Krisis Ekonomi Berpotensi Terulang Kembali

Selasa, 25/09/2012

NERACA

Jakarta--Krisis ekonomi global tak tertutup kemungkinan akan terulang kembali tahun-tahun mendatang. Sehingga siapapun pemimpinnya harus belajar sejarah dari pengalaman menangani krisis agar tidak terjadi terlalu parah. “Pasti akan datang krisis lagi dan tidak tahu kapan akan datang. Untuk itu perlu belajar dari sejarah dan harus siap menangani agar tidak terlalu berpengaruh di dalam negeri," kata Wapres Boediono di Istana Wapres Jakarta, Senin.

Dikatakan Wapres, Indonesia sudah alami krisis pada 1997-1998 dimana saat itu situasi ekonomi benar-benar alami kesulitan. Sehingga banyak bank yang tutup dan sejumlah masyarakat mengambil uang di bank dan membawa ke luar negeri.

Akibatnya, kata Wapres, saat itu bank banyak yang tutup karena dana yang ada sudah diambil oleh nasabahnya untuk diselamatkan. "Saat itu pemerintah mengeluarkan ketentuan 'blanket guarantee' yaitu menjamin uang masyarakat yang ada di bank sekalipun banknya sudah tutup. Hal itu ternyata mampu memberikan dampak positif yaitu masih bisa mengamankan dana di sejumlah bank," tambahnya

Belajar dari pengalaman krisis saat itu, kata Boediono, saat terjadi krisis pada 1998 pemerintah sudah bisa mengantisipasi datangnya krisis sehingga Indonesia saat itu tidak terlalu berdampak saat krisis datang. Yang pasti krisis akan datang lagi tapi tidak tahu kapan datangnya," jelasnya.

Ditempat terpisah, Pengamat ekonomi Ruly Nova mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6,3 % pada semester I 2012 mendorong masyarakat menginvestasikan dananya dalam bentuk emas atau logam mulia. "Ekonomi Indonesia yang masih tumbuh akan mendorong masyarakat berinvestasi dalam bentuk emas dibanding ke bentuk lain," kata Ruly di Jakarta, Senin.

Dikatakan Rully, investasi dalam bentuk mata uang yang cenderung bergerak tidak pasti, mendorong investor mencari tempat lain untuk menjaga nilai asetnya.

"Emas masih menjadi 'safe haven' bagi investor untuk menjaga nilai dibanding tempat lain yang lebih berisiko," ucap ekonom Bank Himpunan Saudara itu.

Ruly juga mengatakan, harga emas masih mempunyai ruang peningkatan, hal itu juga dipicu dari dampak the Fed yang mengeluarkan kebijakan pelonggaran moneter atau "quantitative easy (QE)" untuk meningkatkan perekonomian AS. "Kebijakan QE itu mendorong investor berburu emas sehingga harganya meningkat. Ketika bank sentral mengkoordinasikan langkah mereka dalam mencetak lebih banyak uang dan kebijakan stimulus, maka akan meningkatkan nilai untuk emas," paparnya

Sementara itu pada pengumuman harga emas awal pekan ini di Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian (UBPP) Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk ditetapkan sebesar Rp584.200 ribu per gram. Sedangkan, harga emas batangan ukuran lima gram dan 10 gram masing-masing senilai Rp2,771 juta dan Rp5,502 juta. Terpantau, harga emas dunia pada Senin ini tertekan nilainya sebesar 13,30 poin (0,75 %) ke posisi 1.764,70 dolar AS per ons dibanding hari sebelumnya. **cahyo