Investasi Panjang Ciptakan Hunian Ramah Lingkungan di Jakarta

Tidak Sekedar Jualan Go Green

Kamis, 27/09/2012

Oleh : Ahmad Nabhani

Jakarta – Kepadatan jumlah penduduk ditambah dengan kemacetan yang makin menggila seiring aktifnya perekonomian, makin tidak bersahabat saja Jakarta sebagai ibu kota yang jumlah penduduknya sudah melebihi kapasitas. Persoalan lain diperburuk dengan minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan hingga kini belum menemukan solusi pasti, sehingga Jakarta sudah tidak layak huni lagi karena ketersediaan ruang terbuka hijau yang semakin menyusut.

Keberadaan RTH di Jakarta sangatlah mutlak, karena sebagai tulang punggung pembangunan kota dalam mengurangi banjir, menyerap polutan dan menyuplai oksigen. Selain itu, dapat dimanfaatkan juga oleh para pejalan kaki dan pesepeda yang ada di Jakarta . Saat ini indeks RTH Jakarta hanya 6 meter persegi per orang. Ini masih jauh dibanding indeks RTH dunia seluas 11-134 meter persegi per orang. Saat ini kota-kota Asia lain, seperti Shanghai, Singapura, dan Kuala Lumpur, telah mencapai indeks RTH lebih dari 15 meter persegi per orang.

Kementerian Pekerjaan Umum pun terus mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memaksimalkan segala upaya untuk menyediakan RTH 30% dari luas wilayah yang ada. Pembangunan infrastruktur secara masif dengan mengorbankan ruang terbuka hijau akan mengganggu ekosistem kota . "Adanya banjir, kekeringan dan kelangkaan air, pencemaran udara, serta peningkatan iklim mikro menjadi salah satu indikasi kurangnya RTH," kata Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.

Ruang terbuka hijau sebesar 30% adalah amant Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang. Ketiga puluh persen area itu terdiri atas ruang terbuka hijau publik sebesar 20% dan ruang terbuka hijau privat sebesar 10%. Merespon desakan tersebut, pemerintah DKI Jakarta pun sudah lepas tangan lantaran sulitnya mencari ruang untuk menambah RTH. Apalagi jika harus memenuhi standar penyediaan RTH sebanyak 30% dari luas Ibu Kota.

Asal tahu saja, saat ini persentase RTH di Jakarta baru 9,8%. Namun tidak mau lepas tanggung jawab begitu saja, pemerintah daerah (Pemda) DKI Jakarta mensiasatinya dengan mewajibkan setiap pengembang perumahan untuk menyediakan ruang publik. Selain itu, pemda DKI Jakarta pun akan membangun taman Interaktif sebesar 400 hingga 700 meter di daerah padat penduduk untuk interaksi masyarakat, dan olah raga. Hal ini diupayakan karena DKI tidak bisa bebaskan lahan terbuka dalam jumlah yang banyak, sehingga yang diupayakan dalam kuantitas kecil.

Komitmen Green Concept

Terbatasnya ruang terbuka hijau saat ini, menjadi isu dan modal bagi industri properti dalam memasarkan produknya kepada konsumen dengan menjanjikan hunian yang nyaman dan asri. Alhasil, saat ini industri properti sedang mengalami tren ramai-ramai menawarkan hunian yang ramah lingkungan (eco friendly) dengan konsep green property.

Belakangan ini konsep hunian ramah lingkungan alias green living banyak digemari karena memiliki pasar tersendiri. Langkah yang sama juga dilakukan PT Pardika Wisthi Sarana, anak usaha Daniland Group dengan apartemen Woodland Park Residence yang terletak di Kalibata, Jakarta Selatan. Woodland Park Residence merupakan konsep hunian ramah lingkungan (green concept) Woodland Park Residence terlihat dari besarnya ruang terbuka hijau (RTH) yang disediakan. Dari total lahan seluas 3,15 hektar, sebanyak 80% atau 2,3 hektar dijadikan RTH. “Selain menyediakan RTH yang luas, kami juga melakukan environment protection,”kata Presiden Komisaris Daniland Group Emil Arifin.

Menurutnya, konsep ramah lingkungan sudah menjadi komitmen perseroan mewujudkan hunian yang nyaman di tengah kota dan bukan sekedar sikap lantah mengikuti pasar yang sedang tren saat ini. Selain itu, dia juga menjelaskan, konsep green tersebut tidak hanya sekedar membuka ruang terbuka hijau atau memberi nuansa hijau pada proyek properti, tetapi juga bagaimana melakukan hemat energi dalam penggunaan listrik, AC, melakukan daur ulang sampah dan air kotor hingga penggunaan energi terbarukan. Karena jangka panjang green property akan menghemat dalam bidang maintenance. “Untuk menghemat energi, kami juga menggunakan energi terbarukan (renewable energy). Listrik di apartemen akan menggunakan gas, dan panas yang dihasilkan akan digunaan untuk mengaktifkan AC. Sementara, listrik dari PLN hanya akan digunakan sebagai cadangan,” papar Emil.

