Ketidakpastian Ekonomi Global

Kamis, 27/09/2012

Kendati peraih nobel ekonomi 2011 Thomas J. Sargent mengagumi perekonomian Indonesia yang tumbuh dengan baik di tengah lesunya perekonomian global saat ini, kondisi ekonomi dunia saat ini masih penuh ketidakpastian, terutama karena penyelesaian krisis ekonomi Eropa yang berlarut-larut, telah mendorong pemburukan ekonomi dunia sehingga IMF dalam proyeksi ekonomi dunia 2012 diperkirakan akan tumbuh 3,3%.

Bahkan ekonomi Eropa diperkirakan akan mengalami kontraksi 0,5% pada 2012. Demikian juga pertumbuhan ekonomi negara sedang berkembang di Asia diperkirakan akan menurun 0,7% menjadi 7,3% dengan laju pertumbuhan ekonomi ASEAN-5 diperkirakan turun 0,4% (termasuk Indonesia).Tampaknya krisis ekonomi Eropa yang semakin buruk dan ketidakpastian solusinya telah menyandera ekonomi dunia ke dalam ketidakpastian dan memberikan dampak negatif pada perekonomian dunia.

Memburuknya ekonomi dunia juga sudah pasti berimbas ke Asia yang selama ini terkenal tangguh. Bahkan pertumbuhan ekonomi China pada triwulan II/2012 turun menjadi 7%, padahal pada saat krisis ekonomi AS ekonominya masih tumbuh di atas 9% dan ekonomi India juga tumbuh tak lebih 5% pada kuartal II/2012.

Dampak krisis ekonomi global tampaknya mulai terasa di Indonesia mulai akhir 2011 di mana nilai ekspor mulai turun. Data BPS menunjukkan nilai ekspor Desember 2011 hanya mencapai US$17,20 miliar, dibandingkan dengan US$18,3 miliar pada Juni 2011.

Nilai ekspor nonmigas dalam periode yang sama juga turun menjadi US$13,60 miliar pada Desember 2011 dari USD14,82 miliar pada Juni 2011. Pengusaha pun mulai merasakan berkurangnya ekspor sehingga mulai mengurangi karyawan ataupun jam kerja karyawan. Padahal dilihat dari ekspor tahunan selama periode 2011 masih tumbuh 29,05%.

Bahkan data dari BI menunjukkan neraca berjalan juga semakin tipis surplusnya, tinggal US$199 juta pada kuartal 3/2011. Bahkan neraca pembayaran mulai defisit US$3,2 miliar pada triwulan I/2012 dan terus melebar menjadi US$6,9 miliar pada triwulan II/2012. Hal ini terjadi karena surplus perdagangan barang dan jasa semakin tipis dan transaksi modal dan finansial yang mulai defisit sejak kuartal III/2011.

Melihat kondisi demikian, Indonesia sejatinya harus mulai mewaspadai dampak krisis ekonomi Eropa yang membawa pengaruh besar pada perekonomian global pada saat ini. Apalagi perkembangan internasional yang negatif tersebut sayangnya dibarengi dengan situasi domestik yang menimbulkan banyak ketidakpastian serta menghangatnya suasana sosial dan politik.

Apalagi tingkat daya beli masyarakat Indonesia cepat atau lambat akan tergerus, akibat meningkatnya tarif listrik, tarif tol Jakarta-Cikampek, tarif KRL Commuter Line dan kenaikan harga elpiji 12 kg dalam waktu dekat ini sudah tidak terelakkan lagi.

Tidak hanya itu. Kenaikan gaji pegawai negeri sipil (PNS) dalam APBN 2013 juga turut memberikan andil cukup signifikan terhadap laju inflasi di negeri ini. Hal tersebut dipastikan akan mempengaruhi iklim bisnis dan investasi di Indonesia, jika inflasi pada triwulan I/2013 akan merangkak naik di luar target pemerintah.

Masalah ini akan bertambah parah jika kondisi global yang penuh ketidakpastian terus berlarut-larut. Ini tentunya akan membuat ekonomi Indonesia menghadapi guncangan yang tidak ringan. Oleh karena itu, khususnya kalangan menteri ekonomi Indonesia, dapat lebih berkoordinasi yang lebih harmonis terutama menyangkut kebijakan tarif, karena ini termasuk sebagai faktor administrated price yang sepenuhnya di bawah kekuasaan pemerintah. Semoga!