Cacing Tanah dan Kekaguman Ratu Cleopatra

Sabtu, 29/09/2012

NERACA

Peranan cacing tanah ini sebenarnya telah diketahui sejak dahulu kala. Seorang ahli Yunani, Aristoteles, banyak menaruh perhatian terhadap cacing tanah. Ia menyebut cacing tanah adalah perutnya bumi.

Dan konon pada tahun 69-30 Sebelum Masehi, ratu cantik Cleopatra yang berkuasa di Mesir melarang bangsa Mesir memindahkan cacing tanah ke luar dari Mesir, bahkan petaninya dilarang menyentuh cacing sebab pada zaman itu cacing tanah dianggap sebagai Dewa Kesuburan.

Ratu yang memiliki hidung yang cantik itu menilai bahwa cacing tanah merupakan hewan yang sangat penting bagi kesuburan tanah mesir. Ia (cacing) kerap membuat lubang yang ditinggalkan di tanah, sehingga meningkatkan drainase tanah.

Cacing-cacing pun mengangkut tanah, mencampur, serta menggumpalkan sejumlah bahan organic yang belum terombak seperti daun dan rumput yang digunakan sebagai makanan. Terlebih kotoran dan lendirnya mampu mengikat partikel-partikel tanah menjadi gumpalan tanah yang stabil terutama pada tanah asli.

Dalam catatan klasik Tiongkok, bahkan cacing tanah disebut tilung atau naga, karena cacing dinilai dapat memberi manfaat sebagai bahan ramuan guna menyembuhkan bermacam penyakit.

Seorang cendekiawan terkenal, Charles Darwin, bahkan telah menghabiskan waktunya selama hampir 40 tahun untuk mengamati kehidupan cacing tanah. la menyebut cacing tanah sebagai mahkluk penentu keindahan alam dan pemikat bumi.

Di Indonesia, manfaat cacing tanah masih sangat terbatas, yaitu sebagai pakan ternak atau ikan. Akan tetapi di negara-negara lain, cacing tanah juga bermanfaat sebagai bahan obat, bahan kosmetik, pengurai sampah dan sebagai makanan manusia.

Lahan pertanian yang mengandung cacing tanah pada umumnya akan lebih subur karena tanah yang bercampur dengan kotoran cacing tanah sudah siap untuk diserap oleh akar tanaman. Aktivitas ini juga menyebabkan bahan organik akan tercampur lebih merata. Kotoran cacing tanah juga kaya akan unsur hara.

Ahli-ahli pertanian di luar negeri dari tahun ke tahun tertarik oleh gerak-gerak cacing tanah. Mereka menyatakan bahwa kadar kimiawi kotoran cacing dan tanah aslinya banyak perbedaannya.

Pada tahun 1941 hasil penelitian T.C. Puh menyatakan, bahwa karena aktivitas cacing tanah membuat unsur N, P, dan K pada tanah dapat meningkat. Unsur-unsur tersebut merupakan unsur pokok bagi tanaman. Tahun 1949 Stockli dalam penelitiannya menjelaskan, bahwa humus dan mikroflora kotoran cacing tanah lebih tinggi dari tanah aslinya.