Pembangunan 30 SPBG Bakal Rampung Pada Juni 2013

Rabu, 26/09/2012

NERACA

Jakarta - PT Pertamina (Persero) memperkirakan pembangunan 30 stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di wilayah Jabodetabek, Jawa Timur, dan di Palembang untuk mendukung program transportasi beremisi karbon rendah yang dimulai pada Juli 2012 bakal selesai pada Juni 2013.

Direktur Gas Pertamina, Hari Karyuliarto, mengatakan, pada 10 Desember tahun ini, sebagian SPBG sudah bisa beroperasi, sementara sebagian lagi ada yang awal tahun 2013 dan pertengahan 2013. "Yang kita usahakan (secepatnya) betul, ya yang punya kita sendiri yang kita bangun, untuk 10 Desember (2012) sudah mulai beroperasi," kata dia, kemarin.

Pada roadmap-nya tentang pembangunan infrastruktur gas pada tingkal retail, Pertamina akan membangun 21 SPBG di wilayah Jabodetabek, kemudian 5 di Jawa Timur, meliputi Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo, lalu 4 di Palembang, sehingga totalnya 30 SPBG diharapkan sudah bisa beroperasi mulai Juni 2013.

Hari melanjutkan, hambatan proyek ini lebih kepada hal-hal non teknis seperti pembebasan lahan, perijinan di daerah, proses terkait anggaran APBN, serta harga gas yang sekarang tidak kompetitif Rp3.100/LSP, sementara harga BBM bersubsidi Rp4.500/liter. "Kalau procurement dan convertion sih cepat hanya butuh empat bulan, yang lama kan yang non teknis, seperti pembebasan lahan, perijinan, dan birokrasi soal APBN apakah masuk proyek singleyear atau multiyear," jelasnya.

Sementara di sisi lain, harga gas juga belum mencapai tingkat keekonomian. Karena belum mencapai harga keekonomian, maka volumenya juga harus besar, oleh karenanya Pertamina mengusulkan adanya kebijakan yang mengharuskan angkutan umum menggunakan bahan bakar gas. Disparitas harga jual CNG seharusnya berada pada kisaran level 55-65% dari harga bahan bakar minyak bersubsidi.

Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Evita H. Legowo, mengatakan, upaya Pemerintah melakukan program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi Bahan Bakar Gas (BBG) sepertinya akan segera terealisasi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral berharap pembagian alat pengubah bahan bakar (converter kit) akan selesai pada akhir 2012. pembuatan converter kit tersebut diserahkan kepada masing-masing Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) kendaraan untuk menambahkan alat tersebut kepada mesin mobil produksinya.

Sebanyak 14 ribu converter kit tersebut rencananya akan dibagikan kepada angkutan umum di Jakarta. "Namun untuk 1.000 converter kit sudah jadi, dan yang masih dalam tender adalah yang 14 ribu unit. Kalau converter kit yang 1.000 itu untuk kendaraan dinas pemerintah dan sudah efektif dipasang, dan yang 14 ribu mungkin baru selesai akhir 2012," kata dia.

Dia juga mengungkapkan, bahwa telah mendapat anggaran tambahan subsidi untuk Liquid Gas for Vehicle (LGV) yang sudah disetujui DPR, karena harga LGV yang mahal. Penambahan subsidi LGV tersebut ditargetkan akan digelontorkan untuk periode 2012 dan 2013 dengan kuota masing-masing secara berurutan Rp54 miliar dan Rp100 miliar. Dengan demikian pada 2012, LGV yang mendapat subsidi akan sebanyak 36 juta liter dan pada 2013 sekitar 66,6 juta liter.

Menurut Evita, biaya pembelian LGV terlalu berat untuk ditanggung Pertamina secara keseluruhan. Dia mengatakan Kementerian berhasil mendapat tambahan subsidi untuk LGV dengan harga Rp1.500 per liter setara premium (LSP). "Kami sudah berhasil mendapatkan tambahan subsidi untuk LGV dari DPR karena harga LGV lebih mahal," jelasnya.

Sejalan dengan program konversi BBM ke BBG, Pemerintah juga akan membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia. Direktur Gas PT Pertamina Hari Karyuliarto saat ditemui dalam acara yang sama mengatakan pihaknya sedang membangun 5 SPBG induk, 9 SPBG cabang, serta 14 SPBG yang terintegrasi dengan pipa gas dalam kurun waktu pembangunan pada 2012 hingga 2013. "Pemerintah akan memberikan dana sebesar Rp2,1 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pembangunan infrastruktur," jelasnya.

Sejumlah SPBG yang sedang disiapkan berada di beberapa daerah diantaranya di Bumi Serpong Damai, Cilandak, Lebak Bulus, Muara Karang, Senen, Pulogebang, Cibubur, Pulogadung, Margonda, Kalideres, Cililitan, Tangerang dan Bekasi. Sedangkan untuk di luar wilayah Jabodetabek, pemerintah juga membangun SPBG seperti di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo serta empat stasiun di Palembang. Menurut Hari, kendala yang menghambat penggunaan gas antara lain adalah kualitas gas yang masih belum stabil atau mumpuni, kurangnya pengetahuan mengenai peraturan dan aspek keamanan penggunaan dan pengoperasian BBG.

Selain itu harga jual BBG yang sebesar Rp3.100 per liter dinilai kurang berdaya saing dengan harga BBM premium yang Rp4.500 per liter. Kemudian, hal lain yang membuat pengguna kendaraan tidak menggunakan gas sebagai bahan bakarnya adalah biaya operasi tangki BBG yang tinggi dan belum adanya dukungan penuh industri kendaraan atas penggunaan BBG.