Digugat Pailit, Telkomsel Masih Dinilai Stabil Oleh Fitch Rating

Selasa, 25/09/2012

NERACA

Jakarta– Gugatan pailit PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) oleh mitra kerjanya, rupaya belum mempengaruhi rating perseroan. Hal tersebut terlihat dari peringkat yang diberikan Fitch Ratings memberikan prospek stabil.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin. Disebutkan lembaga pemeringkat Fitch Rating menegaskan peringkat jangka panjang mata uang asing dan mata uang lokal issuer default rating (IDR) Telkomsel di ‘BBB’ dan ‘BBB+’ secara berurutan.

Selain itu, peringkat nasional jangka panjang juga ditegaskan di ‘AAA(idn)’ dan peringkat surat hutang tanpa jaminan mata uang asing ditegaskan di ‘BBB’. Prospek adalah Stabil. Fitch juga menyatakan, penegasan ini menidaklanjuti keputusan dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memailitkan Telkomsel atas gugatan dari PT Prima Jaya Informatika (Prima Jaya).

Fitch berpendapat jumlah yang dipersengketakan tidak signifikan bila dibandingkan dengan kapasitas keuangan Telkomsel. Fitch juga memperkirakan bank-bank kreditur tidak akan mengambil tindakan apapun sementara Telkomsel akan mengajukan kasasi terhadap keputusan pengadilan.

Fith mencatat bahwa tuntutan kepailitan bisa saja membatasi fleksibilitas operasional dari perusahaan. Tetapi, Fitch berpendapat bahwa masalah ini akan dapat diselesaikan tanpa menggangu profil operasional dan keuangan perusahaan.

Sebagai informasi, pengadilan memutuskan Telkomsel telah gagar sebesar Rp 5.3 miliar kepada Prima Jaya. Pada 2011, Prima Jaya menandatangani kesepakatan dengan Telkomsel untuk mendistribusikan kartu telephone dan SIM cards untuk dua tahun. Kemudian, Telkomsel memutuskan perjanjian secara sepihak pada Juni 2012, menghentikan pengiriman kartu yang menyebabkan kerugian.

Telkomsel adalah operator mobile utama di Indonesia dengan 117 juta pelanggan dan juga salah satu perusahaan telekomunikasi terkuat di Asia dengan profil kredit yang konservatif. Perusahaan mencatatkan EBITDA Rp 48.7 trilyun atau setara US$ 5.6 milyar dan pendapatan Rp 27.5 trilyun atau setara (US$ 3.1 milyar) pada 2011.

Pada akhir Desember 2011, Telkomsel memiliki dana kas sebesar Rp 4.2 trilyun (US$ 470 juta) kas. Telkomsel 65% dimiliki oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia. Singapore Telecommunications Limited (SingTel) yang juga mayoritas dimiliki oleh pemerintah Singapura (‘AAA’/Stable), memiliki saham 35% minoritas di Telkomsel. (bani)