Kemenperin Dorong Produksi Kapal Ukuran Menengah

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan dalam 5 tahun ke depan, industri galangan kapal bisa memproduksi kapal berukuran menengah dengan kapasitas 50.000 hingga 60.000 Deadweight tonnage (DWT).

Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Budi Darmadi memaparkan kebutuhan kapal di dalam negeri semakin meningkat dan pemerintah meminta produsen galangan kapal menambah kapasitas produksinya. “Hingga 2017, industri galangan kapal Indonesia diharapkan mampu membuat kapal berkapasitas 50.000 – 60.000 DWT,” kata dia di Jakarta, Selasa (25/9).

Untuk meningkatkan produksi kapal, menurut Budi, sektor komponen galangan kapal harus meningkatkan produksinya. “Selama ini, industri komponen galangan kapal masih sedikit dan industri komponen memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Jika komponen kapal dapat dipasok dari dalam negeri, akan mengurangi impor komponen dan biaya perawatan kapal akan lebih murah,” paparnya.

Indonesia, lanjut Budi, memiliki 10.500 kapal mulai dari kelas kecil hingga besar. “Dalam 2 tahun kapal-kapal tersebut harus masuk dock (tempat pemeliharaan) dan pelaku usaha galangan kapal bisa manfaatkan komponen dari dalam negeri,” ujarnya.

Tingkatkan Investasi

Budi menambahkan, saat ini pengusaha di sektor komponen galangan kapal masih dalam tahap pembelajaran dan masih dibutuhkan waktu untuk meningkatkan investasi. “Butuh waktu hingga 5 tahun untuk memaksimalkan kinerja sektor komponen perkapalan dan harus ada investasi baru,” tandasnya.

Sebelumnya Budi juga mengatakan bahwa hingga akhir tahun, kapasitas industri galangan kapal nasional diharapkan dapat meningkat sampai dengan 700.000 Dead Weight Tonnes (DWT). Ini diasumsikan dengan semakin pendeknya "delivery time" maupun "docking days". "Kita harapkan kapasitas industri galangan kapal nasional bisa terus tumbuh dan sesuai dengan target pemerintah mencapai 700.000 DWT," ujar Budi.

Kata dia, hingga 2025, pemerintah menetapkan adanya galangan kapal nasional yang memiliki fasilitas produksi berupa ’building berth/graving dock’ yang mampu membangun kapal dan mereparasi kapal atau ’docking repair’ sampai dengan kapasitas 300 ribu DWT untuk memenuhi kebutuhan di dalam maupun luar negeri (world class industry).

Budi memaparkan, meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan industri komponen kapal nasional diharapkan mampu menyuplai kebutuhan komponen kapal dalam negeri. "Pemerintah berharap pusat desain dan rekayasa kapal nasional (PDRKN)/National Ship Design and Engineering Centre (NaSDEC) semakin berkembang dan semakin kuat dalam mendukung industri galangan kapal nasional. Selain itu, industri kapal dalam negeri dapat memproduksi komponen sesuai dengan permintaan pasar," terangnya.

Sedangkan Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA), Carmelita Hartoto, mengatakan selama ini perusahaan galangan kapal di Indonesia sulit berproduksi efisien dan tarifnya masih lebih mahal dibanding perusahaan galangan kapal di negara lain. Bahkan, dukungan dari industri komponen juga masih minim. "INSA akan mengajak sejumlah perusahaan pelayaran asing untuk bermitra dengan perusahaan lokal dalam pendirian industri komponen kapal maupun industri galangan kapal," katanya.

Menurut dia, saat ini keseimbangan kapasitas galangan dengan kuantitas armada kapal masih belum sebanding. "Diharapkan banyak investor yang berminat berinvestasi di sektor galangan kapal karena potensi pasarnya masih sangat besar," tandasnya.

Related posts