Konsumsi Lokal Naik Tajam, Ekspor Semen Anjlok 65%

Dampak Pembangunan Infrastruktur

Kamis, 27/09/2012

NERACA

Jakarta - Ekspor semen sepanjang Januari sampai dengan Agustus 2012 mengalami penurunan 65% akibat meningkatnya permintaan di dalam negeri yang disebabkan oleh pembangunan infrastruktur seperti jalan, perumahan dan apartemen.

Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur,Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, mengatakan, tingginya permintaan semen di dalam negeri membuat produsen semen fokus menggarap pasar domestik dan kinerja ekspor semen turun hingga 65%. Ekspor semen dari Januari sampai dengan Agustus 2012 hanya 60.000 ton dan pada periode yang sama tahun lalu sebesar 172.000 ton.

Permintaan semen, menurut Panggah, selalu meningkat setiap tahun akibat pembangunan jalan, perumahan, apartemen, dan sebagainya. “Pertumbuhan ekonomi secara makro mendorong permintaan semen. Hal tersebut membuat permintaan meningkat dan produsen semen mengurangi porsi ekspornya,” paparnya di Jakarta, Rabu (26/9).

Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), lanjut Panggah, penjualan semen di dalam negeri dari Januari hingga Agustus sebesar 34,3 juta ton. “Pada periode yang sama tahun lalu, penjualan semen di dalam negeri hanya sebanyak 30,4 juta ton,” ujarnya.

Panggah menambahkan, pihaknya berharap kinerja industri semen nasional dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan industri. “Pemerintah berharap industri semen dalam negeri memiliki peranan dalam tumbuhnya industri manufaktur,” tandasnya.

Pasar Domestik

Di tempat berbeda, Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Trimuryono mengatakan para pemain di industri semen saat ini mengutamakan pasar dalam negeri karena permintaan lokal yang terus meningkat ditopang perekonomian nasional yang positif.

”Selain itu, kapasitas pabrik tetap. Ekspensi belum jadi dan baru tahun ini dilakukan secara agresif. Akibatnya, ekspor dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan domestik yang melonjak dalam 2 tahun ini,” katanya.

Data ASI menunjukkan permintaan semen domestik sepanjang semester 1/2012 naik 12% menjadi 19,59 juta ton dibandingkan denga periode yang sama 2011 yakni 17,57 juta ton. Seiring kondisi perekonomian yang membaik, konsumsi semen domestik sampai dengan akhir tahun ini diprediksikan menembus 42 juta ton.

Volume ekspor semen pernah menembus 10 juta ton pada 2011, tetapi kemudian terus merosot hingga tinggal 4 juta-an. Semen produksi lokal dipasarkan ke sejumlah negara di Asia seperti India, Bangladesh, dan Sri Lanka, serrta sebelum menembus pasar Eropa maupun Amerika. Jenis produk yang di ekspor kebanyakan semen Portland.

”Tahun ini saya perkirakan ekspor semen sekitar 1,5 juta ton hingga 2 juta ton. Ekspor akan kembali bergairah pada 2012 setelah ada penambahan kapasitas dari ekspansi sejumlah produsen, meski volumenya belum sebesar 1998,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Kimia Hilir Kementrian Perindustrian Toni Tanduk mengatakan volume ekspor semen saat ini masih sangat kecil dibandingkan dengan angka produksi nasional. Selain permintaan pasar domestik yang kuat, kata Tony, biaya transportasi yang cukup tinggi turut memengaruhi minat para produsen untuk memperkuat penjualan di pasar internasional.

”Semen ini kan jenis barang bulk (curah) yang berat dan ongkos transportasinya cukup mahal. Rata-rata volume ekspor semen dalam beberapa tahun terakhir hanya 1 juta ton, tahun ini saya perkirakan 1,5 juta ton,” katanya.

Tambahan Kapasitas

Lebih lanjut, Urip memproyeksikan tambahan kapasitas produksi di industri semen hingga 2012 mendatang mencapai 8,8 juta ton per tahun. Angka ini akan mendongkrak kapasitas terpasang di industri semen yang tahun ini diperkirakan naik menjadi 52,32 juta ton.

Pada 2009, kapasitas terpasang industri semen nasional 46,94 juta ton. ”Ini sejalan dengan ekspansi beberapa produsen seperti Semen Gresik, Semen Tonasa, Semen Padang, dan produsen lainnya, termasuk investasi baru oleh investor lokal yang membangun pabrik di Jember berkapasitas 300.000 ton per tahun,” ujarnya.

Urip mengakui para produsen saat ini melakukan langkah efisiensi produksi dan mengembangkan pembangkit listrik secara mandiri, termasuk mengusung bahan bakar alternatif, untuk mengatasi pasokan listrik yang terbatas dan dampak kenaikkan tarif dasar listrik.

”Kebanyakan sudah banyak produsen yang bisa mengantisipasi dengan melakukan penghematan dan mengembangkan pembangkit. Harapannya, kenaikkan biaya produksi dapat dikekang sehingga berpengaruh ke harga produk,” tandasnya.

Masalah lain yang dihadapi para produsen semen saat ini adalah keterbatasan lahan untuk ekspansi produksi dan belum optimalnya dukungan sekttor perbankan terhadap industri ini. ”Investasi yang benar-benar baru saat ini belum ada, karena terbentur kondisi lahan dan kedua, mereka harus bersaing dengan pemain eksisting. Masalah suplai listrik khususnya di luar Jawa, juga menjadi kendala,” kata dia.