Gemerincing Keuntungan dari Bisnis Cacing

Sabtu, 29/09/2012

Ditengah harga pakan ternak yang merangkak naik, membuat sebagian pengusaha khususnya, ayam, itik atau, ikan, menyikapinya dengan membuat terobosan. Salah satunya dengan membudiyakan cacing tanah.

NERACA

Cacing tanah memang menawarkan sebuah jawaban dalam mengatasi kelangkaan protein hewani untuk unggas. Hewan berkulit lembut, lumbricus terrestris merupakan cacing yang hidup di tanah.

Di Indonesia yang beriklim tropis, cacing tanah dapat berkembang biak sangat pesat dan tersebar di seluruh pelosok nusantara. Peranan cacing tanah diketahui cukup banyak, terutama menjaga keseimbangan lingkungan karena terletak dalam satu lingkaran dengan manusia dan unggas. Cacing tanah mempunyai berbagai manfaat yang dapat membantu untuk kesejahteraan manusia.

Di Kanada dan Amerika, cacing tanah sudah secara langsung dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, misalnya dipergunakan untuk karet tutup toples, sebagai umpan ikan, bahan baku pembuatan kosmetik dan lain-lain. Dengan teknologi yang masih terbatas, pemanfaatan cacing tanah di Indonesia dapat digunakan bagi bahan pakan unggas, seperti itik atau ayam.

Disinilah cacing tanah mendapat tempat. Selain bertubuh lunak yang kaya protein, juga memiliki aroma khas yang sangat disukai oleh ayam dan itik.

Keuntungan Berlipat

Peternak itik di Indonesia umumnya belum menyadari sepenuhnya bahwa cacing tanah merupakan bahan makanan yang sangat baik, walaupun sudah sejak lama mereka berikan pada itik peliharaannya. Kadang mereka hanya tahu cacing merupakan santapan yang paling digemari oleh itiknya.

Sampai saat ini pemanfaatan cacing tanah hanya sepintas saja, padahal pemanfaatannya lebih jauh terutama cacing tanah yang diproses sedikit, akan cukup memberikan harapan dalam penyediaan protein bagi unggas untuk produksi dan reproduksi.

Jenis-jenis yang paling banyak dikembangkan oleh manusia berasal dari famili Megascolicidae dan Lumbricidae dengan genus Lumbricus, Eiseinia, Pheretima, Perionyx, Diplocardi dan Lidrillus.

Beberapa jenis cacing tanah yang kini banyak diternakan antara lain; Pheretima, Periony dan Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan.

Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Biasanya jenis ini kalah bersaing dengan jenis yang lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Namun bila diternakan besar tubuhnya bisa menyamai atau melebihi jenis lain. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung. Cacing tanah jenis Perionyx berbentuk gilik berwarna ungu tua sampai merah kecokelatan.

Cacing jenis Lumbricus Rubellus memiliki keunggulan lebih dibanding kedua jenis lainnya, karena produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan, produksi telur/anakan dan produksi bekas cacing kascing) serta tidak banyak bergerak.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa cacing tanah mempunyai kandungan protein cukup tinggi, yaitu sekitar 72%, yang dapat dikategorikan sebagai protein murni.

Kalau dibandingkan dengan jenis bahan makanan asal hewan lainnya, misalnya ikan teri yang biasanya dipakai dalam campuran ransum unggas, mempunyai kandungan protein protein kasar berkisar antara 58-67% dan bekicot dengan kandungan protein 60,90%, masih jauh lebih rendah dibanding dengan cacing tanah.

Apalagi kalau dibandingkan dengan sumber protein dari bahan tanaman, seperti bungkil kedele, bungkil kelapa dan lain-lain, rata-rata kandungan proteinnya jauh lebih rendah dibanding cacing tanah.

Demikian pula susunan asam amino yang sangat penting bagi unggas, seperti arginin, tryptophan dan tyrosin yang sangat kurang dalam bahan pakan yang lain, pada cacing tanah kandungannya cukup tinggi. Kandungan arginin cacing tanah berkisar 10,7% tryptophan, 4,4% tyrosin, 2,25%.

Oleh karena itu cacing tanah mempunyai potensi yang cukup baik untuk mengganti tepung ikan dalam ransum unggas dan dapat menghemat pemakaian bahan dari biji-bijian sampai 70%.

Walaupun demikian, penggunaan cacing tanah dalam ransum unggas disarankan tidak lebih dari 20% total ransum.

Dalam pasaran, bibit cacing Lumbricus, dihargai Rp 50.000 per kg, sedangkan bibit cacing tiger, sebesar Rp 50.000 per kg, bibit cacing ANC (African NightCrawler), seharga Rp 40.000 per kg, Kokon atau Cocoon (telur cacing) seharga Rp 150 per butir.

Mengingat cacing tanah yang banyak tersebar di dataran nusantara, hal ini sudah sangat menguntungkan karena potensi yang sangat menjanjikan, selain sangat mudah dalam membudidayakan cacing sehingga dapat menekan biaya makanan unggas yang sangat tinggi dipasaran, sehingga keuntungan yang akan diraih dapat lebih tinggi.