Dilema Energi Berbasis Pangan

Ketika negara-negara lain di dunia sibuk mempersiapkan pengembangan energi alternatif dan mengamankan produk pangan berbasis biji-bijian, Indonesia malah terjebak dalam kebijakan energi. Krisis energi yang terjadi dewasa ini disebabkan oleh tidak seimbangnya permintaan akan energi yang terus meningkat dengan pasokan energi yang memiliki ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang tak dapat diperbaharui, seperti minyak bumi, batubara dan gas alam.

Ketergantungan ini merupakan ancaman yang serius bagi dunia karena cadangan minyak bumi yang diketahui telah menipis, ketidakstabilan harga minyak, serta polusi gas rumah kaca akibat pembakaran bahan bakar fosil. Indonesia tidak seperti negara lain yang mulai mempersiapkan kebutuhan energi alternatif dan memenuhi kebutuhan konsumsi pangan. Sungguh ironi bagi sebuah negara agraris yang seharusnya tidak kekurangan untuk pengembangan keduanya.

Indonesia bukannya kekurangan pangan dan energi. Tapi, tak mampu mengelola sumber daya yang ada. Krisis energi tentunya akan berdampak buruk, dimana keberadaan dan ketersediaan energi merupakan hal yang krusial dan menjadi suatu keharusan. Krisis energi tersebut akan mengakibatkan kerugian, baik secara materiil maupun imateriil seperti hilangnya kepercayaan investor, konsumen, terhambatnya kreativitas, inefisiensi, risiko gejolak sosial, dan lain-lain. Solusi yang biasa ditawarkan untuk mengatasi krisis energi yang terjadi adalah pengembangan dan penggunaan sumber energi alternatif, salah satunya bahan bakar nabati atau biofuel.

Namun, tanpa disadari penanganan krisis energi dengan membuat sumber energi alternatif nabati dapat memicu terjadinya masalah baru, yaitu krisis pangan. Hal ini disebabkan karena bahan bakar dalam bentuk etanol dan biodiesel ini berbahan baku produk pangan seperti kedelai, singkong, jagung, tebu, gandum, sorgum dan kelapa sawit. Ketika sumber pangan pokok manusia tersebut dialihfungsikan menjadi sumber energi alternatif, tentunya akan berdampak pada kelangkaan pangan dan melambungnya harga pangan.

Harga bahan pangan untuk produksi biofuel yang membumbung tinggi di pasar internasional dapat menyebabkan perusahaan lokal memilih untuk mengekspor daripada menjualnya ke pasar domestik demi kepentingan rakyat. Selain itu, tingginya permintaan pangan menyebabkan berlakunya hukum ekonomi bagi petani, dimana komoditas yang paling memberikan keuntungan akan diserbu sedangkan komoditas lainnya kurang diminati sehingga terjadi tarik-menarik antara food for food dan food for fuel. Tentunya, hal ini dapat mengancam kestabilan pangan dunia.

Memang peralihan energi fosil ke energi alternatif nabati memberikan angin segar bagi pelaku pertanian untuk mendapatkan harga yang lebih baik. Namun, peningkatan harga pangan yang terlalu drastis pun akan membawa korban bagi pihak yang lemah. Jadi, dapat dilihat bahwa solusi yang sepertinya superior sekalipun, ternyata bisa menimbulkan masalah baru terhadap krisis lainnya. Pencarian energi alternatif yang benar-benar cocok memang rumit dan memakan waktu serta biaya yang tak sedikit.

BERITA TERKAIT

Pemkab Sukabumi Dorong Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan

Pemkab Sukabumi Dorong Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan   NERACA Sukabumi - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi, Jawa Barat, mendorong energi baru terbarukan…

Investasi Energi, Jepang Minta Regulasi Diperbaiki

    NERACA   Jakarta – Managing Director The Energy Conservation Center Japan (ECCJ), Masahide Shima menyatakan bahwa banyak investor…

DEAL Perkuat Bisnis Energi Lewat Proyek IPP - Beri Modal Anak Usaha Rp 16 Miliar

NERACA Jakarta – Resmi mencatatkan sahamnya di pasar modal dan menjadi emiten ke-50 di tahun 2018, PT Dewata Freightinternational Tbk…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kinerja Buruk PNS

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi Neraca Melihat data kinerja pegawai negeri sipil (PNS) yang dipaparkan Kementerian Pendayagunaan Aparatur…

Perlu Memahami Konsep TKDN

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam sistem industri harus hadir dalam dimensi…

Politik dan Ekonomi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Drama politik ekonomi semakin dipertontonkan para elite politik…