Babak Baru Kasus BUMI, Ketika Joint Venture Tidak Lagi Harmonis

NERACA

Jakarta – Pemberitaan seputar bisnis grup Bakrie selalu saja ada yang menarik untuk di ikuti, bila sebelumnya perusahaan grup Bakrie PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami rugi bersih sebesar US$ 334,111 juta atau setara Rp 3,14 triliun sepanjang semester I-2012, yang kemudian menjadi awal kebangkrutan bisnis Bakrie karena menyeret bisnis lainnya. Kini perusahaan grup Bakrie di sektor tambang tersandung masalah dengan mitranya Bumi Plc.

Kasus ini berawal dari temuan Bumi Plc lembaga manajer investasi London yang juga memiliki 29% saham BUMI mengendus adanya dugaan peyimpangan laporan keuangan yang dilakukan Bumi Resources. Bahkan untuk menyakinkan dugaan tersebut, Bumi Plc membenuk komisi investigasi independent untuk mencari kebenaran tersebut dengan mengkonfirmasi kembali otoritas bursa Inggris dan Indonesia.

Selain itu, kebenaran dugaan penyimpangan keuangan yang dilakukan BUMI makin dipertegas dengan pengunduruan diri Direktur Bumi Plc Ari Hudaya dari jabatannya. Ari sebelumnya pernah menjabat sebagai CEO Bumi Plc sampai Maret 2012 silam.

Hal tersebut diakui, Direktur dan Sekretarsi Korporasi BUMI Dileep Srivastava yang mengatakan, Bapak Ari Hudaya sudah mengundurkan diri dari jabatan direktur non eksekutifnya di Bumi Plc.

Menurut Dileep, Ari sengaja melepas jabatan tersebut untuk lebih fokus membangun bisnis di BUMI, perusahaan tambang grup Bakrie. Saat ini, Ari masih menjabat sebagai Presiden Direktur BUMI, perusahaan yang 29% sahamnya dikuasi Bumi Plc. Asal tahu saja, ketidak harmonisan Grup Bakrie dengan keluarga Rothschild sudah terjadi dari beberapa kasus. Diantaranya soal penempatan direksi hingga pencabutan direksi.

Rontokkan IHSG

Bila sudah demikian, kasus ini akan memberikan dampak negatif bagi perusahaan dan termasuk pemegang saham. Pasanyua, sejak ramainya kabar dugaan penyimpangan dana keuangan yang dilakukan BUMI telah memicu tekanan jual saham-saham grup Bakrie dan berimbas tergerusnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok cukup dalam pada perdagangan Senin awal pekan.

Tidak hanya itu, kondisi ini juga berdampak pada saham bank asal India, Axis Bank yang juga turun di tengah kekhawatiran atas kredit yang diberikan BUMI usai induk usahanya, Bumi Plc melakukan investigasi ke dalam penyimpangan keuangan pada dugaan operasinya di Indonesia.

Menurut pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, melihat dari kasus Bumi Plc yang menurut Willy ‘dihancurkan’ harganya, dengan alasan tuduhan penyelewengan dana, sungguh tidak masuk akal karena setiap perusahan Tbk kalau mau menggunakan dananya harus lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Kata Willy, mengapa saat RUPS para pemegang saham menyetujuinya. Selain itu, menurut dia, jika tidak dibicarakan dalam RUPS, pihak perusahaan bisa mengadakan RUPS Luar Biasa (RUPSLB) untuk meminta pertanggungjawaban, bukan menyanyikannya di media massa. Karena itu, Willy menengarai, adanya tujuan terselubung di balik upaya menghancurkan harga dan menghembuskan issu. “Hal itu bisa jadi hanya untuk mendapatkan harga murah.”ujarnya.

Menurut dia, isu ini tidak akan mempengaruhi kinerja maupun produktivitas perusahaan dan kerap terjadi di bursa saham. Hal tersebut, lanjut dia, tidak berbeda saham PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) yang harganya rontok tapi isunya tidak terbukti dan pada akhirnya PGAS pun rebound balik.

Adapun masalah yang di-blow up sekarang adalah masalah tahun berapa. Dia mempertanyakan, apakah kinerja PT Energi Mega Persada (ENRG), PT Bakrieland Development (ELTY), PT Bumi Resouces Mineral (BRMS), PT Borneo Lumbung Energi (BORN) dan PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) juga harus ikut terpengaruh.

Lepas Saham BUMI

Terkait masalah yang menimpa BUMI, Zulfirman Basir, analis di Monex Investindo Futures merekomendasikan investor yang ingin mencari untung untuk membeli saham BUMI di bawah harga Rp400 per saham, dan langsung melepas saham BUMI ketika harganya naik (sell on strength).

Pasalnya, jika harga BUMI menembus level 610, harga saham ini bisa meluncur turun ke level Rp385 per saham, level terendahnya di 2009. Namun, menurut dia, BUMI akan menguji level Rp500 dulu, sebelum turun tajam.

Sementara Reza Priyambada, analis Trust Securities mengatakan, risiko bagi investor untuk membeli saham bumi pada saat harganya anjlok memiliki risiko tinggi. Jadi, saran dia sebaiknya investor melepasnya, terutama potensi bertambah anjloknya saham BUMI selama investigasi berlangsung masih dimungkinkan akan terjadi. “Kalau tidak berani cut loss, bisa cari acuan dari saham lain untuk menutup kerugian di saham Bakrie,” ucapnya.

Terlebih, kata Reza, saat ini benar-benar tidak ada petunjuk kemana manajemen akan membawa emiten grup Bakrie ini. Apalagi BUMI terlibat masalah utang yang tidak sepele. (lia/bani)

Related posts