Berdayakan Peran Perempuan Dalam Mengelola UKM

Partisipasi Aktif Entaskan Kemiskinan

Kamis, 27/09/2012

NERACA

Jakarta – Keberadaan usaha kecil dan menengah (UKM) mempunyai peranan penting bagi perekonomian dalam negeri, terlebih kekokohan sektor UKM terbuki mampu bertahan ditengah krisis ekonomi 1998. Berangakat dari situ, pemerintah mempunyai kepentingan besar agar industri UKM bisa terus ditingkatkan dan termasuk memiliki daya saing ditengah dinamika pasar yang terbuka.

Kehadiran UKM mempunyai nilai lebih, selain mampu mendorong perekonomian sektor ril juga membuka lapangan pekerjaan dan termasuk mengentaskan kemiskinan. Namun dalam perjalanannya, industri UKM sulit berkembang lantaran terhambat masalah klasik soal permodalan dari perbankan karena UKM dinilai tidak bankable.

Kata Deputi Pengembangan Kewirausahaan dan Pengembangan SDM, Kementerian Koperasi dan UKM, Taty Ariati, dari keseluruhan UKM, baru sekitar 45%-55% UKM di Indonesia yang mendapatkan akses ke perbankan, sehingga perlu ada usaha yang lebih maksimal agar terjadinya kemerataan kucuran dana dari perbankan kepada UKM. “Salah satu upaya adalah saat ini pemerintah telah meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan menggandeng sejumlah perbankan”, ucapnya.

Karena bagaimapun juga masih positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa lepas ditopang dari sektor UKM. Bahkan, UKM milik perempuan pun tidak mau kalah ikut serta dalam kontribusinya kepada ekonomi nasional. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia pada 2010 sekitar 60% UKM dikelola oleh perempuan Indonesia. Hal ini tanpa disadari bahwa perempuan memiliki peranan penting dalam meningkatkan perekonomian negara.

Sayangnya, gerak laju kesetaraan gender tersebut masih terkendala kepercayaan pihak perbankan yang masih rendah pada perempuan terutama untuk menyalurkan permodalan. Perbankan nasional cenderung masih menilai pengusaha perempuan belum memenuhi kriteria 5C (character, capacity, capital, collateral dan condition) yang diperlukan perbankan untuk memitigasi risiko kreditnya.

Oleh karena itu, International Finance Corporation (IFC) menilai bank masih kurang memberi perhatian khusus bagi nasabah perempuan dalam mengelola UKM. Direktur IFC Sergio Pimenta pernah bilang, masih banyak perusahaan dan bank kurang memberikan perhatian kepada nasabah wanita dan menyadari daya beli wanita. Padahal, wanita memiliki kemudahan untuk menjadikan sebagai target pemasaran, “Wanita memiliki potensi untuk menghasilkan hubungan perbankan yang berkelanjutan dan menguntungkan,” katanya.

BII Mirco Finance

Dia mengungkapkan, lebih dari 90% UKM milik wanita menggunakan tabungan pribadi mereka untuk membangun usahanya, dan kebanyakan dari mereka berada di luar Jakarta . Merespon pentingnya peranan perempuan dalam sektor UKM untuk kaitanya dengan penopang ekonomi nasional, PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) sudah aktif memberdayakan perempuan melalui micro finance.

Presiden Direktur BII Dato Khairussaleh bin Ramli mengatakan, pemberdayaan perempuan melalui micro finance adalah bentuk tanggung jawab sosial perusahaan dengan memberikan dukungan dana bergulir sebesar Rp 1 miliar, “Sejalan dengan misi Humanizin Financial Services, kami memiliki komitmen untuk berada di tengah masyarakat serta tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Komitmen ini juga menjadi bagian dari upaya BII untuk memberikan kontribusi positif dalam mendukung pembangunan masyarakat di Indonesia ,”ungkapnya.

Program BII ini berangkat dari keprihatinan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia telah mencapai 32,53 juta jiwa, di mana 70% di antaranya adalah perempuan. Selain itu, dia juga menuturkan, langkah ini dilakukan karena perseroan memiliki komitmen tinggi untuk meningkatkan daya saing pengusaha mikro perempuan melalui program pemberdayaan perempuan micro financing. Terlebih, BII memiliki kekuatan produk perbankan unggulan untuk nasabah perempuan seperti tabungan BII Woman One dan fasilitas pinjaman BII SUKMA.

Asal tahu saja, perempuan memiliki beberapa kelebihan yang mungkin tidak dimiliki kaum pria pada umumnya dalam menjalankan suatu usaha. Pertama, ketelatenan. Biasanya perempuan akan lebih telaten dalam menjalankan suatu model usahanya. Biasanya perempuan mampu membuat suatu produk memiliki nilai lebih menarik dan mempunyai daya beli tinggi.

