Quantitative Easing Bisa Pengaruhi Rupiah

Kamis, 27/09/2012

NERACA

Jakarta-- Bank Pembangunan Asia (adb) mengatakan kebijakan "quantitative easing" (QE) ketiga yang diluncurkan Pemerintah Amerika Serikat (AS) bisa mendorong penguatan rupiah. "QE ketiga akan mengalirkan capital inflow ke negara-negara Asean termasuk Indonesia, tetapi ini belum tentu positif bagi perekonomian Indonesia karena pengaruhnya akan memperkuat nilai tukar rupiah," kata Kepala Kantor Integrasi Ekonomi Regional Bank Pembangunan Asia,Iwan Jaya Azis

Menurut Irwan, penguatan nilai tukar rupiah bisa merugikan perekonomian Indonesia karena nilai ekspor menjadi turun, sementara volume ekspor Indonesia saat ini sedang melemah karena melambatnya perekonomian dunia.

Dikatakannya, QE ketiga diperkirakan akan lebih merata penyebarannya ke beberapa negara Asia karena China dan India saat ini sedang melambat pertumbuhan ekonominya. "Dulu lebih banyak ke China dan India, tetapi sekarang akan lebih menyebar terutama ke Asean dan Indonesia tentunya," tambahnya

Namun, Iwan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia akan tetap melambat pada tahun ini dibanding 2011, sementara untuk tahun 2013 pertumbuhan ekonomi Asia akan sangat tergantung pada kebijakan yang dilakukan di Eropa dan Amerika Serikat.

Menurut Iwan, dampak krisis ekonomi global ini sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia dalam dua sektor yaitu di sektor riil karena melemahnya ekspor negara-negara Asia ke Amerika Serikat dan Eropa, serta dampak di sektor keuangan. "Dampak di sektor keuangan terlihat dari terus meningkatnya imbal hasil obligasi yang diterbitkan negara-negara Asia," tegasnya

The Federal Reserve atau The Fed (Bank Sentral AS) pekan lalu mengumumkan rencana untuk membeli pinjaman properti (debt mortgage) sebesar 40 miliar dolar AS per bulan dalam kebijakan QE ketiga.

Dari pantauan lapangan, mata uang rupiah pada Rabu sore bergerak melemah menembus level Rp9.600 per dolar AS dipicu bertambahnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap krisis di Eropa. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Rabu sore bergerak melemah sebesar 35 poin menjadi Rp9.615 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.580 per dolar AS. "Melemahnya mata uang euro berdampak pada rupiah di perdagangan hari Rabu akibat kian kuatnya ketidakpastian penanganan krisis di Eropa menyusul aksi unjuk rasa di negara Spanyol," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Rabu.

Ariston menambahkan, aksi unjuk rasa itu dipicu oleh kekhawatiran terhadap sulitnya pembiayaan ditengah ketidakpastian pemerintah Spanyol dalam menyelesaikan masalah fiskal negerinya. "Katalis negatif juga muncul dari ancaman 'downgrade' peringkat hutang Spanyol ke level 'junk' oleh Moody's, yang menurut sejumlah kalangan mungkin akan terjadi dalam pekan ini," jelasnya

Selain itu, lanjut Ariston, kekhawatiran terhadap defisit Yunani juga masih membayangi setiap pergerakan mata uang berisiko. Dikabarkan defisit Yunani dapat mencapai 20 miliar euro, hampir dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya. **cahyo