Dipertanyakan, Proyeksi Indeks Saham Tembus 5.000

EMITEN TIDAK BERKUALITAS DAN PENGAWASAN MINIM

Selasa, 25/09/2012

Jakarta - Melihat pertumbuhan makro ekonomi yang stabil dan masih tingginya imbal hasil (yield) di pasar modal Indonesia diprediksi membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat menembus level 5.000. Saat ini, rata-rata (average) pertumbuhan IHSG berkisar 20%-25%. Tak ayal, angka 5.000 masih sangat mungkin untuk dicapai. Namun praktisi menilai kondisi pasar cenderung stagnan, dan pertambahan emiten tidak lah signifikan.

NERACA

Menurut Head of Indonesia Equity Research Citi Securities, Ferry Wong, hingga akhir 2012 dirinya memproyeksikan IHSG dapat menyentuh level 4.450. “Dengan melihat pertumbuhan pasar yang potensial, atau tumbuh sekitar 18% dari setiap sektor. Maka, outlook potensial upside kami memprediksi tahun depan IHSG tembus 5.000,” ujar dia kepada Neraca, di Jakarta, Senin (24/9).

Selain itu, pencapaian IHSG di angka 5.000 pada 2013 tersebut diyakini bisa dilihat dari beberapa indikator, seperti peluang bisnis yang cukup besar, derasnya investasi yang masuk ke Indonesia, permintaan domestik serta daya beli masyarakat cukup tinggi.

Menanggapi pernyataan tersebut, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Isakayoga justru mempertanyakan prediksi itu, beserta urgensinya. Pasalnya, hingga saat ini pertambahan emiten yang ada tidak terlalu signifikan dan cenderung membuat pasar tidak bergerak atau stagnan.

Tak hanya itu saja. Dia menegaskan, tidak ada faktor yang bisa menentukan IHSG akan berada di kisaran angka berapa, terutama pada 2013 mendatang. “Karena semua itu tergantung pada kondisi pasar regional dan global. Mau menyebut (indeks) di level 5.500 atau 6.000 pun bisa saja toh. Tidak mungkin itu tidak tercapai, dan semua bisa terjadi,” kata Isakayoga, kemarin.

Dia juga menyatakan, prediksi itu tidak benar jika saja jumlah emiten yang go public bagus, dan otomatis hal itu akan mendongkrak IHSG. Namun faktanya, saat ini belum ada perubahan dalam pertumbuhan emiten. “Daripada mengeluarkan prediksi, alangkah baiknya berbicara bagaimana pertumbuhan emiten sesuai target,” jelasnya.

Lebih lanjut Isakayoga mendorong agar Bursa Efek Indonesia (BEI) mesti kreatif, sehingga mampu menarik emiten-emiten besar (bluechips) untuk mereka mau listing di pasar modal. Dengan begitu, IHSG akan naik jika semua pertumbuhan emiten sudah berjalan. “Dan jangan lupa. Kita juga harus mencari cara bagaimana perusahaan BUMN itu bisa IPO,” tukas dia.

Pengawasan Ketat

Sementara dewan pakar Masyarakat Investor Sekuritas Seluruh Indonesia (MISSI), Johannes Sutikno, menilai masih sulit untuk memprediksikan adanya kenaikan investor secara signifikan. Beberapa hal yang menjadi hambatan, antara lain, pengawasan dan infrastruktur yang masih kurang.

“Pemisahan rekening dana investor (RDI) memang sudah ada, tapi sistem untuk memudahkan transaksinya belum,” ujarnya kemarin. Penerapan pemisahan RDI dengan rekening perusahaan sekuritas, kata dia, belum cukup untuk menarik investor.

Kemudian yang terpenting adalah kesadaran investor dan perusahaan sekuritas terhadap masalah ini juga masih rendah. Hal tersebut dibuktikan dengan kecilnya dana RDI yang sudah dipisahkan dengan rekening perusahaan sekuritas. Kata Johannes, sejauh ini konsep untuk memajukan pasar modal, utamanya, perlindungan terhadap investor memang sudah bagus.

Namun diakui, aplikasinya memang tidak mudah. Oleh karena itu, untuk meyakinkan investor sehingga investasi bisa meningkat, hal yang terpenting yang mesti dijalankan adalah pengawasan ketat, dan bukan memikirkan peringkat (rating).

“Ketika emiten mencatatkan sahamnya di pasar bursa memang dalam kondisi yang bagus, tapi dalam perjalanan tetap dibutuhkan pengawasan, jangan sampai uang investor dibawa lari oleh manajemen emiten. Ini yang terkadang menjadi kekhawatiran investor, terlebih investor pemula,” ungkap Johannes.

Dia pun memberi contoh kasus yang sempat menggegerkan pasar modal Indonesia, antara lain penyelewengan dana nasabah PT Optima Capital Securities. Diketahui, kerugian nasabah dalam kasus ini ditaksir mencapai Rp700 miliar, yang terdiri atas kerugian di Optima Securities Rp300 miliar dan piutang macet nasabah di PT Optima Kharya Capital Management sekitar Rp400 miliar.

“Dampaknya kan, ratusan nasabah dananya terkatung- katung lebih dari setahun. Karena itu, di samping pengawasan, bursa juga perlu mengapresiasi pelaku pasar, serta sosialisasi yang tepat sasaran. Tujuannya supaya investor yakin, aman, dan nyaman berinvestasi,” ulas Johannes.

Masih Diminati Asing

Di tempat terpisah, Kepala Eksekutif Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nurhaida, menegaskan fundamental Indonesia yang saat ini dinilai baik, di mana pada pekan kemarin IHSG ditutup di level 4224, 62 dengan besaran nilai capital market sebesar Rp4.010 triliun, dan performa market yang tumbuh sebesar 10, 35%.

“Fundamental ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang baik,” ungkapnya. Selain itu, mantan Ketua Bapepam-LK ini menunjukkan alasan mengapa IHSG bakal menembus angka 5.000 di 2013. Cadangan devisa negara per 31 Agustus 2012 sebesar US$108,99 miliar, nilai tukar rupiah dan IHSG per 21 September masing-masing Rp9.558 per dolar AS serta di level 4224,62 dengan market cap Rp4010 triliun.

“Jika mengacu pada likuiditas transaksi BEI, terdapat kestabilan di kisaran Rp4 triliun dengan frekuensi transaksi sekitar 105 ribu kali transaksi per hari,” tambahnya. Hingga 21 September 2012, posisi investor asing berada pada posisi nett buy di pasar Indonesia, yaitu Rp15,15 triliun. Hal ini, kata Nurhaida, menunjukkan pasar modal Indonesia masih menarik bagi pemodal asing dan capital inflow dapat mengurangi defisit pada neraca pembayaran Indonesia. lia/ahmad/bani