Divestasi Matahari Masih Berprospek Negatif

NERACA

Jakarta – Keputusan PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) melakukan divistasi bisnis non inti belum mampu merubah rating perseroan. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) melihat divestasi bisnis non inti PT Matahari Putra Prima Tbk dapat berdampak negatif terhadap peringkat perseroan, obligasi dan sukuk ijarahnya.

Analis Pefindo Anies Setyaningrum mengatakan, aksi korporasi Matahari belum mengubah rating negatif perseroan, “Untuk itu, Pefindo mempertahankan prospek negatif untuk peringkat perusahaan," katanya dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, peringkat MPPA dan obligasi III 2009 saat ini 'A+', sedangkan peringkat sukuk ijarah II 2009 'A+(sy)'. Bisnis non inti memberikan kontribusi sekitar 20% dari EBITDA konsolidasi Matahari. Perusahaan tidak mendapatkan kompensasi dari divestasi bisnis non inti karena hasil divestasi akan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen dan penguarangan modal.

Hal ini mengakibatkan leverage keuangan Matahari, yang diukur dengan rasio utang terhadap EBITDA, akan meningkat dan proteksi arus kas yang diukur dengan rasio pendapatan bunga terhadap EBITDA akan melemah.

Prospek akan direvisi menjadi stabil jika pertumbuhan bisnis Hypermarket menguat secara signifikan dibandingkan dengan proyeksi, sehingga hal ini dapat megnkompensasikan bisnis non inti yang didivestasikan.

Matahari adalah salah satu perusahaan ritel makanan terbesar di Indonesia dengan sasaran pelanggan kelas menengah. Pada Juli 2012, Matahari mengoperasikan 71 Hypermart, 23 Foodmart, 70 Boston HBC Center, 23 Times Book Store, dan 100 Time Zone di Indonesia. Per 31 Maret 2012, pemegang saham utama perseroan adalah PT Multipolar Corporation Tbk, dengan kepemilikan 50,23% dan PT Star Pacific Tbk 6,29%.

Bayar Utang

Sebagai informasi, PT Matahari Putra Prima Tbk menjual aset atau bisnis non inti seperti restoran, toko buku dan lainnya. Langkah penjualan divestasi tersebut juga dilakukan agar perseroan fokus pada bisnis inti perseroan. Nantinya, hasil penjualan aset tersebut akan digunakan untuk membayar utang pinjaman bank dan obligasi jatuh tempo sekitar Rp2, 4 triliun.

Sekretaris Perusahaan PT Matahari Putra Prima Tbk Lina Latif pernah bilang, penjualan aset dan bisnis inti tersebut akan membuat perseroan semakin fokus dan mengintensifikasi pertumbuhan Hypermart sebagai bisnis inti, “Kontribusi pendapatan dari unit usaha bisnis non inti tersebut hanya mewakili 5% dari total pendapatan perseroan,"ujarya.

Dia menyebutkan, intensifikasi tersebut meliputi ekspansi gerai baru lebih agresif dan peningkatan kinerja gerai yang telah beroperasi dengan didukung oleh strategi promosi dan distribusi semakin baik. Penjualan bisnis non inti tersebut pun tidak akan mempengaruhi perseroan karena kontribusi masih kecil.

Lebih lanjut dia mengatakan, dana hasil penjualan bisnis non inti kepada PT Multipolar Tbk (MLPL) tersebut sebagian akan digunakan untuk melunasi sebagian utang. "Sebagian dana yang akan diterima Perseroan dari hasil pelaksanaan rencana transaksi dalam jumlah sebesar kurang Rp2,4 triliun akan dicadangkan untuk membayar seluruh atau sebagian pinjaman perseroan terhadap kreditur bank dan pemegang obligasi serta sukuk ijarah perseroan," kata Lina.

Selain itu, perseroan akan mendapatkan kelebihan likuiditas dana kas dan setara kas yang mencapai Rp6,1 triliun dari hasil penjualan aset atau bisnis non inti tersebut. Oleh karena itu perseroan akan melakukan penyisihan modal kerja Hypermart dan food division, pencadangan pembayaran seluruh dan sebagian utang bank kreditur dan pemegang obligasi serta sukuk Ijarah, dan kelebihan likuiditas akan didistribusikan kepada pemegang saha, dalam bentuk dividen dan penurunan nilai nominal saham atau dicadangkan sebagai tambahan modal kerja. Lina menegaskan, pihaknya tidak menjual aset atau bisnis non inti kepada pihak lain selain PT Multipolar Tbk. (bani)

BERITA TERKAIT

BEI Masih Nunggu Kesiapan Vendor Anggota Bursa - Soal Perubahan Settlement T+2

NERACA Jakarta – Terobosan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memacu daya saing industri pasar modal dengan memangkas waktu penyelesaian…

Akses Perhutanan Sosial Lahan Gambut Masih Kurang

Akses Perhutanan Sosial Lahan Gambut Masih Kurang NERACA Jakarta - Hasil riset Konsorsium Geodata Nasional (GDN) di sejumlah desa di…

Harga Beras Medium Naik, Masih Perlu Impor?

  NERACA Jakarta - Dalam Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga beras kualitas medium dalam tercatat terus…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perkuat Pasar Ekspor Ke Afrika - Sido Muncul Bikin Anak Usaha di Negeria

NERACA Jakarta - Setelah sukses membuka pasar ekspor ke Filipina dengan berlanjutnya rencana pembukaan kantor pemasaran disana, kini PT Industri…

Gelar Rights Issue, SCMA Bidik Rp 3,58 Triliun

Cari pendanaan di pasar modal lewat penerbitan saham baru atau rights issue, kini tengah marah dilakukan emiten. Begitu juga halnya…

Bahana Sekuritas Taksir IHSG Capai 7.000

NERACA Jakarta – Pencapaian rekor baru indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir tahun 2017…