Wujudkan Rumah Impian Lewat "KPR Ramah"

KPR BII Floating Rate

Selasa, 25/09/2012

NERACA

Jakarta – Kebutuhan rumah di Indonesia saat ini mengalami peningkatan tiap tahunnya seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Berdasarkan hitungan Real Estate Indonesia (REI), total kebutuhan rumah per tahun bisa mencapai 2,6 juta didorong oleh pertumbuhan penduduk, perbaikan rumah rusak dan backlog atau kekurangan rumah. Sementara versi pemerintah terdapat 13 juta penduduk Indonesia masih belum memiliki rumah tinggal, dan sebanyak 4 juta rumah tidak layak huni.

Merespon begitu besarnya kebutuhan rumah bagi masyarakat Indonesia , membuat pemerintah kewalahan untuk mengentaskan permasalahan tersebut. Saat ini pemerintah melalui Kementerian Perumahan Rakyat terus mengejar pembangunan rumah dengan menargetkan sekitar 500 ribu unit tiap tahunnya. Sehingga dalam tiga tahun bisa mencapai 1,5 juta unit rumah.

Rumah sebagai kebutuhan primer, bagi sebagian masyarakat masih dirasakan berat dan sulit dijangkau lantaran harganya tiap tahun selalu naik. Alhasil mereka yang berpenghasilan rendah atau terbatas mungkin butuh waktu lama menabung untuk memiliki rumah idaman.

Kini kehadiran industri perbankan dalam memberikan pelayanan pembiayaan perumahan melalui kredit pemilikan rumah (KPR), menjadi solusi dan membantu masyarakat mewujudkan rumah idaman. Bagi anggota keluarga baru atau pasangan muda akan lebih memilih menggunakan fasilitas KPR perbankan untuk memenuhi kebutuhan baru akan tempat tinggal. Alasannya, dengan menggunakan KPR tidak perlu dana besar untuk memiliki rumah dan bisa langsung ditempati tanpa harus menunggu KPR lunas.

Cermat Memilih KPR

Saat memutuskan akan membeli rumah, setiap orang pastinya memiliki berbagai pertimbangan yang berbeda, ada yang ingin memiliki rumah yang indah, asri, nyaman dan pastinya lokasinya berada di dalam kota , tidak jauh dari tempat berkerja atau beraktifitas. Ada juga yang ingin membeli rumah indah, asri, dan berlokasi agak diluar wilayah perkotaan sehingga bisa mendapatkan kondisi daerah yang masih alami.

Tentunya, setiap pilihan itu punya konsekuensinya masing-masing, jika ingin hunian didalam kota pastinya harga rumahnya lebih mahal dibanding rumah yang berada dipinggiran atau diluar kota . Sementara bagi yang membeli rumah dipinggiran atau diluar kota , harus mengeluarkan biaya transportasi lebih untuk pulang dan pergi dari rumah ketempat bekerja. Namun yang terpenting, dimanapun rumah yang akan di pilih sebaiknya patut memperhitungkan secara cermat dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan dan termasuk memilih fasilitas KPR.

Namun ada baiknya sebelum mengajukan KPR, nasabah diminta untuk jeli mecari tahu segala hal atau seluk-beluk proses pembiayaan rumah dengan fasilitas KPR. Karena kurangnya pengetahuan akan fasilitas KPR ini akan berpotensi mnenghadirkan masalah dikemudian hari. Nasabah diminta untuk teliti berapa uang muka yang mesti dibayar, lama cicilan dan berapa besar cicilan yang mesti dibayar setiap bulannya. Hal ini sangat beralasan, lantaran banyak nasabah tercekik karena bunga KPR selalu naik tiap bulannya dan berdampak kesulitan nasabah membayar cicilan. Alhasil, alih-alih punya rumah idaman malah sebaliknya terjerat utang bejibun.

Berebut Pasar KPR

Saat ini banyak industri perbankan menawarkan fasilitas KPR dengan iming-iming bunga rendah, proses cepat hingga penawaran undian. Apa yang ditawarkan perbankan sangat beralasan untuk merebut nasabah. Pasalnya, bisnis KPR bagi idustri perbankan cukup menjanjikan selama rumah masih dicari orang dan itu berarti peluang penyaluran kredit atau pembiayaan perumahan masih terbuka lebar.

Tak ayal, persaingan untuk merebut pasar kredit KPR semakin sengit meskipun Bank Indonesia (BI) belum lama ini menerapkan aturan baru loan to value (LTV). Tercatat pada semester I tahun ini, KPR di sejumlah bank tercatat mendominasi pertumbuhan kredit konsumer. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk melalui kredit BNI Griya mencatatkan pertumbuhan kredit mencapai 46,7% menjadi Rp21,6 triliun atau merupakan penopang terbesar dari pertumbuhan kredit konsumer. Realisasi tersebut sudah melampaui realisasi KPR sepanjang 2011 sebesar Rp18 triliun.

Untuk produk KPR, BNI saat ini memiliki BNI Griya, BNI Griya Multiguna, dan BNI Griya Idaman. BNI Griya Idaman merupakan pembiayaan perumahan bekerja sama dengan Real Estat Indonesia (REI) untuk melayani nasabah yang tidak mendapatkan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) dari Kemenpera.

BNI menargetkan bisa membiayai 31 ribu unit rumah melalui program FLPP senilai total Rp2 triliun. Di lain pihak, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sepanjang semester I tahun ini juga mencatatkan pertumbuhan signifikan untuk kredit konsumer sebesar 50% menjadi Rp60 triliun. Pertumbuhan itu didorong oleh pertumbuhan portofolio KPR 73,5% menjadi Rp36,5 triliun dibanding semester I - 2011. "BCA terdepan dalam penyaluran KPR setelah meluncurkan KPR dengan suku bunga tetap 8% untuk jangka waktu 55 bulan pada Februari 2012," kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.

Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk hingga semester I- 2012 mencatatkan outstanding pertumbuhan kredit pemilikan rumah menjadi Rp20,11 triliun dari Rp15,23 triliun pada semester I tahun lalu. Sedangkan selama enam bulan pertama tahun ini, Bank Mandiri telah menyalurkan kredit untuk pembelian rumah sebesar Rp2,33 triliun.

Tidak mau kalah dengan pesaingnya, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga mencatatkan porsi pembiayaan pada kredit perumahan masih mendominasi dengan share 86,43% dari total kredit yang disalurkan perseroan selama semester 1 2012 sebesar Rp 72,096 triliun. Sementara sisanya sebesar 13,57% disalurkan untuk pembiayaan kredit non perumahan.

Lalu bagaimana dengan PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII). Rupanya perseroan tidak mengubah target pertumbuhan kredit yang dipatok di level 20-25% pada 2012. Perseroan tetap yakin bisa mencapai target pertumbuhan minimal 20% dari Rp67,2 triliun pada akhir 2011 menjadi Rp80,64 triliun pada akhir tahun ini, “Semester dua kita tidak ada perubahan target,”kata Direktur BII Rahardja Alimhamzah.

Selama enam bulan pertama tahun ini, perseroan mencatat penyaluran kredit sebesar Rp73,5 triliun di akhir Juni 2012, meningkat 24% bila dibanding posisi akhir Juni tahun lalu sebesar Rp59,5 triliun. Bahkan guna mengusai pasar, perseroan terus melakukan inovasi produk KPR.

Tawarkan Bunga Rendah

Merespon banyaknya keluhan yang dirasakan nasabah KPR soal melambung tingginya bunga KPR, PT Bank Internasional Indonesia Tbk membaca peluang dengan melengkapi kelemahan produk KPR yang ada. Bila sebelumnya, BII meluncurkan fasilitas baru KPR bebas bunga, kini perseroan lebih berani lagi dengan menawarkan produk KPR dengan bunga rendah berupa produk KPR Floating Rate.

Kata Direktur Perbankan Konsumer BII Stephen Liestyo, produk yang teranyar diluncurkan ini akan menjadikan solusi pembiayaan alternatif bagi nasabah dalam mengakses produk KPR. Pasalnya, BII KPR Floating Rate adalah program KPR yang memungkinkan nasabah mendapatkan suku bunga floating terendah, yakni BI Rate + 3,5%, sejak pencairan kredit hingga jangka waktu kredit berakhir. “Sebagai salah satu bank yang memiliki produk dan program di bidang KPR, kami kembali melakukan inovasi melalui BII KPR Floating Rate,”ujarnya.

Diharapkan dengan produk BII KPR Floating Rate, nasabah tidak perlu lagi khawatir kenaikan bunga KPR yang terus naik tanpa alasan yang jelas. Karena melalui program ini, nasabah dapat memantau pergerakan suku bunga acuan bank sentral secara transparan sehingga dapat memastikan pergerakan suku bunga KPR-nya. Keuntungan lain, nasabah juga akan mendapatkan manfaat berupa bebas penalti jika hendak melakukan pelunasan lebih awal dari masa kredit, mendapatkan hadiah asuransi jiwa dan kesehatan untuk tahun pertama serta bebas iuran tahunan BII Kartu Kredit selama masa cicilan KPR berlangsung.

Asal tahu saja, BII KPR Floating Rate merupakan fasilitas yang dikembangkan untuk mendukung pertumbuhan perbankan konsumer. Dimana BII berhasil mencatat pertumbuhan kredit konsumer sebesar 16% (y-o-y) hingga Rp 22 triliun per 30 Juni 2012 dan kredit konsumer memberikan kontribusi sebesar 30% dari total kredit BII.

Meskipun program ini hanya berlaku hingga Desember 2012 mendatang, Stephen Liestyo menyakini akan mendapakan antusiasme yang besar dari masyarakat. Pasalnya, program floating rate ini memberikan tambahan pilihan kepada nasabah, selain suku bunga fixed dalam periode tertentu yang selama ini ditawarkan. Selain itu, BII KPR Floating Rate tentunya dapat menjadi solusi pembiayaan alternatif bagi nasabah dalam mengakses produk KPR secara lebih efektif dan efisien dan dapat memberikan nilai tambah berupa manfaat lebih optimal bagi nasabah.

Bukan Cuma itu, fasilitas "BII KPR Floating Rate" juga dapat digunakan untuk pembiayaan pembelian rumah, apartemen, kaveling siap bangun, dan ruko/rukan. Program ini juga dapat digunakan untuk keperluan refinancing atau kredit multiguna dengan jaminan rumah, apartemen dan ruko.

Adapun jangka waktu pemilikan rumah maksimal 15 tahun, apartemen dan ruko/rukan maksimal 10 tahun serta kaveling siap bangun maksimal 5 tahun. Sedangkan refinancing maksimal 10 tahun. Sementara itu, besarnya nilai pembiayaan rumah, apartemen, kaveling siap bangun dan ruko/rukan yang dapat dimanfaatkan nasabah berkisar dari Rp 100 juta hingga Rp 5 miliar. Sedangkan untuk refinancing berkisar dari Rp 100 juta hingga Rp 2,5 miliar. (bani)