Cacing Tanah dan Kekaguman Ratu Cleopatra

NERACA

Peranan cacing tanah ini sebenarnya telah diketahui sejak dahulu kala. Seorang ahli Yunani, Aristoteles, banyak menaruh perhatian terhadap cacing tanah. Ia menyebut cacing tanah adalah perutnya bumi.

Dan konon pada tahun 69-30 Sebelum Masehi, ratu cantik Cleopatra yang berkuasa di Mesir melarang bangsa Mesir memindahkan cacing tanah ke luar dari Mesir, bahkan petaninya dilarang menyentuh cacing sebab pada zaman itu cacing tanah dianggap sebagai Dewa Kesuburan.

Ratu yang memiliki hidung yang cantik itu menilai bahwa cacing tanah merupakan hewan yang sangat penting bagi kesuburan tanah mesir. Ia (cacing) kerap membuat lubang yang ditinggalkan di tanah, sehingga meningkatkan drainase tanah.

Cacing-cacing pun mengangkut tanah, mencampur, serta menggumpalkan sejumlah bahan organic yang belum terombak seperti daun dan rumput yang digunakan sebagai makanan. Terlebih kotoran dan lendirnya mampu mengikat partikel-partikel tanah menjadi gumpalan tanah yang stabil terutama pada tanah asli.

Dalam catatan klasik Tiongkok, bahkan cacing tanah disebut tilung atau naga, karena cacing dinilai dapat memberi manfaat sebagai bahan ramuan guna menyembuhkan bermacam penyakit.

Seorang cendekiawan terkenal, Charles Darwin, bahkan telah menghabiskan waktunya selama hampir 40 tahun untuk mengamati kehidupan cacing tanah. la menyebut cacing tanah sebagai mahkluk penentu keindahan alam dan pemikat bumi.

Di Indonesia, manfaat cacing tanah masih sangat terbatas, yaitu sebagai pakan ternak atau ikan. Akan tetapi di negara-negara lain, cacing tanah juga bermanfaat sebagai bahan obat, bahan kosmetik, pengurai sampah dan sebagai makanan manusia.

Lahan pertanian yang mengandung cacing tanah pada umumnya akan lebih subur karena tanah yang bercampur dengan kotoran cacing tanah sudah siap untuk diserap oleh akar tanaman. Aktivitas ini juga menyebabkan bahan organik akan tercampur lebih merata. Kotoran cacing tanah juga kaya akan unsur hara.

Ahli-ahli pertanian di luar negeri dari tahun ke tahun tertarik oleh gerak-gerak cacing tanah. Mereka menyatakan bahwa kadar kimiawi kotoran cacing dan tanah aslinya banyak perbedaannya.

Pada tahun 1941 hasil penelitian T.C. Puh menyatakan, bahwa karena aktivitas cacing tanah membuat unsur N, P, dan K pada tanah dapat meningkat. Unsur-unsur tersebut merupakan unsur pokok bagi tanaman. Tahun 1949 Stockli dalam penelitiannya menjelaskan, bahwa humus dan mikroflora kotoran cacing tanah lebih tinggi dari tanah aslinya.

BERITA TERKAIT

Tindak Lanjut KPK dan Kemendes?

Warga Kabupaten Cirebon pernah melaporkan indikasi penyelewengan keuangan dana desa tahun anggaran 2015/2016 di Desa Wanasaba Kidul, Kec. Talun, Kabupaten…

Pemerintah dan DPR Diminta Ubah Ketentuan Defisit APBN

      NERACA   Jakarta - Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah menyarankan pemerintah dan DPR mengubah ketentuan…

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA MENINGKAT - BPS: NPI Februari dan Maret Alami Surplus

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) mengalami surplus US$ 0,54 miliar pada Maret 2019. Surplus ini berasal…

BERITA LAINNYA DI PELUANG USAHA

Tahun 2019, Pemerintah Targetkan 8 Juta UMKM Aplikasikan Tekhnologi

Pemanfaatan teknologi digital untuk bisnis, khususnya skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sudah menjadi sebuah keharusan. Sebab itu, upaya…

Pesatnya Perkembangan Pasar Modern dan Digitalisasi, Sarinah Tetap Bina UMKM

BUMN ritel PT Sarinah (Persero) menyatakan yakin bisa tetap eksis di tengah pesatnya perkembangan dunia digital. Untuk itu, Sarinah tetap…

Pertemuan IMF –WB Momentun Perkenalkan Produk UMKM Nasional Dikancah International

Pertemuan tahunan IMF – World Bank (WB)  yang berlangsung di Nusa Bali harus bisa menjadi momentum memperkenalkan produk  usaha mikro,…