Kedua, networking. Perempuan biasanya mudah bergaul dan memiliki suatu mekanisme pendekatan yang memudahkan perempuan memiliki jaringan lebih luas. Terlebih, perempuan jeli melihat peluang bisnis dari networking tersebut.

Ketiga, ketangguhan diri. Perempuan ketika dihadapi dengan PHK atas pekerjaan, biasanya tidak mudah putus asa. Biasanya perempuan melihat kegagalan tersebut dengan cara berwirausaha dengan pengalaman yang dimilikinya.

Oleh karena itu, UKM perempuan yang didanai perbankan juga memiliki nilai lebih daripada UKM yang tidak dikelola oleh kalangan perempuan. Alasannya, Non Performing Loan (NPL) yang ada bisa dikatakan kecil atau bisa dikatakan 0%.

Menurut Corporate Communications BII Esti Nugraheni, kecilnya NPL yang terjadi dari pendanaan kepada UKM perempuan disebabkan perempuan lebih teliti dalam mengelola dana. Pada akhirnya dapat mengembalikan dana dengan baik. “Biasanya UKM perempuan itu mengembalikan dananya dengan baik dan tepat. Jadi, memang NPL-nya bisa dikatakan 0%,”tandasnya.

Maka melalui program corporate social responsibility (CRS) pemberdayaan perempuan melalui micro financing, pada akhirnya diharapkan dapat menurunkan tingkat kemiskinan dengan melaksanakan pemberdayaan perempuan untuk mendapat penghasilan yang lebih baik, meningkatkan pengetahuan dan kualitas sumber daya manusia dan menyiapkan komunitas perempuan menjadi komunitas yang bankable.

Program CSR ini, BII didukung Maybank Foundation memberikan dukungan dana bergulir kepada Yayasan Mitra Dhuafa (Yamida). Melalui Koperasi yang dimilikinya, yakni Koperasi Mitra Dhuafa (Komida) akan menyalurkan fasilitas micro financing kepada 1.250 perempuan di tiga target area, mencakup Jonggol (Jawa Barat), Sragen (Jawa Tengah) dan Kulon Progo ( Yogyakarta ). Dana bergulir ini selanjutnya akan dimanfaatkan bagi pengembangan usaha mikro seperti kerajinan dan makanan.

Berspektif Gender

Kepedulian dan keberpihakan pada nasabah perempuan, tidak hanya ditunjukkan PT Bank Internasional Indonesia Tbk melalui pemberdayaan micro finance tetapi juga produk tabungan melalui BII Woman One. Melalui produk ini, BII berusaha untuk memenuhi kebutuhan kaum perempuan untuk menabung, meminjam, hingga memberikan dukungan permodalan.

Tak hanya itu, Tabungan BII Woman One pun merupakan tabungan wanita pertama di Indonesia yang memberikan SATU (ONE) SOLUSI untuk menjawab berbagai kebutuhan wanita Indonesia, mulai dari bebas biaya administrasi bulanan, perlindungan asuransi female care untuk kanker serviks, kanker payudara serta osteoporosis, smart saving dengan suku bunga tiga kali lipat terhadap kenaikan saldo rata-rata bulanan dan smart spending dengan cash back untuk setiap transaksi.

Disamping itu, kartu ATM/Debit Woman One didisain khusus mewakili aspirasi wanita Indonesia . Keunggulan lain yang dapat diperoleh nasabah dari Tabungan BII Woman One diantaranya akses jaringan yang luas melalui ATM BII, ALTO, ATM Bersama, Prima dan Cirrus serta kemudahan dalam melakukan transaksi belanja di EDC yang berlogo Mastercard, Maestro dan Debit BCA. “Kami berkomitmen untuk meningkatkan kualitas produk dan pelayanan bagi perempuan, sehingga akses mereka untuk mendapatkan dukungan permodalan lebih muda,”kata Direktur Perbankan Konsumer BII, Stephen Liestyo.

Lewat tabungan BII Woman One pula kaum perempuan akan mendapatkan sejumlah kemudahan dalam bertransaksi perbankan, misalnya dalam mengajukan pinjaman modal guna mendukung bisnis mereka. “Selama ini harus diakui bahwa kaum wanita belum sepenuhnya terlayani oleh sektor perbankan,”ujarnya.

Direktur BII Thila Nadason menambahkan, sejak awal tabungan BII Woman One memang diciptakan untuk menjawab aneka kebutuhan nasabah perempuan yang mempunyai kebutuhan yang spesifik dan makin berkembang dari waktu ke waktu. **bani