Predikat “Ring of Fire” Tidak Halangi Pengembangan PLTN - Nuklir Untuk Energi Nasional

NERACA

Jakarta - Tidak semua wilayah Indonesia berada di ring of fire atau cincin api yang rentan terhadap gempa dan tsunami, sebaliknya banyak yang cukup stabil bagi berdirinya sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Mengingat situasi penyediaan energi konvensional dimasa mendatang semakin tidak seimbang dengan kebutuhannya, maka energi nuklir dapat dimasukan dalam perencanaan sistem energi nasional jangka panjang.

Walaupun energi nuklir pernah memberikan stigma buruk sebagai tenaga pemusnah massal, tapi pemanfaatan energi nuklir bisa menjadi salah satu jawaban untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan. "Wilayah nusantara memang banyak yang dilewati ring of fire seperti di barat Sumatera atau di selatan Jawa, tapi banyak juga lokasi yang tak terpengaruh oleh cincin api itu dan cukup stabil," kata Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot S. Wisnubroto, Kamis (27/9).

Dia mengatakan, ukuran tingkat kemakmuran suatu negara sebanding dengan konsumsi energi per kapita dimana energi per kapita Indonesia saat ini hanya 591 kWh per kapita, sangat rendah dibanding Malaysia 3.490 kWh per kapita, Thailand 2.079 kWh per kapita bahkan Vietnam 799 kWh per kapita. Selain faktor tapak yang stabil, tambah Djarot, teknologi PLTN yang akan dipakai Indonesia harus berbeda dengan teknologi yang digunakan di Fukushima Jepang, apalagi Chernobyl yang masih menggunakan teknologi usang.

Batan masih mengkaji Pulau Bangka di timur Sumatera yang saat ini dinilai sebagai salah satu wilayah yang cukup stabil. Namun, pengkajiannya masih berjalan dan dijadwalkan baru selesai pada akhir 2013. Kepala Pusat Pengembangan Energi Nuklir Batan Sarwiyana Sastranegara mengungkapkan, daerah seperti Kalimantan dan banyak wilayah lain memang sangat stabil, namun PLTN dengan kemampuannya membangkitkan energi rata-rata 1.000 MW per unit hanya dipasang di wilayah yang masyarakatnya membutuhkan listrik skala besar seperti Jawa-Sumatera.

Tuntutan Kebutuhan Listrik

Dia mengatakan, selama bertahun-tahun Indonesia merdeka, baru memiliki energi listrik 35 ribu MW, padahal pada 2025 Indonesia dituntut memiliki energi listrik berkapasitas 115 ribu MW. "Dari manakah selisih sebesar ini didapatkan? Tidak mungkin hanya mengandalkan energi fosil, apalagi energi alternatif seperti energi surya dan angin," kata Sarwiyana.

Perlu diketahui Jepang telah menggunakan sebesar 10% energi listrik berasal dari energi alternatif, dimana 9% diantaranya merupakan energi air, sedangkan energi surya, angin dan lainnya hanya 1%. Sementara, Indonesia masih terperangkap dengan kemanjaan pengguna energi fosil didukung dengan kebijakan Pemerintah yang masih memberikan subsidi, sehingga mengakibatkan energi alternatif sulit berkembang karena dari segi harga kurang menarik.

Pengembangan teknologi PLTN memang selalu memicu pro dan kontra di kalangan masyarakat awam terhadap teknologi tersebut, maupun di golongan ilmuwan yang mengerti secara umum. Karena dalam pengoperasian PLTN, jaminan terhadap keselamatan menjadi hal yang penting untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Untuk meningkatkan pemahaman dan kepercayaan masyarakat, perlu diberikan penjelasan tentang tata cara atau prosedur yang aman dalam pengoperasian suatu instalasi nuklir, sehingga akan terjadi saling pengertian antara masyarakat dengan pihak operator instalasi.

Related posts