Pasar Lampu Hemat Energi Masih Dikuasai Produk Impor

Kamis, 27/09/2012

NERACA

Jakarta - Produk lampu hemat energi (LHE) impor masih mendominasi total konsumsi nasional dengan penjualan 190 juta unit. Angka tersebut melonjak 18,7% dibanding periode sama tahun lalu yang sekitar 160 juta unit. Suplai LHE lokal saat ini mencapai 30 juta unit yang diproduksi oleh 15 produsen LHE domestik.

“Meski meningkat 50%, namun jumlah produk lokal masih rendah. Sementara, peredaran produk impor susah dibendung karena didorong konsumsi pasar Indonesia yang sangat tinggi,” kata Ketua Umum Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia (Aperlindo), John Mannopo, di Jakarta, Rabu (26/9).

Dia memperkirakan, pasokan LHE impor hingga akhir tahun 2012 mencapai 250 juta unit atau naik 13,6% dibandingkan pencapaian tahun lalu sebanyak 220 juta unit. “Perusahaan lampu lokal belum mampu memenuhi besarnya pasar lampu nasional yang selalu meningkat setiap tahun. Tahun ini, konsumsi lampu nasional mungkin bisa tumbuh 23% dari 260 juta unit tahun lalu menjadi 320 juta unit. Dari angka itu, perusahaan lampu domestik hanya mampu memenuhi 20 %,” ujar Jhon.

Lebih jauh Jhon menambahkan, pasar lampu di dalam negeri masih besar sehingga produsen lokal didorong memacu produksinya. Selain itu, dia mengharapkan, perusahaan China yang juga sebagai importir agar membangun pabrik di Indonesia. “Mereka jangan mencari enaknya saja dengan mendistribusikan produk dan mengincar pasar Indonesia yang besar," kata dia.

Sebenarnya, kata John, sejumlah perusahaan China menyatakan ketertarikannya menanamkan modal di Indonesia. "Kalau terealisasi, dipastikan mampu memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap bisnis di Indonesia. Perusahaan lampu merupakan industri padat karya sehingga bisa mengurangi pengangguran di Indonesia,” kata John.

Sementara itu,Country President Schneider Electric Indonesia, Riyanto Mashan, mengatakan, Schneider Electric IT Indonesia, yang selama ini bergerak dalam spesialisasi manajemen energi, menawarkan teknologi data center yang mampu memanfaatkan konsumsi listrik secara optimal. “Kami menargetkan optimalisasi konsumsi energi hingga 30%,” kata Riyanto.

Schneider Electric meyakini kualitas manusia merupakan faktor penentu kemakmuran suatu bangsa. Oleh karena itu, Schneider Electric secara aktif melakukan berbagai program yang bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat sekitarnya. Di Indonesia, Schneider Electric kerap mendukung berbagai event yang bertujuan untuk mengembangkan kompetisi SDM baik skala internasional, seperti halnya Asian Mensa Gathering, dan juga program berskala nasional.

Pengembangan SDM

Beberapa kegiatan yang berorientasi terhadap pengembangan SDM di Indonesia antara lain PT Schneider Indonesia Goes to School yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Melalui program link and match ini, Schneider Electric berupaya menjembatani dunia pendidikan dengan dunia kerja dengan cara membuka kelas kelistrikan dengan kurikulum khusus dan perlengkapan produk Schneider Electric bagi siswa-siswa SMK.

Hingga saat ini tercatat 50 siswa SMK pilihan yang sudah mengikuti kurikulum ini. Hasilnya, siswa-siswa tersebut telah mendapat gelar engineer dan dengan cepat terserap lapangan kerja, antara lain bekerja di PT Schneider Indonesia. Program tersebut diharapkan tercipta tenaga kerja yang mahir dan siap pakai.

Schneider Electric juga mendirikan Pusat Pelatihan kelistrikan yang berlokasi di bantul Yogyakarta dengan nama Bantul Electrical Training Center. Pusat pelatihan kelistrikan tersebut dibangun mencermati kebutuhan akan pengetahuan serta keahlian yang baik tentang pemasangan alat-alat elektrikal pasca gempa hebat yang melanda Yogyakarta beberapa tahun lalu.

Bali dipilih sebagai tempat penyelenggaraan karena pulau Bali dinilai telah mendunia. Selain itu, Bali juga sukses menjadi tuan rumah berbagai event internasional. Lebih dari 100 orang anggota Mensa dari 15 negara yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Australia, Jepang, Kanada, Afrika Selatan, Belanda, Jerman, Denmark, Hungaria, Amerika Serikat, Prancis, dan Serbia.

Anggota Mensa adalah orang-orang ber-IQ tinggi 2% dari populasi. Di masa sekarang, produktifitas intelektual jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan produktifitas fisik Karenanya, pengembangan brain-power merupakan solusi paling efektif untuk meningkatkan taraf ekonomi bangsa.

“Berangkat dari keprihatinan untuk menolong masyarakat Indonesia dengan taraf ekonomi rendah, Mensa Indonesia mengundang anggota Mensa Internasional (www.mensa.org). organisasi orang ber-IQ genius, untuk bersama-sama membahas dan merumuskan langkah-Iangkah komprehensif untuk mengangkat taraf ekonomi masyarakat miskin dengan cara memberdayakan brain-power mereka,” ujar Ketua Mensa Indonesia, Sahat Simarmata.