu penyebab penurunan devisa adalah ekspor bahan baku yang semakin berkurang, juga untuk memberikan value added (nilai tambah) bagi produk Indonesia khususnya minyak kelapa sawit. "Jadi hilirisasi industri ini untuk memberian nilai tambah bagi nilai produk Indonesia, dan dalam perspektif industri ini untuk ketahanan industri nasional juga," imbuhnya.

Hilirisasi industri ini dikatakan Hidayat sudah dilakukan dalam beberapa tahun kebelakang. Sebagai buktinya, pada tahun 2011 ekspor produk turunan minyak kelapa sawit mencapai 61% dari total, atau naik dari 39% di tahun 2010. "Tahun 2011 ekspor produk turunan minyak kelapa sawit mencapai 61% dari total, naik dari 39% tahun 2010," tandasnya.

Sekedar Informasi Indonesia merupakan produsen utama CPO (Crude Palm Oil) dunia dengan produksi mencapai 25 juta ton. Jumlah itu dihasilkan dari lahan perkebunan seluas 8,2 juta hektar yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Sayangnya, dari produksi sebanyak itu hanya sebagian kecil yang dikonsumsi di dalam negeri. Sebagian besar CPO tersebut di ekspor dalam bentuk mentah tanpa nilai tambah lebih lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa investasi masih terkonsentrasi pada pengembangan perkebunan, sementara industri pengolahan atau hilirnya relatif masih terbatas.