Digugat Pailit, Telkomsel Masih Dinilai Stabil Oleh Fitch Rating

NERACA

Jakarta– Gugatan pailit PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) oleh mitra kerjanya, rupaya belum mempengaruhi rating perseroan. Hal tersebut terlihat dari peringkat yang diberikan Fitch Ratings memberikan prospek stabil.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin. Disebutkan lembaga pemeringkat Fitch Rating menegaskan peringkat jangka panjang mata uang asing dan mata uang lokal issuer default rating (IDR) Telkomsel di ‘BBB’ dan ‘BBB+’ secara berurutan.

Selain itu, peringkat nasional jangka panjang juga ditegaskan di ‘AAA(idn)’ dan peringkat surat hutang tanpa jaminan mata uang asing ditegaskan di ‘BBB’. Prospek adalah Stabil. Fitch juga menyatakan, penegasan ini menidaklanjuti keputusan dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memailitkan Telkomsel atas gugatan dari PT Prima Jaya Informatika (Prima Jaya).

Fitch berpendapat jumlah yang dipersengketakan tidak signifikan bila dibandingkan dengan kapasitas keuangan Telkomsel. Fitch juga memperkirakan bank-bank kreditur tidak akan mengambil tindakan apapun sementara Telkomsel akan mengajukan kasasi terhadap keputusan pengadilan.

Fith mencatat bahwa tuntutan kepailitan bisa saja membatasi fleksibilitas operasional dari perusahaan. Tetapi, Fitch berpendapat bahwa masalah ini akan dapat diselesaikan tanpa menggangu profil operasional dan keuangan perusahaan.

Sebagai informasi, pengadilan memutuskan Telkomsel telah gagar sebesar Rp 5.3 miliar kepada Prima Jaya. Pada 2011, Prima Jaya menandatangani kesepakatan dengan Telkomsel untuk mendistribusikan kartu telephone dan SIM cards untuk dua tahun. Kemudian, Telkomsel memutuskan perjanjian secara sepihak pada Juni 2012, menghentikan pengiriman kartu yang menyebabkan kerugian.

Telkomsel adalah operator mobile utama di Indonesia dengan 117 juta pelanggan dan juga salah satu perusahaan telekomunikasi terkuat di Asia dengan profil kredit yang konservatif. Perusahaan mencatatkan EBITDA Rp 48.7 trilyun atau setara US$ 5.6 milyar dan pendapatan Rp 27.5 trilyun atau setara (US$ 3.1 milyar) pada 2011.

Pada akhir Desember 2011, Telkomsel memiliki dana kas sebesar Rp 4.2 trilyun (US$ 470 juta) kas. Telkomsel 65% dimiliki oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia. Singapore Telecommunications Limited (SingTel) yang juga mayoritas dimiliki oleh pemerintah Singapura (‘AAA’/Stable), memiliki saham 35% minoritas di Telkomsel. (bani)

BERITA TERKAIT

Revolusi Mental Menjungkirbalikkan Akal - Oleh : EdyMulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Pekan silam atmosfir media kita, untuk kesekian kalinya, kembali disesaki isu-isu tak bermutu. Ada Walikota Semarang  Hendrar Prihadi yang bikin…

Sebanyak 43 Ribu Koperasi Dibubarkan Oleh Kemenkop UKM

Sebanyak 43 Ribu Koperasi Dibubarkan Oleh Kemenkop UKM NERACA Sukabumi - Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) telah membubarkan…

Sikapi Rekomendasi Credit Suisse - Dirut BEI Masih Optimis Pasar Tumbuh Positif

NERACA Jakarta – Di saat banyaknya pelaku pasar menuai kekhawatiran dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China terus…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Fajar Surya Wisesa Melesat 136,1%

Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,405 triliun atau naik 136,1% dibanding periode…

Lagi, Comforta Raih Top Brand Award

Di awal tahun 2019 ini, Comforta Spring Bed kembali meraih penghargaan Top Brand Award. Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin,…

BPD Bank Kalsel Rencanakan IPO di 2020

Bila tidak ada aral melintang, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalimantan Selatan atau Bank Kalsel rencanakan melakukan penawaran umum saham perdana…