Penurunan Produksi Minyak Makin Memprihatinkan

Sumur Baru Tak Ditemukan

Rabu, 26/09/2012

NERACA

Jakarta - Tingkat pengurasan cadangan minyak Indonesia ternyata sangat tinggi, mengakibatkan terjadinya penurunan produksi minyak mentah Indonesia. Dari hari ke hari tantangan yang dihadapi industri hulu minyak dan gas bumi semakin berat, mulai dari tantangan yang merupakan faktor teknis maupun tantangan yang merupakan faktor non teknis. Eksplorasi yang belakangan ini gencar dilakukan di Indonesia bagian timur justru menghasilkan penemuan cadangan-cadangan gas dalam jumlah besar, bukan minyak.

Seperti Tangguh, area deepwater Selat Makassar, Masela, dan terakhir oleh Genting Oil di Bintuni. Melihat kenyataan tersebut maka cadangan terbukti minyak nasional terus menyusut dalam 10 tahun ini dari 4,3 miliar barel menjadi 3,9 miliar barel, sementara cadangan gas masih tetap tinggi, lebih dari 104 triliun kaki kubik.

Wakil Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMigas) J. Widjonarko mengatakan, fakta yang sebenarnya dan bukan rumor adalah penurunan produksi minyak terjadi sejak tahun 1996 sehingga tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa UU 22/2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi merupakan penyebab turunnya produksi minyak nasional, sebab penurunan produksi minyak nasional terjadi sejak belum adanya undang-undang tersebut.

“Sejak tahun 1996. Laju penurunan produksi mencapai 12% hingga 14% per tahun, hal itu diperburuk dengan laju pengurasan yang tinggi dan rendahnya penemuan cadangan baru dimana reserve recoverable ratio hanya 60%. Namun sejak tahun 2008, laju penurunan produksi berhasil ditekan menjadi hanya sebesar 3% hingga 4% per tahun,” ujarnya melalui siaran pers, Selasa (25/9).

Penemuan cadangan minyak yang berukuran cukup besar di Indonesia umumnya terjadi di Indonesia bagian barat. Misalnya lapangan Minas, Duri, dan terakhir Cepu. Pengurasan cadangan Minas sudah dilakukan sejak tahun 1950-an dan mencapai puncaknya tahun 1975 sampai 1976 dengan tingkat produksi di kisaran 250 ribu barel per hari dan menjadi penyumbang terbesar terhadap produksi nasional 1,5 juta barel per hari.

Pengurasan Cadangan

Sejak itu, produksi dari Minas terus menurun dan kini hanya menghasilkan sekitar 70 ribu barel per hari. Penurunan dari Minas ini masih ditutupi dari pengurasan cadangan Duri yang dimulai sekitar tahun 1980-an dengan tingkat produksi sebesar kurang lebih 400 ribu barel per hari dan membuat produksi nasional kembali mencapai puncaknya di tahun 1995- 1996 dengan produksi sebesar 1,6 juta barel per hari.

Selanjutnya, lapangan Duri pun terus menurun produksinya seiring dengan menipisnya jumlah cadangan yang tersisa. Kini, kedua lapangan Minas dan Duri hanya menghasilkan sekitar 360 ribu barel per hari, sementara penemuan lapangan minyak lainnya ukurannya jauh lebih kecil. Mengingat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional yang saat ini sudah diatas 1,2 juta barel per hari dan kemampuan kilang domestik hanya 700 ribu barel per hari, maka sisa kebutuhan BBM masih harus diimpor.

Untuk menghadapi hal tersebut, Widjonarko menegaskan bahwa diperlukan terobosan baru termasuk pembentukan sumber daya manusia (SDM) yang handal, sertai dengan penguasaan teknologi. Pemerintah dalam Nota Keuangan RAPBN 2013 telah mengajukan lifting minyak dan gas dijadikan acuan dalam penyusunan rencana penerimaan Negara mengingat biaya operasi (cost recovery) yang dikeluarkan Pemerintah tidak hanya untuk memprpoduksi minyak semata namun juga biaya untuk memproduksi gas.

Pemerintah mengajukan usulan lifting atau produksi siap jual minyak mentah dan gas Indonesia pada tahun 2013 akan mencapai 2,26 juta barel setara minyak per hari (barrels oil equivalent per day /BOEPD) terdiri dari lifting minyak mentah sebesar 900.000 barel minyak per hari dan lifting gas sebesar 1,36 juta barel setara minyak per hari.