Orang Kaya Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 27/09/2012

NERACA

Jakarta—Kalangan orang-orang kaya di Indonesia ternyata memiliki peran penting terhadap angka pertumbuhan ekonomi. "Orang-orang kaya ternyata berperan juga dalam pertumbuhan,karena mereka banyak membelanjakan uangnya di sektor otomotif, properti dan lainnya, sehingga penjualan otomotif dan properti meningkat dan bisa menjadi faktor penentu pertumbuhan ekonomi," kata Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono di Jakarta, Rabu.

Meski demikian, lanjut Toni, peningkatan angka pertumbuhan ekonomi justru memperlihatkan ketidakmerataan, karena ekonomi yang tumbuh hanya berpihak pada orang-orang kaya saja. "Sebetulnya kalau kita belajar teori pembangunan semua negara akan mengalami hal yang sama, jadi begitu pertumbuhan ekonomi meningkat, yang tumbuh itu sebetulnya ya orang-orang kaya itu, sementara orang yang miskin tetap tumbuh tapi tidak secepat orang kaya," ujarnya.

Dijelaskannya, peningkatan angka pertumbuhan terkadang menciptakan 'gap' antara si kaya dan si miskin. Hal ini adalah dampak tahap pertama dari pertumbuhan ekonomi tinggi.

Dampak tahap pertama dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah ketidakmerataan, tapi nanti secara perlahan akan terjadi pemerataan, ini terjadi di semua negara. "Itu lama-lama kalau pertumbuhannya makin cepat dan angkanya makin tinggi nanti 'gap'nya itu akan mengecil, tapi perlu waktu," ungkapnya

Menurut Toni, ketika perekonomian Indonesia tumbuh tinggi, terjadi fenomena bahwa orang miskin tetap ketinggalan perekonomiannya. Tapi jika perekonomian Indonesia bisa mencapai angka diatas tujuh %, kemungkinan ;gap' antara orang kaya dan orang miskin akan menjadi kecil. "Caranya agar 'gap' mereka mengecil adalah dengan pertumbuhan yang tinggi, tapi bagaimana caranya agar pertumbuhan jadi lebih tinggi lagi, ya Indonesia harus bisa tumbuh diatas tujuh %,"tambahnya.

Selama ini kita tumbuh 6,0 %, 6,5 %, 6,3 % dan tidak pernah menyentuh tujuh % karena lemahnya infrastruktur. "Kalau kita bisa membangun infrastruktur, saya yakin pertumbuhan bisa mencapai tujuh % dan pemerataan pertumbuhan bisa lebih baik," imbuhnya

Ditempat terpisan, pemenang nobel ekonomi Thomas J. Sargent mengingatkan Indonesia untuk menjaga fiskal agar tetap fleksibel di tengah krisis global yang terjadi di Eropa dan Amerika. "Ketika Eropa dan China menderita dampak dari perdagangan, yang dapat dilakukan negara sekitarnya adalah mencoba untuk menjadi bijaksana dan dapat menghemat anggaran, sehingga mereka memiliki fleksibilitas dalam kebijakan fiskal," ujarnya

Menurut Thomas, Indonesia sudah berusaha menjaga fiskalnya dengan melakukan penghematan anggaran di beberapa bidang. Bahkan, Thomas memuji pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terjaga di angka enam persen saat gejolak global terjadi. "Saya membandingkan angka pertumbuhan ekonomi di antara Indonesia dan Amerika. Dua tahun terakhir, Indonesia lebih baik dari Amerika dengan tumbuh enam persen, sementara Amerika hanya satu sampai dua persen. Indonesia lebih stabil dari Amerika," ujar Thomas. **bari/cahyo