Produksi Semen Ditargetkan Naik 7% di 2013

Investasi Kian Meningkat

Jumat, 28/09/2012

NERACA

Jakarta - Pemerintah menargetkan produksi semen nasional pada tahun depan meningkat 7% dibandingkan realisasi 2012 yang mencapai 60,56 juta ton berkat peningkatan kapasitas produksi oleh sejumlah produsen semen dalam negeri.

“Pada 2013, produksi semen nasional diproyeksikan mencapai 65 juta ton, naik 7% dibandingkan realisasi tahun ini sebesar 60,56 juta ton. Penambahan kapasitas pabrik terjadi menyusul optimalisasi pabrik dan meningkatnya investasi oleh produsen semen,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, di Jakarta, Kamis (27/9).

Rencana investasi pabrik semen, menurut Panggah, telah mendapatkan izin dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). “Produsen semen asal Tiongkok, Anhui Conch Cement Co Ltd., akan membangun pabrik di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, atau Papua Barat dengan kapasitas 10 juta ton per tahun. Selain itu, China Trio Bit Engineering Co Ltd juga akan mendirikan pabrik semen dengan kapasitas 1,5 juta ton per tahun di Subang, Jawa Barat,” paparnya.

State Development and Investment Cooperation (SDIC), lanjut Panggah, akan menanamkan investasinya di Indonesia dengan membangun pabrik semen berkapasitas 1 juta ton per tahun di Papua. “SDIC merupakan perusahaan semen asal China yang mengembangkan pabriknya di Papua. Sementara itu, produsen semen terbesar di Thailand, Siam Cement, juga berniat membangun pabrik berkapasitas 1,8 juta ton per tahun di Sukabumi, Jawa Barat,” ujarnya.

Panggah menambahkan, ekspansi pabrikan asal China di Indonesia semakin meningkat dengan bergabungnya PT Jui Shin yang ikut membangun pabrik semen di Karawang, Jawa Barat. “PT Jui Shin akan mendirikan pabrik dengan kapasitas 1 juta ton per tahun, dan hal ini merupakan bukti bahwa Indonesia menjadi negara tujuan investasi,” tandasnya.

Sebelumnya,Panggah juga mengatakan tingginya pembangunan properti dalam negeri dan pembangunan infrastruktur yang diprogramkan oleh pemerintah membuat konsumsi semen dalam negeri mencapai 34,3 juta ton pada periode Januari-Agustus 2012 atau tumbuh 12,8% dibandingkan dengan pencapaian periode yang sama tahun lalu sebanyak 30,4 juta ton.

Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), pertumbuhan industri semen ditargetkan minimal mencapai 12% pada tahun ini. Pada tahun lalu konsumsi semen mencapai 48 juta ton. Dengan asumsi pertumbuhan 12% itu berarti konsumsi akan meningkat sekitar 5,6 juta ton menjadi sekitar 54 juta ton pada tahun ini.

Menurut panggah permintaan produk semen selalu meningkat setiap tahun karena didorong pembangunan infrastruktur, seperti jalan, perumahan, apartemen, dan sejumlah infrastruktur lainnya. Dia menjelaskan, pelaksanaan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang dirancang pemerintah untuk periode 2011-2025 akan menggeser permintaan semen yang cukup besar ke luar Jawa.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, kinerja industri semen harus didorong untuk menjamin ketersediaan pasokan semen di dalam negeri, terutama di luar Jawa. “Pemerintah akan memberikan dukungan terhadap investasi di industri semen dan menyediakan insentif untuk kegiatan konstruksi di sejumlah area, terutama di kawasan timur Indonesia,” tuturnya.

Saat ini, terdapat sembilan produsen semen dengan total kapasitas produksi mencapai 60 juta ton per tahun. Dengan kapasitas sebesar itu, kebutuhan semen domestik diyakini dapat dipenuhi, bahkan sisanya dimungkinkan untuk diekspor.

Perusahaan semen pemerintah, seperti PT Semen Gresik dan PT Semen Baturaja, tuturnya, merupakan produsen mayoritas dengan total penguasaan pasar 44%. Adapun PT Indocement Tunggal Prakarsa menguasai 31% pasar domestik.

Konsumsi Meningkat

Sebelumnya Ketua Asosiasi Industri Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso mengungkapkan kalau industri semen nasional berpeluang tumbuh 12% pada tahun ini seiring dengan meningkatnya konsumsi domestik yang diprediksi mencapai 54 juta ton.

Geliat pembangunan infrastruktur dan properti, serta peningkatan belanja pemerintah diyakini menjadi motor pertumbuhan industri semen di dalam negeri. “Menurut estimasi saya, pertumbuhan industri semen tahun ini minimal 12%. Apabila tahun lalu konsumsi semen 48 juta ton, dengan pertumbuhan 12% berarti konsumsi akan meningkat 5,6 juta ton menjadi sekitar 54 juta ton pada tahun ini,” kata Widodo.

Dalam 5 bulan pertama tahun ini, ungkapnya, konsumsi semen nasional tumbuh sekitar 16% dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama 2011, dengan pertumbuhan tertinggi di Pulau Jawa yakni 15%. Apabila memperhitungkan aktivitas pembangunan pada Juni, tuturnya, pertumbuhan konsumsi semen pada semester I/2012 diperkirakan 14%-16%. “Porsi konsumsi semen pada semester I biasanya 48%-49% [dari total konsumsi setahun], sedangkan semester II antara 51%-52%. Hanya saja pada semester II ada bulan Ramadan dan libur panjang,” ujarnya.

Dengan mulai berproduksinya sejumlah pabrik semen baru pada tahun ini, Widodo optimistis tidak akan terjadi kekurangan pasokan semen di dalam negeri. Produsen semen lokal dipastikan tidak akan mengekspor semen sebelum kebutuhan dalam negeri aman.

“Karena memang profit di dalam negeri pasti lebih bagus daripada ekspor karena biaya transportasinya kan mahal. Bukan berarti harga semen di luar negeri murah, sama saja, tetapi kalau ditambah dengan biaya transportasi menjadi lebih besar,” jelasnya.

Meski demikian, lanjut Widodo, impor bahan baku semen atau klinker masih diperlukan pada tahun ini. “Seperti di Aceh, PT Lafarge Cement Indonesia masih mengimpor klinker sekitar 30%,” katanya.