Kemudian mengenai penggunaan air, lanjut Emil, pengembang menggunakan water efficiency dengan mengolah air dari Sungai Ciliwung di dekat lokasi apartemen menjadi air bersih. Di sisi indoor, pengembang juga memerhatikan kesinambungan lingkungan dengan penggunaan cat non toxic, rendah VOC (Volatile Organic Compound) dan berbahan dasar air (water base). “Di samping itu, kami mengutamakan material lokal dan ramah lingkungan untuk mengurangi jejak emisi karbon,” ujarnya.

Investasi dan Efisiensi

Pembangunan proyek perumahan dengan konsep ramah lingkungan akan menaikkan biaya produksi 10%-20%, sehingga produsen dan konsumen harus mengeluarkan dana lebih besar dibandingkan dengan membeli properti pada proyek konvensional.

Namun hal tersebut adalah bentuk investasi jangka panjang. Karena manfaatnya, biaya perawatan jangka panjang akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya perawatan proyek konvensional, sehingga pada akhirnya menguntungkan konsumen.

Perlu diakui, pembangunan properti dengan konsep eco property akan memberikan imbas lebih panjang berupa efiseinsi kendatipun biaya diawal lebih mahal. Selain itu, manfaat lain selain ekonomi untuk jangka panjang adalah terwuujudnya kehidupan masyarakat atau kota yang sehat dan berkualitas. Bila sudah demikian, kiprah Ciputra dalam industri properti tidak hanya sekedar membangun kota secara fisik tetapi nyata membangun kehidupan masyarakat yang berkualitas.

Kehadiran ruang terbuka hijau dalam hunian kini semakin disadari oleh pengembang sebagai nilai jual. Kebutuhan ruang terbuka hijau merupakan hal yang dicari masyarakat untuk menyeimbangkan gaya hidup di perkotaan nan padat. Kini tidak hanya sekedar rumah saja sebagai kebutuhan primer masyarakat, tetapi adalah rumah yang memiliki ruang terbuka hijau dan bersahabat dengan alam atau saat ini lebih dikenal konsep green property. Green property sudah bukan lagi sekedar bicara soal trend belaka tetapi menjadi kebutuhan pengembang dan masyarakat di tengah isu pemanasan global.

Pengamat properti hijau, Nirwono Joga mengatakan, green property sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan, pengembang telah dan terus mencoba menerapkan delapan kriteria green property, antara lain konsep planning and design, green open space, dan green transportation.

Menjawab Kebutuhan

Emil Arifin juga mengatakan, proyek apartemen Woodland Park Residence merupakan pertama bagi perseroan dengan mengambil banyak pelajaran penting dari pengembang-pengembang apartemen terdahulu, “Kami mendesain proyek ini atas apa yang dibutuhkan masyarakat. Kami harap unit-unit yang kami tawarkan ini benar-benar dibeli orang-orang yang membutuhkan hunian sehat dan hijau di bilangan Jakarta ," tuturnya.

Woodlandpark Residence dapat menjadi solusi bagi pelanggan yang selama ini harus mengalami kepadatan lalu lintas di Jakarta mengingat lokasinya yang strategis dan mudah diakses dari pusat bisnis, terutama wilayah Kuningan, Sudirman, dan Thamrin, serta didukung dengan berbagai sarana transportasi publik seperti feeder bus way dan stasiun kereta api.

Sementara Presiden Direktur PT Pardika Wisthi Sarana Achmad Setiadi mengatakan, Woodland Park Residence menjadi apartemen dengan ruang terbuka hijau yang paling besar di Jakarta . Pasalnya, luas ruang terbuka hijau mencapai 80% dengan menyediakan fasilitas umum dan fasilitas sosial dengan luas sekitar 8.000 meter persegi. Dari sisa area yang boleh dibangun, yaitu 2,3 hektare dan sisanya 20% untuk bangunan apartemen.

Dia juga mengungkapkan, penyediaan ruang terbuka hijau yang luas merupakan keseriusan perseroan untuk melestarikan lingkungan hidup di sekitar Woodland Park Residence, “Kami memilih lanskap natural sebagai salah satu komponen utama Woodland Park Residence. Ruang terbuka hijau yang akan kami miliki terdiri atas makhluk hidup yang sebelumnya sudah ada di area tersebut. Oleh karena itu, kami akan mempersiapkan habitat terbaik bagi satwa burung yang mungkin terganggu saat proses pembangunan seluruh tower,”tandasnya.

Proyek apartemen Woodland Park Residence memiliki lima tower. Empat tower dijual strata title (Tower Cendana, Matoa, Trembesi, dan Mahoni), sementara satu tower untuk serviced apartment. Dari 1200 unit yang tersedia, kata Achmad Setiadi, 40 unit dijadikan sebagai unit SOHO (small office home office), 15 unit untuk ritel area, sementara sisanya strata title.

Di samping itu, Woodland Park Residence juga memiliki unit penthouse seluas 150 m2 dan tujuh unit townhouse. Harga yang ditawarkan untuk unit-unit di proyek ini berkisar Rp260 juta – Rp2,3 miliar. Investasi yang dikucurkan untuk konstruksi Woodland Park Residence sebesar Rp500 miliar.