Returnnya Dinilai Menarik, Dana Pensiun Bidik Investasi Emas

Rabu, 26/09/2012

NERACA

Jakarta – Meskipun harga emas belum menandakan peluang penguatan, tidak membuat investasi ini ditinggalkan begitu saja. Pasalnya, investasi emas kedepan masih tetap menjanjikan karena tidak tergerus nilai inflasi. Setidaknya alasan inilah yang menjadi pertimbangan Asosiasi Dana Pensiun Indonesia tetap memilih emas sebagai investasi.

Ketua Asosiasi Pensiun Indonesia (ADPI) Djoni Rolindrawan mengatakan pihaknya tengah mengkaji wacana untuk melakukan penyertaan dana pensiun dalam bentuk logam mulia emas, “Saat ini masih berupa wacana, baru akan kami kaji dan kami usulkan ke Bapepam LK," katanya di Jakarta, Selasa (25/9).

Dia mengatakan jika dilihat dari statistiknya dalam kurun waktu lima tahun investasi logam mulia emas telah menghasilkan pendapatan sekitar 20%, meskipun jelas sebagai produk investasi tentunya memilki resiko tertentu. "Nilai "return"-nya jelas lebih menarik, tapi kalau diperhatikan memang kecenderungannya nilai emas akan kembali lagi, hal ini tentunya berbeda dengan investasi di bursa efek (saham) yang lebih fluktuatif akibat situasi global," kata Djonie.

Menurutnya, jika dimungkinkan oleh regulator maka porsi investasi emas kemungkinan akan mencapai 5% dari portofolio investasi dana pensiun, sedangkan saat ini investasi dana pensiun berbentuk logam mulia masih terhambat oleh PMK 199 Tahun 2008.

Kata Djoni, sudah saatnya aturan tersebut direvisi mengingat instrumen investasi yang semakin berkembang dan sudah seharusnya instrumen investasi pun mendukung hal tersebut. Saat ini portofolio investasi dana pensiun tersebar di korporasi 25%, Surat Berharga Negara (SBN)30%, saham 20%, dan deposito sekitar 18%, “Saya belum tahu kapan bisa terealisasi mengingat saat ini masih masa peralihan ke OJK, jadi kemungkinan masih banyak PR yang belum dikerjakan,"ungkapnya.

Sebagai informasi, dalam PMK No. 99 Tahun 2008 tercantum bahwa industri dana pensiun dilaramg untuk berinvestasi emas dengan dasar pemikiran bahwa logam mulia itu kurang produktif dengan potensi pertumbuhan yang minim.

Namun sebelumnya saat harga emas merangkak naik sejak awal 2001, Bapepam LK bersama industri sempat mengkaji resiko dan likuiditas untuk membayar manfaat bagi pensiun. Hal lain yang menjadi pertimbangan wasit pasar modal adalah jenis karat emas yang berbeda, serta harga emas yang cenderung tidak sama di berbagai lokasi di Indonesia.

Masih Konsolidasi

Sementara Head of Research and Analysis PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, harga emas diprediksi masih akan bergerak konsolidasi dan belum memiliki tanda-tanda penguatan kembalimeski masih bertahan di atas support US$ 1.751 per troy ons.“Data survei iklim bisnis Jerman yang dirilis lebih buruk dari ekspektasi memberikan tambahan sentimen negatif bagi instrumen risiko termasuk harga emas,” ujarnya.

Dia menambahkan, pelaku pasar saat ini juga menunggu pidato dari Presiden European Central Bank (bank sentral Eropa) Mario Draghi di Berlin. Menurutnya, pernyataan Draghi terkait situasi Eropa akan menjadi penggerak pasar.

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga emas mengalami tekanan jual menyusul menguatnya dolar AS dan aksi ambil untung setelah logam mulia ini melonjak dalam beberapa sesi sebelumnya. Namun, meski melemah, logam dan khususnya emas masih tetap memiliki daya tarik bagi investor. Emas mendapatkan proyeksi penguatan dan menarik minat para pengelola keuangan serta investor ritel. (lia)